intens.news
Mitra Informasi

Atau Memang Nurani Mereka Sudah Mati

0 52

MIRIS dan sadis, mungkin itulah kalimat yang terbelesit di hati, jika kita membaca sejumlah kasus dimana ada bayi tanpa dosa dibuang begitu saja, baik dalam kondisi masih hidup atau sudah tidak bernyawa.

Redaksi Intens.news merangkum, setidaknya ada sejumlah kasus yang terjadi di wilayah Sumsel terkait hal ini, diantaranya yakni ; pada Juni 2019, dimana ada bayi berjenis kelamin laki-laki yang menghebohkan warga Jalan Kapten Robani, Lorong Pendidikan RT 05, Dusun II, Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan Kabupaten Banyuasin. Bayi laki-laki yang tergeletak di bawah pohon pisang di belakang rumah salah satu warga dengan kondisi tubuh bayi masih terikat ari-arinya, dan terbungkus kantong kresek hitam dikerumuni semut.

Kemudian pada Januari 2020, Satreskrim Polrestabes Palembang Unit Opsnal Pidana Umum (Pidum) dan Unit Tekab, berhasil menggagalkan perdagangan bayi di kota Palembang. Dan mengamankan 4 orang pelaku.

Dan terakhir yang masih hangat yakni, jasad bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan warga Dusun II Desa Perajen Mariana, Kelurahan Banyuasin, Kecamatan Banyuasin I, ditepi Sungai Musi.

Tentunya kasus yang dipaparkan penulis, bagian kecil dari ribuan kasus yang terjadi di seantero Indonesia. Beragam spekulasi bermunculan, ada yang menyebut, kasus pembuangan bayi baik dalam kondisi hidup atau sudah tidak bernyawa, merupakan hasil “hubungan gelap”.  Mirisnya lagi, ada kasus yang tega menjual darah dagingnya sendiri lantaran terbentur masalah ekonomi.

Hal ini pula menyisakan pertanyaan di dalam benak, di mana hati nurani itu?, atau memang nurani mereka sudah mati, atau sudah tergadai dengan nafsu duniawi. Bayi tanpa dosa itu apa dosanya?. Sehingga mereka tega dan kejam membuang bahkan menjualnya.

Disisi lain, banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya kasus ini, diantaranya yakni pergaulan bebas antara pria dan wanita tak lagi ada batas. Apalagi di era Jaman Now,  keintiman pria dan wanita tak lagi jadi hal tabu. Norma-norma agama dikesampingkan dan terkesan hanya sebuah rutinitas ritual ibadah semata.

Padahal sejatinya, agama sudah mengatur segela sendi kehidupan, terlebih bagaimana batasan antara pria dan wanita, misalnya dalam Islam, baik pria dan wanita, dituntun untuk menjaga pandangan masing-masing, dilarang menyentuh yang bukan muhrim, menjaga aurat, dan lainnya.

Lebih-lebih yang tega menjual anak bayi sendiri karena himpitan ekonomi. Islam juga dalam kitab sucinya dalam Alquran telah menerangkan, semua mahkluk hidup baik yang melata sekalipun, sudah dijamin rizkinya oleh Yang Maha Pemberi Rezki. Artinya, mereka yang tega menjual bayi ditukar dengan materi, apakah takut dengan kemiskinan. Padahal, soal rezeki sudah ada jaminan.

Intinya, sederet kasus tersebut hendaklah jadi pelajaran bagi kita, dan PR terbesar adalah, bagaimana para orang tua menyiapkan penerus generasi sesuai harapan agama, bangsa, dan negara. Dengan membekali mereka dengan ilmu akhirat dan dunia. Wallahu A’lam. (**)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More