intens.news
Mitra Informasi

Bersiap Saat Kemarau Tiba

0 136

PEMERINTAH Provinsi Sumatera Selatan dan seluruh kabupaten/kota beberapa hari terakhir tengah mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau dan antisipasi kebakaran hutan dan lahan. Gelaran apel siaga karhutla rutin dilakukan, dalam rangka meminimalisir kebakaran yang sering terjadi di berbagai kabupaten/kota.

Meski BMKG memprediksi musim kemarau akan berlangsung normal, namun kesiagaan itu dilakukan bukan tanpa alasan yang jelas. Sebab, kebakaran hutan dan lahan tidak selalu terjadi karena kekeringan yang melanda saja, tetapi kebakaran hutan dan lahan kadang lebih banyak di sebabkan manusia. Bahkan beberapa industri pertanian memanen tebu dengan cara membakarnya, atau warga yang membuka lahan pertanian dan perkebunannya dengan membakar kawasan tersebut.

Efek dari kebakaran hutan dan lahan adalah timbulnya kabut asap dan polusi udara. Polusi kabut asap terakhir terjadi tahun 2019 lalu, meski tidak separah tahun 2015. Masih melekat di Ingatan kita bagaimana saat pagi hari, asap polusi mengurangi jarak pandang pengendara kendaraan bermotor. Banyak masyarakat yang terkena penyakit infeksi saluran pernafasan atau ISPA. Bahkan, dari berbagai berita ditemukan ada yang menjadi korban hingga meninggal dunia karena sesak nafas.

Kawasan yang paling banyak titik hotspotnya yakni OKI, MUBA, OI, Muaraenim, dan lainnya. Titik-titik hotspot ini terpantau dari satelit, meski terkadang tidak selalu kebakaran hutan. Tetapi jika kebakaran ini terjadi, akan sulit di padamkan oleh para petugas. Apalagi jika kebakaran hutan terjadi di lahan gambut, meski api sudah tampak padam di permukaan namun masih membakar dan membara dibawah tanah.

Meski jarang sekali terjadi korban jiwa manusia akibat kebakaran hutan dan lahan, namun  kerugian yang ditimbulkannya sangat banyak. Ekosistem landscape pasti akan terganggu, banyak binatang yang menjadi korban, belum lagi kebun-kebun milik warga.

Tidak ada yang bisa di persalahkan atas bencana tersebut. Meski asap kebakaran hutan turut mengganggu negara tetangga Malaysia atau singapura. Berbagai protes di layangkan oleh mereka, dan pemerintah juga memberi sanksi hukuman tegas kepada pelaku pembakar hutan. Namun kebakaran tersebut tetap saja terjadi dan menjadi musim yang harus di lalui setiap tahun.

Sudah banyak aparat polisi yang menangkap para tersangka. Namun karena lemahnya bukti atau karena warga tersebut tidak memahami hingga kegiatan pembakaran hutan adalah tindakan yang di larang, pembukaan lahan dengan membakar tetap terjadi.

Upaya untuk memberi kesadaran kepada masyarakat untuk menghindari pembakaran hutan dan lahan, adalah salah satu solusi dalam upaya tindakan preventif. Namun kita nyaris melupakan keterlibatan alam yang menjadi Sunnatullah. Karena terlalu banyak industri dan meningkatnya populasi manusia yang tidak ramah lingkungan, telah pula menyebabkan punahnya populasi binatang-binatang yang menjadi penjaga hutan.

Sebut saja badak. Saat ini populasinya kian langka, padahal di alam bebas badak adalah pemadam kebakaran hutan. Yang akan mematikan sekecil apapun api yang menyala di dalam hutan. Kekeringan anak-anak sungai akibat pengalihan aliran, juga menyebabkan kekeringan hingga pepohonan yang seharusnya selalu basah, kering dan menimbulkan gesekan hingga menjadi penyebab kebakaran.

Mari kita lebih bijaksana bertindak, bijaksana berfikir, dan lebih ramah lingkungan dalam menjalani kehidupan hingga lebih baik lagi. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More