intens.news
Mitra Informasi

Butuh Bukti Bukan Narasi

0 65

Oleh : Adeni Andriadi

MAHKAMAH Konstitusi menjadi penentu hasil Pilpres 2019. Disebut sebagai penentu karena pihak Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendaftarkan sengketa perselisihan hasil pilpres ke MK Jumat (24/5/2019).

Keputusan MK paling lambat akan dibacakan 28 Juni 2019 nanti bersifat final serta mengikat. Karena itu kubu Prabowo-Sandi mesti menyiapkan data, untuk membuktikan tuduhan kecurangan yang dilakukan oleh kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Narasi yang dibangun adalah MK jangan menjadi bagian dari rezim yang korup. “Mudah-mudahan Mahkamah Konstitusi (MK) harus bisa menempatkan diri sebagai bagian penting dari kejujuran dan keadilan dan harus menjadi watak dari kekuasaan, bukan justru menjadi bagian dari rezim yang korup,” ujar Bambang Widjojanto, Ketua Tim Hukum Prabowo-Sandi.

Pernyataan Bambang ini mendapat reaksi keras, termasuk dari hakim MK periode 2003-2006 Maruarar Siahaan. Menurut Maruarar, pernyataan Bambang akan MK jangan menjadi bagian dari rezim korup adalah framing opini berbahaya. “Dia (Bambang) mau membangun opini jika MK nanti menolak gugatan kubu 02, lembaga ini korup dan bagian dari proses pemilu curang,” kata Maruarar.

Bagus nian kalau semua pihak yang beperkara di MK mengandalkan alat bukti, bukan membangun opini yang menyesatkan, sebab patokan MK dalam memutuskan perkara adalah sesuai dengan alat bukti dan keyakinan hakim. Putusan MK yang mengabulkan permohonan didasarkan pada sekurang-kurangnya dua alat bukti.

Hanya ada enam alat bukti yang berlaku di MK sesuai ketentuan perundangan, yakni surat atau tulisan, keterangan saksi, keterangan ahli, keterangan para pihak, petunjuk, dan alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, lalu disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa.

Sebanyak 51 alat bukti diserahkan kubu Prabowo-Sandi ke MK untuk membuktikan dalil mereka bahwa Pilpres 2019 adalah pemilu yang dilakukan penuh kecurangan yang secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). Hal itu diukur dari penyalahgunaan APBN, ketidaknetralan aparat, penyalahgunaan birokrasi, pembatasan media masa, serta diskriminasi terhadap perlakuan dan penyalahgunaan aparat penegakan hukum.

Sebagian besar dari 51 bukti itu diserahkan berupa file dan dokumentasi dari pemberitaan dari bergai media masa. Sebelumnya, pasangan Prabowo-Sandi pernah membuat laporan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait dengan dugaan pelanggaran TSM oleh pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin saat tahapan pemilu masih berlangsung.

Putusan Bawaslu dibacakan 20 Mei kala itu menyatakan bahwa laporan dugaan pelanggaran administratif pemilu TSM tidak bisa diterima. Dalam pertimbangan, Bawaslu menyebut bukti-bukti yang diajukan kubu Prabowo-Sandi tidak memenuhi kriteria karena bukti yang diajukan di antaranya hanya berupa tautan link berita.

Tautan atau link berita semata tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar pembuktian kecurangan pilpres. Tidak kuat karena sumber berita yang dikutip itu belum tentu pihak yang melihat, mendengar, atau mengetahui informasi sesungguhnya. Peradilan itu membutuhkan bukti materiil seperti dokumen atau saksi yang terlibat dalam peristiwa hukum.

Meski demikian, kubu Prabowo-Sandi masih tetap mencoba peruntungan di MK untuk membawa bukti sebagian yang sudah pernah ditolak oleh Bawaslu. Apa pun putusan MK, untung atau buntung, wajib dipatuhi karena putusan MK bersifat final dan mengikat.

Kepatuhan mengikuti putusan MK sebagai satu-satunya jalur konstitusional dalam mempersoalkan hasil pilpres dalah cermin kematangan berdemokrasi. Beradu bukti di MK, bukan membangun opini menyesatkan, juga bagian dari kematangan berdemokrasi itu sendiri. Percayalah, bukti-bukti yang diungkapkan di dalam persidangan akan menjadi pertimbangan utama bagi hakim konstitusi dalam memutus perkara.

MK merupakan salah satu lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Karena itu, tidak tepat jika menyebut MK sebagai bagian dari rezim korup.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More