intens.news
Mitra Informasi

Ahli Mikrobiologi Sarankan Alat Ukur Angka Kematian Menggunakan Presentase 

0 1

Intens.news, PALEMBANG – Tingginya angka kematian di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) hingga pertengahan September 2020. Ahli Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) menyarankan agar alat pengukur jumlah angka kematian jangan menggunakan persentase atau perbandingan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumsel tercatat sepanjang Maret hingga pertengahan September 2020, angka kematian akibat COVID-19 di Sumsel mencapai 305 orang.

“Alat ukur angka kematian virus Corona Disease (COVID-19) sebaiknya menggunakan angka mutlak,” ungkap Ahli Mikrobiologi Fakultas Kedokteran dari Unsri, Prof Yuwono, Rabu (16/9/2020).

Yuwono menambahkan, untuk permasalahannya, membandingkan jumlah kematian dengan pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19 akan banyak faktor mempengaruhi, terutama upaya tracking (penelusuran) yang dilakukan petugas di kota dan kabupaten.

Bahkan di Sumsel sudah dilakukan pemeriksaan 24.000 orang. Dengan jumlah tersebut diketahui terkonfirmasi positif COVID-19 melebihi 5.000 orang dengan 305 orang meninggal.

“Jadi masukan juga, pencapaian tracking bisa 1 persen jumlah penduduk. Seperti di Sumsel bisa mencapai 85.000 orang,” terangnya.

Lebih lanjut Yuwono mengatakan, sebagai perbandingan seperti di Provinsi DKI terkonfirmasi 55.000 orang dengan jumlah kematian 1.400 orang, maka menghasilkan angka kematian 2,5 persen. Jumlah itu akan jauh lebih rendah dibandingkan Sumsel, dengan jumlah pasien terkonfirmasi 5.000 orang dengan kematian 305 orang maka menghasilkan angka kematian 6,1 persen.

“Logika akan sama saat pasien terkonfirmasi pada awal di Sumsel sebanyak dua orang, lalu meninggal semua. Maka otomatis angka kematian mencapai 100 persen,” katanya.

Menurutnya, varian mutasi tidak menyebabkan keganasan pada virus bertambah hanya mengakibatkan penyebaran yang lebih cepat.

“Baiknya juga membahas angka kesembuhan. Misalnya di Sumsel, angka kesembuhan 74 persen, melebihi angka kesembuhan rata-rata nasional yang 71 persen,” terangnya.

Sebelumnya Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Dinkes Sumsel sekaligus Jubir COVID-19 Sumsel, Yusri mengatakan, pihaknya berharap dengan diberlakukannya Peraturan Gubernur (Pergub) terkait sanksi penerapan protokol kesehatan (prokes), tim penegakan hukum harus komitmen dalam penegakan regulasi ini.

Artinya menurut Yusri, efektif atau tidaknya pemberlakuan aturan itu sendiri nanti terhadap pengendalian virus corona di Sumsel tergantung pada komitmen dari tim penegak hukum.

“Sepanjang penegak aturan itu disiplin, karena pengguna menurut saja, bahkan orang-orang tidak memakai masker dan tidak menerapkan protokol kesehatan tanpa tindakan disiplin mereka tetap tidak akan pakai,” kata Yusri.

Lebih lanjut Yusri mengakui, saat ini di wilayah Sumsel, masih ada tiga daerah yaitu, Kabupaten Lahat, Muara Enim dan Kota Lubuklinggau yang masih menyandang predikat zona merah. Sementara Kota Palembang saat ini masuk zona orange, dengan tingkat penularan sedang.

“Penentuan zona itu dilihat dari perkembangan atau penambahan kasus baru, kemudian jumlah penderita yang sembuh dan meninggal. Artinya, semakin banyak yang sembuh, dan yang meninggal semakin sedikit maka, zonanya akan bergeser. Tapi apabila yang sakit banyak, yang sembuh sedikit, dan semakin banyak yang meninggal maka akan menjadi zona merah,” papar Yusri.

Sementara untuk perkembangan COVID-19 di Sumsel diakuinya masih cukup tinggi, artinya sekarang ini masyarakat Sumsel sudah banyak yang beraktivitas, dan tanpa disadari oleh masyarakat mereka tidak menerapkan protokol kesehatan. Pada saat mereka beraktivitas inilah  efektif menularkan karena kunci untuk mencegah penularan itu yaitu penerapan disiplin protokol kesehatan.

“Sepanjang mereka tidak menerapkan prokes ini maka kasus-kasus baru COVID-19 akan terus ada, bahkan bisa jadi semakin banyak,” terangnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More