intens.news
Mitra Informasi

Anyaman Karpet Dari Serat Pisang Abaka Tembus Pasar Luar Negeri

0 35

Intens.news, PALEMBANG – Berhasil menembus pasar luar negeri hingga Eropa dan Amerika. Anyaman karpet yang berasal dari bahan baku alami serat pisang abaka sudah memproduksi ribuan kontainer.

Pemilik CV Natural di Palembang, Djuanaidi mengatakan, usaha yang telah dirintis sejak tahun 2000 ini sudah berhasil menembus pasar dunia dengan harga jual yang cukup tinggi.

“Awalnya saya bisnis rotan di kawasan 1 Ilir, tidak terlalu berkembang dan beralih ke serat pisang abaka dari batang yang diimpor dari Fillipina. Pohon pisang abaka memiliki serat paling kuat. Karena kalau batang pisang Indonesia kebanyakan tidak memilik serat,” katanya, Senin (19/10/2020).

Selain serat pisang abaka, Djunaidi juga memanfaatkan batang bunga matahari yang diimpor dari India. Namun memang kata dia, serat pisang abaka lebih diminati apalagi bagi masyarakat luar negeri.

Menurut pria yang memiliki gudang pribadi di Jalan Sukarela Palembang ini, satu produk seperti anyaman karpet, pijakan kaki (keset) atau tatakan piring dan tatakan gelas, paling lama menghabiskan waktu pengerjaan hingga tiga bulan.

“Orang luar itu pakai sepatu kalau di rumah, jadi walaupun diinjak tetap kuat. Konsumen dibandingkan dengan Indonesia lebih banyak pembeli dari luar,” ujarnya.

Djunaidi menceritakan awal merintis usaha anyaman serat pisah. Setelah dua tahun lulus dari sekolah, Djunaidi mulai berkarya dengan modal awal puluhan juta hingga bisnisnya berkembang seperti sekarang.

Kini ia punya gudang produksi seluas tiga hektar yang memiliki lima gedung pembuatan anyaman. Mulai dari penyortiran, anyaman hingga penyelesaian.

“Harga jual dihitung dolar. Kisaran dari 5-10 dolar dengan penghitungan penjualan yakni per ukuran. Jadi ukuran 30×30 sentimeter paling mahal dijual 10 dolar,” jelasnya.

Djunaidi menuturkan, pemilihan kriteria serat pisang yang baik perlu diperhatikan. Seperti kekuatan serat itu sendiri dan warna dasar. Serat pisang abaka bisa menghasilkan empat warna yakni cokelat tua atau muda, krem gelap dan terang.

“Kalau untuk warna lain, misal hitam atau merah, kita warnai menggunakan pewarna tekstil. Tapi saya lagi mau belajar pakai pewarnaan alami. Untuk pola karpetnya didesain oleh bule dan sesuai permintaan konsumen,” tuturnya.

Proses pembuatan serat bahan pisang abaka, sambung dia, mulai dilakukan sejak pagi hari hingga sore. Yakni pukul 08:00-16:00 WIB. Dalam satu kali pemesanan konsumen, dia mengirim satu container (peti kemas) berisi 40 lembar produk serat bahan pisang abaka berupa karpet dan lainnya.

“Permulaan pembuatan pastinya proses sortir bahan, pemilihan warna, kemudian anyaman dijahit dan dibuat pola lalu dibungkus. Dalam kondisi sekarang, karyawan juga diperhatikan untuk tetap selalu menjaga protokol kesehatan,” jelas Djunaidi.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More