intens.news
Mitra Informasi

Corona? Mari Tetap Tenang dan Berfikir Jernih

0 68

KASUS sebaran virus Corona, telah mencapai puncaknya. Meski beberapa orang telah terkena virus ini, namun belum ada laporan secara spesifik jumlah orang yang meninggal dunia gara-gara Corona.

Mungkin shock dan stress mulai dirasakan oleh masyarakat secara luas, apalagi jika sudah ada laporan resmi dari pemerintah mengenai orang-orang Indonesia yang positif mengidap virus ini. Sebaran media sosial, televisi, media massa, himbauan pemerintah, hingga nasehat-nasehat orang tua pada anaknya, tidak luput dari Corona. Corona demikian menakutkan, hingga memberi dampak luas di seluruh masyarakat.

Beberapa kota di Indonesia tampak lenggang, kesibukan lalu lintas juga berkurang, bahkan banyak masyarakat yang memilih untuk tinggal di rumah masing-masing. Semua berjaga dan berdiam diri untuk menghindar bertemu dengan warga lainnya yang mungkin sudah tertular virus Corona ini. Aktifitas pasar tradisional juga tampak berkurang, bahkan para pedagang juga sebagian menutup lapak dan toko-tokonya. Pemerintah juga meliburkan sekolah-sekolah hingga dua minggu kedepan, kantor-kantor juga tampak mengurangi aktifitasnya di luar rumah. Bahkan sebagian perusahaan media massa mengeluarkan aturan khusus, bagi para wartawan yang meliput Corona. Dan redaktur-redaktur media juga sebagian bekerja dari rumah masing-masing.

Sedemikian besar dampak yang di timbulkan oleh Corona. Aktiiftas ekonomi mulai lumpuh, akfititas pendidikan, bahkan tali silaturahmi antar sesama manusia juga mulai berkurang. Corona benar-benar telah menjadi “teror dan neraka” sebagian besar masyarakat bumi.

Sudah sebulan terakhir masyarakat berbondong-bondong memborong sabun pencuci tangan anti septic, memborong masker anti debu, menimbun sembilan bahan pokok,  menimbun berbagai hal yang berkaitan dengan kebersihan dan pengobatan alternatif, demi mencegah tertularnya wabah virus yang meresahkan dunia ini.

Masyarakat kemudian mulai mengenal ucapan, Innalillahi Wa Inna Ilahir Rojiun. Sebuah kata penghambaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Yang terkadang selalu di identikkan dengan persoalan kematian. Padahal, pernyataan penghambaan tersebut tidak selalu identik dengan kematian, kehilangan, dan pengorbanan. Kata yang kurang lebih memiliki arti, “Sesungguhnya apa-apa yang berasal dari Tuhan, akan kembali kepada asal-Nya”.

Ketakutan atas Corona ini seakan lebih pada kedatangan malaikat maut pada kita. Corona seakan benar-benar akan “Membunuh” dan tidak bisa menghindar dari kematian. Padahal, kalau kita berfikir jernih, wabah ini tidak akan semudah itu menjangkiti apalagi membunuh manusia. Buktinya, sudah banyak mereka yang terkena virus tersebut yang pada akhirnya sembuh.

Jadi apa yang salah? Siapa yang harus di persalahkan? Jawabanya tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu di persalahkan.  Yang perlu di lakukan adalah mawas diri, dan tetap menjaga kesehatan diri. Insya Allah jika tubuh kita dalam keadaan fit dan tidak dalam keadaan lemah, maka imun tubuh akan berusaha keras menolak virus yang masuk tersebut.

Analoginya, mungkin kita akan terpapar dan kena Corona sebagai bagian dari upaya tubuh untuk mengenal keberadan virus baru tersebut. Namun, hal itu akan berlangsung sebentar saja. Kemudian tubuh kita akan baik-baik saja, dan sehat tanpa terdampak apapun. Sama halnya, saat anak-anak di imunisasi maka dalam beberapa waktu akan panas, yang kemudian akan sembuh dan menjadi kebal dari penyakit.

Namun, dampak serius yang tidak bisa di hindari saat ini adalah kerugian finansial, dampak ekonomi, keamanan, dan yang paling-paling serius adalah ketakutan yang ditimbulkan oleh Corona.

Sekali lagi, mari kita berfikir jernih. Ditengah pencarian vaksin anti virus Corona kita tetap berfikiran sehat, jernih, tenang, dan yakin bahwa terdapat hikmah di balik bencana dunia yang sedang meresahkan manusia sebagai makhluk yang tinggal di bumi. Ditengah penderitaan ketakutan yang melanda, mari kita berpaling dan menyerahkan diri pada Tuhan pengusaha semesta. Serahkan diri kita serendah-rendahnya pada-Nya. Lenyapkan sifat ketakutan, keangkuhan, sombong, dan keingkaran, dan kembalikan sepenuhnya pada Tuhan penguasa tunggal Semesta, dengan bersama-sama mengucapkan, “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun”.

Semoga Allah SWT melindungi kita dan tetap menjalani kehidupan yang sempurna dan indah di dunia tanpa kecemasan, ketakutan, dan kekurangan makanan, buah-buahan dan harta. Tetap yakin bahwa badai ini akan berlalu, yang pada akhirnya virus Corona akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Wallahu ‘Alam Bi Shawab. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More