intens.news
Mitra Informasi

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

0 28

KONTROVERSI undang-undang Omnibus Law masih belum reda. Meski demonstrasi skala “kecil” karena tidak ter-ekspose media massa, terus berlanjut dan belum akan berhenti hingga pemerintah benar-benar mencabut undang-undang cipta kerja tersebut.

Ditengah gemuruh aksi protes, demonstran yang sebagian besar adalah para buruh dan pekerja swasta kini mulai mengkritik kebijakan pemerintah atas tidak naiknya upah minimum provinsi atau UMP. Organisasi buruh dan NGO pro buruh tidak segan menyentil kebijakan tersebut. Alasannya tetap bisa di terima, karena kondisi para buruh di tengah wabah Corona sangat memprihatinkan. Hingga jika tahun ini tidak ada kenaikan upah, maka buruh akan semakin terpuruk hingga mendekati kemiskinan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menetapkan tidak ada kenaikan UMP Sumsel tahun 2021. Artinya UMP Sumsel masih sebesar Rp 3.043.111 per bulan dengan standar tujuh jam kerja sehari dan/atau 40 jam kerja dalam seminggu.

Katakanlah, para politisi, LSM, akademisi, atau aktifis buruh, dan para mahasiswa merupakan para elite politik yang berjuang untuk membela para buruh di negeri kita. Masyarakat sudah seharusnya berterima kasih atas perjuangan dan pembelaan rakyat atas nama kesejahteraan.

Realitanya, kini para buruh mulai merasakan kesulitan mencukupi kebutuhan hidup. Karena sejak wabah virus Covid-15 melanda dunia, telah terjadi kelumpuhan berbagai sektor ekonomi. Penerapan protokol kesehatan, telah memberi batas antar warga untuk saling berdekatan karena sangat beresiko tertular atau terinfeksi virus berbahaya tersebut.

Ketakutan yang melanda dunia membuat ribuan hotel dan restoran tutup sementara waktu. Akibatnya jutaan buruh hotel dan restoran dirumahkan bahkan di berhentikan karena mangemen hotel dan restoran tidak dapat membayar pekerjanya.

Lebih parah lagi di sektor trasportasi, berapa banyak angkutan darat seperti bus, angkot, kereta api yang tidak beroperasi. Berapa nilai kerugian yang diderita perusahaan bus, dan  berapa banyak supir menganggur? Belum lagi di transportasi udara yang pesawat tidak bisa beroperasi hingga mencapai kerugian miliar rupiah, atau kapal angkutan laut dan transportasi laut yang tidak beroperasi?

Berapa banyak perusahaan garmen, atau perusahaan yang menghentikan mesin produksinya karena pegawainya harus WFH atau bekerja dari rumah? Kerugian besar-besaran telah terjadi di mana-mana. Perekonomian nyaris lumpuh, hingga berperangaruh pada keamanan, ketertiban, bahkan kondisi sosial masyarakat secara luas.

Pernahkah kita berfikir bahwa para pengusaha-pengusaha juga mengalami hal yang sama? Pemilik perusahaan yang juga manusia, kini nyaris susah menarik nafas dengan lega. Profit yang selama ini di pertahankan tiba-tiba hancur dan kerugian besar melanda di depan mata. Namun, nilai kemanusiaan mereka tetap di kedepankan, dengan berusaha keras agar tidak melakukan pemecatan karena alasan efisiensi, atau sekedar pengurangan karyawan. Pertanyaannya, seberapa lama hal ini berlangsung hingga dapat bertahan di tengah kesulitan pendapatan yang hingga kita tidak juga di terima perusahaan. Sementara perusahaan tetap harus melunasi hutang, mencukupi gaji karyawan, membayar pajak aset, dan lainnya.

Sempurna adalah kata yang tidak bijak di ucapkan. Kala keluhan tersebut keluar dari bibir-bibir masyarakat yang rajin mengeluh, dan selalu memperbandingkan masa lalu dengan masa sekarang. Atau memperbandingkan kebutuhan saat ini dengan kebutuhan 10 tahun sebelumnya. Kenyataannya, semua harus di cukupi dan semua harus di penuhi. Bagaimana caranya? Apapun caranya!

Di tengah kesulitan yang beruntun, terangkum dalam tulisan editorial adalah gambaran besar ketimpangan sosial dan ekonomi di negeri kita. Tapi jika di perhatikan lagi, keadaan di tengah covid-19 saat ini tampak masih normal. Matahari bersinar cerah, jalanan dengan aspal yang baik di nikmati pengendara di kawasan Jakabaring dan Tegal Binangun. Kemacetan lalu lintas masih terjadi di tengah jembatan Ampera, atau antrian panjang kendaraan yang memutar arah di Plaju tetap terjadi. Semuanya seakan normal dan tidak terjadi apa-apa.

Benarlah firman Tuhan, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.  Dan ternyata pula, lebih banyak kemudahan yang di dapat daripada satu kesulitan yang di terima. Firman Tuhan tersebut sangat dalam untuk di pahami, namun menjadi penghibur kita yang sedang di landa kesulitan. Mari sedikit menoleh kearah lain dengan mensyukuri kemudahan yang kita dapatkan. Dengan tetap berkonsentrasi mencari solusi atas berbagai kesulitan yang menghadang tersebut. Wallahu’alam. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More