intens.news
Mitra Informasi

70 Persen Sekolah Swasta di Sumsel Kekurangan Siswa

0 9

Intens.news, PALEMBANG – Musyawarah Wilayah VI Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS)  Wilayah Sumsel Tahun 2021 dengan tema”Membentuk Pendidikan Karakter Anak Bangsa” bertempat di hotel Swarna Dwipa, Kamis (14/10/2021).

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel Drs Riza Fahlevi mengatakan, pihaknya memberikan apresiasi pelaksanaan Muwsil ke VI BMPS Sumsel. Disini betul-betul pemerintah sangat terbantu dengan adanya BMPS ini.

“Organisasi maju jika pengurus berpikir sebagai organisasi dan lembaga. Tapi kalau berpikir indvidu dan kelompok tidak akan maju. Nah, BMPS bisa maju karena berpikir secara organisasi dan lembaga. Untuk pelantikan Ketua BMPS Provinsi Sumsel dua bulan lagi,” ujarnya.

Ketika ditanya wacana Sekolah Terbuka, Riza menuturkan, itu salah satu cara menuntaskan wajib belajar 12 tahun. Karena untuk menuntaskan wajib belajar 12 tahun itu butuh peran sekolah negeri dan swasta.

“Jika dibuka Sekolah Terbuka, maka siswa tatap muka dengan guru saat mid semester atau saat ujian. Tidak ada lagi sekolah yang lip lap, saat masa pembelajaran tidak ada siswanya tapi ketika ujian siswanya banyak. Itu merusak citra sekolah swasta,” bebernya.

Riza menjelaskan, sekolah swasta ini dibagi menjadi tiga kelompok yakni sekolah swasta elit, menengengah dan alit.

“Sekolah swasta ini banyak sekolah alit. Yang saat penerimaan siswa baru hanya sedikit siswanya. Sebelum mengktirik harusnya sekolah alit intropeksi diri dulu.Kita tidak perlu saling salah, tapi sinergis, jangan sekolah swasta yang siswanya dikit langsung menyalahkan pemerintah. Tunjukkanlah dulu kualitasnya, jangan sekolah swasta saat penerimaan siswa baru langsung meminta sejumlah uang, sedangkan fasilitas dan kualitasnya belum terlihat,” paparnya.

Sementara itu, Ketua BMPS Provinsi Sumsel Sumarna mengatakan, kalau Muswil agenda pertama pemilihan ketum dan menyusun kepengurusan. Agenda lain adalah peningkatan perguruan swasta di Sumsel. Pendidikan di negara Indonesia ada dua yakni yang diselenggarakan pemerintah atau sekolah negeri dan sekolah yang dikelola swasta.

“Kami pengurus sinergis dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel untuk membangun anak bangsa dan meningkatkan eksistensi anak bangsa,” bebernya.

Sedangkan terkait isu lain, Sumarna menjelaskan, itu harus dijawab dengan inovasi, karya nyata, dan tidak menyalahkan lembaga. Berpikirlah untuk tumbuh.

“Secara nasional sekolah swasta darah segarnya berkurang. Karena jumlah siswa di sekolah swasta itu terus berkurang. Namun itu harus disikapi secara baik, tunjukkan kualitas sehingga kepercayaan orang tua bertambah untuk menyekolahkan anaknya di swasta,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sekarang dunia digital tidak dibatasi demografi dan waktu. Sekolah swasta harus berpikir maju. Bahkan sekolah swasta bisa sangat cepat maju dibandingkan swasta karena regulasinya didominasi dari Yayasan. “Berikanlah yang terbaik untuk anak bangsa,” ucapnya.

Sumarna mengungkapkan, jumlah yayasan perguruan swasta di Sumsel mencapai 516 yayasan dengan jumlah lebih dari 4.000 sekolah swasta. “Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen sekolah alit. Sekolah alit diharapkan ada  pengembangan SDM, rasio guru dan siswa ideal. Serta ikut perkembangan IT,” tandasnya.

Untuk diketahui, sekolah swasta elite biasanya kelebihan siswa yang mendaftar. Sekolah swasta menengah atau sedang adalah menerima cukup banyak siswa. Sedangkan sekolah swasta alit maksudnya adalah sekolah swasta kecil yang kesulitan mencari siswa yang mendaftar.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More