intens.news
Memberi Informasi Bukan Sekedar Berita

10 Fakta Jembatan Ampera di Palembang yang Perlu Kamu Tahu

0 43

Intens.news, PALEMBANG – Siapa yang tidak mengenal dengan Jembatan Ampera di Palembang. Jembatan yang memiliki pesona sendiri bagi masyarakat Sumatera Selatan bahkan Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, kini banyak kaum milenial yang tidak mengetahui sejarah berdirinya jembatan kebangaan wong kito galo tersebut. Berikut sejumlah fakta Jembatan Ampera yang dirangkum Intens.news dari berbagai sumber :

1. Dibangun menggunakan dana rampasan perang

Ide membangun jembatan hingga dapat menghubungkan dua daratan di Kota Palembang, sebetulnya sudah ada sejak zaman Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Wali Kota Palembang diduduki oleh Le de Ville, tahun 1924.

Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali muncul, DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan saat sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956.

Jembatan Ampera/Foto: Istimewa

Pada saat itu, anggaran yang dimiliki Kota Palembang yang akan digunakan sebagai modal awal membangun jembatan sekitar Rp 30 ribu. Tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri dari Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun , dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. . Kemudian, Wali Kota Palembang, M. Ali Amin, beserta Wakil Wali Kota, Indra , meminta bantuan Presiden Sukarno.

Sama halnya dengan dana yang digunakan untuk pembangunan Monas di Jakarta, dana pembangunan Jembatan Ampera juga diambil dari hasil perampasan saat perang Jepang senilai 2,5 miliar Yen. Selain itu, ahli-ahli konstruksi dari Jepang juga turut dihadirkan dalam proyek pembangunan Jembatan Ampera.

2. Diresmikan oleh Letnan Jenderal Ahmad Yani

Jembatan Ampera dibangun pada April tahun 1962 dan diresmikan pada 30 September 1965, oleh Letjen Ahmad Yani.

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani/Foto: Google Image

Meski merupakan hadiah dari Karno, namun Letjen Ahmad dipercaya menjadi orang yang meresmikan penggunaan jembatan untuk pertama kalinya. Selain itu, peresmian tersebut merupakan agenda kenegaraan terakhir dari Letjen Ahmad sebelum beliau menjadi korban G30S/PKI pada 1 Oktober dini hari.

3. Awalnya bernama Jembatan Bung Karno

Sebagai bentuk apresiasi masyarakat Palembang kepada Presiden RI pertama, Ir Soekarno, untuk pertama kalinya Jembatan Ampera dinamai Jembatan Bung Karno.

Gambar oleh alex hanoko dari Flickr

Akan tetapi, Presiden Soekarno tak berkenan, terlebih setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Sukarno sangat kuat, maka dipilihlah nama yang memiliki makna Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera), yang pernah menjadi slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960’an. Sehingga dijuluki Jembatan Ampera.

4. Sempat menjadi jembatan terpanjang Asia Tenggara

Memiliki panjang 1.117 meter dengan lebar 22 meter, maka Jembatan Ampera sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Selain itu, jembatan ini juga tergolong canggih pada masanya, mengingat bagian tengah jembatan dapat diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan.

Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis dan dua bandul pemberat yang masing-masing berkisar 500 ton pada dua menaranya, dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit dan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat seluruh jembatan ialah 30 menit.

Jembatan Ampera/Foto: Istimewa

Tapi sejak tahun 1970, mekanisme tersebut tidak lagi dilakukan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas. Terlebih sudah tidak ada lagi kapal besar yang di Sungai Musi.

Hingga akhirnya di tahun 1990, dua bandul pemberat untuk bagian tengah jembatan dibongkar dengan alasan keselamatan masyarakat yang melintasi jembatan.

5. Bagian Tengah Jembatan Bisa Naik–Turun

Fakta Jembatan Ampera selanjutnya adalah kemampuannya untuk menaik-turunkan bagian tengah jembatan untuk mempermudah transportasi kapal pengangkut barang dengan ukuran besar.

Bagian tengah jembatan ini diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan angkatnya sekitar 10 meter per menit dan total waktu diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan ini selama 30 menit.

Jembatan Ampera tempo dulu (Foto: Flickr/Ferdian Musliansyah )

Namun sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah nggak lagi bisa kita lihat. Alasannya? Karena waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap terlalu lama dan mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Dan pada tahun 1990, kedua bandul 500 ton di 2 menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

6. Mengalami Perubahan Warna Hingga 3 Kali

Jembatan Ampera terkenal dengan warna merah menyalanya. Namun, tahukah kamu kalau jembatan di kota Wong Kito Galo ini pernah berubah warna hingga tiga kali? Ya, tiga kali.

Jembatan Ampera/Foto: Istimewa

Saat didirikan, Jembatan Ampera berwarna abu-abu. Kemudian diganti menjadi kuning pada tahun 1992, dan terakhir dicat warna merah pada tahun 2002. Warna merah inilah yang jadi warna khas Jembatan Ampera hingga kini.

7. Masuk dalam Map Game Point Blank

Dunia game online pun mengakui popularitas jembatan ikon khas Palembang ini. Soalnya, game animasi populer, Point Blank memasukkan jembatan ini ke dalam salah satu medan tempur. Sebagai jembatan terpanjang di Sumatera, map Jembatan Ampera di dalam Point Blank pun merupakan map terpanjang, Penuh pula dengan lorong-lorong dan tempat rahasia yang menjadi favorit dari pengguna game animasi ini..

8. Dilewati Obor Asian Games 2018

Terlepas dari sisi mistisnya, Jembatan Ampera memiliki nilai prestisius tersendiri. Ikon Palembang ini berkesempatan dilewati Obor Asian Games 2018. Pawai obor dimulai dari Stadion Jakabaring dan dilakukan oleh sejumlah atlet dan public figure. Di antaranya, artis Mikha Tambayong turut menyemarakkan pawai obor dengan melalui Jembatan Ampera pada tanggal 4-5 Agustus 2018.

9. Memiliki Jam Analog Raksasa

Sebagai bentuk pembenahan jelang Asian Games 2018 yang dihelat di Palembang, Jembatan Ampera pun tak lepas dari perhatian. Jembatan ini dipasangi dua jam analog dengan ukuran besar di kedua menaranya. Pemasangan jam tersebut menjadikan jembatan ini semakin tampak modern dan keren, deh.

10. Ramalan Jembatan Ampera Ambruk

Pernah membayangkan kalau Jembatan Ampera akan runtuh? Ternyata, jembatan ini cukup sering diprediksi ambruk oleh beberapa pihak. Termasuk, peramal Mama Laurent yang memprediksi jembatan bersejarah ini akan ambruk pada 2009 lalu. Kejadian tabrakan kapal pengangkut batu bara juga ditakutkan membuat kekokohan jembatan bersejarah ini jadi berkurang. Faktanya, jembatan ini masih terus bertahan hingga sekarang. Soalnya, pemerintah Palembang memang mengalokasikan anggaran untuk perawatan jembatan ini.

 

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More