intens.news
Mitra Informasi

85 Hari Laporan Kasus Cabul Belum Ada Kejelasan

0 29

Intens.news, BANYUASIN – Sungguh malang wanita berusia 14tahun, warga Kelurahan Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Diduga menjadi korban cabul dari seorang lelaki berinisial YE, yang tidak lain tetangganya sendiri.

Menurut SY orangtua korban, di lingkungan masyarakat pelaku YE keseharian tidak terlihat keburukan sifatnya, ditambah mengabdikan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Banyuasin, membuat banyak jiron tetangga tidak percaya atas perbuatan pelaku yang tidak terpuji itu.

“Anak kami ini setiap sore menjelang malam seperti orang kesurupan, kami sekeluarga tidak paham apa penyakitnya, tanggal 26 Juni 2020 lalu, pelaku YE datang ke rumah menawarkan diri bahwa dia bisa mengobati penyakit seperti santen, guna-guna dan lain sebagainya, karena kami orang bodoh ya diizinkan pelaku mengobati,” ujar ayah korban.

Dijelaskan ayah korban, pelaku YE mengobati penyakit putrinya secara go’ib, pengobatan dilakukan dengan cara menepuk belakang, pundak, kaki, tangan dan mengusap kepala tujuannya menghilangkan santet dan guna-guna.

Tanggal 13 Juli 2020 pengobatan berlanjut di rumah orangtua SY (nenek korban) di Kelurahan Kedondong Raye Kecamatan Banyuasin III, yang tidak jauh dari rumah korban.

“Sampai di rumah orangtua kami YE meminta anak kami mandi air kembang, katanya menghilangkan penyakit dan yang memandikan pelaku sendiri, entah setan apa yang merasuki pikiran YE melakukan pelecehan dan pencabulan kepada anak kami dengan cara meraba dibagian payudara serta memasukan jari tangan ke daerah terlarang, kejadian tersebut terlihat jelas oleh tetangga sebelah rumah” ucap ayah korban.

Pengobatan tahap berikutnya kembali dilakukan dirumah orang tua korban, tanggal 17 juli 2020 pukul 17.00 WIB perbuatan pelaku diketahui orang tua dan keluarga korban, ditambah kesaksian tetangga sebelah rumah nenek korban yang melihat langsung saat korban dimandikan dengan air kembang.

“Setelah kejadian tersebut tanggal 19 Juli kami sekeluarga melapor ke RT dan tanggal 20 Juli pelaku YE dan keluarganya mendatangi rumah RT setempat. Dihadapan RT pelaku mengakui perbuatannya mencabuli anak kami, secara kekeluargaan kesepakatan berdamai, namun perjanjian tertulis tidak ditepati pelaku, tanggal 26 Juli kami sekeluarga di dampingi RT menempuh jalur hukum melaporkan kejadian ke SPK Polres Banyuasin dilanjutkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Banyuasin,” beber orang tua korban.

Paman korban Arh mengaku, untuk menempuh jalur hukum laporan ayah korban tanggal 26 Juli sampai 27 Agustus 2020 baru sebatas saksi-saksi yang di periksa oleh penyidik UPPA Polres Banyuasin. Bahkan hasil pisum telah membuktikan kebenaran dari perbuatan pelaku, namun pelaku belum juga ditangkap.

“Kami sekeluarga tidak mengerti apakah seperti ini hukum untuk sebuah kesahan yang melanggar norma agama, pastinya kami kecewa pada penegak hukum di Banyuasin, untuk saksi sudah diperiksa dan bukti perkara sudah diserahkan pelaku juga belum ditangkap, terusterang kami memang orang tak mampu yang tidak bisa membeli hukum, kami minta keadilan itu” jelas paman korban dengan nada kesal.

Kasatreskrim Polres Banyuasin AKP M Ikang Adi Putra, sebelumnya telah dimintai keterangan oleh media ini, jum’at (28/09/2020) lalu guna melengkapi data, menurutnya untuk masalah hukum kasus ini prosesnya lama dan butuh kajian yang matang, bahkan proses sidang tertutup dua kali digelar karena keluarga pelaku menyerahkan surat yang menyatakan bahwa pelaku YE sedang menjalani proses pengobatan (Stres).

“Untuk kasus semacam ini jelas memakan waktu yang cukup panjang, untuk pelaku koperatif selalu menghadiri saat dipanggil, kami minta agar keluarga korban bersabar dari lidik sampai ke tingkat penyidikan sudah kami lakukan, surat berobat pelaku yang diserahkan keluarganya tetap kami proses, pastinya kita juga akan mengecek kebenaran pelaku sakit atau tidak, kepastiannya nanti setelah proses penyidikan selesai kesalahan pelaku pasti dijerat dengan hukam yang berlaku,” jelasnya.

Editor: Sadam

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More