intens.news
Mitra Informasi

Disdik Berharap Kasus Penganiayaan Anak hingga Tewas tidak Terjadi di Palembang

0 89

Intens.news, PALEMBANG – Kasus penganiayaan orangtua terhadap anaknya hingga tewas di Kabupaten Lebak Banten, mendapat kecaman dari Dinas Pendidikan Palembang. Perilaku orangtua tersebut dinilai keterlaluan, hanya karena anak kesulitan dalam mengikuti proses belajar secara online. 

Warga Desa Cipalabuh, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak Banten, sebelumnya digegerkan dengan penemuan jenazah anak kecil berinisial KS (8) yang terkubur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Keneng dengan pakaian lengkap.

Ternyata, korban yang masih dudul di kelas 1 SD itu meninggal usai dianiaya ibunya, LH (26). Pelaku tega membunuh putrinya lantaran kesal sang anak sulit menerima pembelajaran saat belajar online.

Menanggapi kasus tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) kota Palembang, Ahmad Zulinto, mengimbau keras kepada orangtua dalam membimbing anak belajar secara virtual.

“Tidak lah harus kita katakan karena Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) nya, tapi memang kegiatan (PJJ) ini karena musibah Covid-19. Pendidikan bukan hanya tanggungjawab guru saja tapi orangtua, masyarakat, pemerintah bahkan seluruh stakeholder,” ujar Zulinto, Rabu (16/9/2020).

Dikatakan Zulinto, kalaupun orangtua tidak mampu jangan dipaksakan, apalagi sampai memukul dan sebagainya. Dengan kejadian orangtua yang menganiaya anaknya hingga tewas, Disdik Palembang ikut prihatin, karena mendidik bukan seperti itu.

“Ya mari kita bersabar jangan seolah-olah dipaksakan, anak-anak diajak bermain di rumah dengan kesenangan, jangan di pukul. Kami aja cubit siswa dituntut (lapor polisi) oleh orang tua murid. Sekarang banyak orang tua yang dilaporkan anaknya karena memukuli mereka,” terangnya.

Tapi ini tidak boleh terjadi, lanjutnya, mari sama-sama mendidik anak dimasa pandemi secara virtual. Orang tua mengajar di rumah sedangkan guru tetap mengajar di sekolah dengan virtual.

“Saya sudah menyampaikan kepada guru janganlah diberi beban yang berat, soal 3 sampai 5 cukup. Kondisi ekonomi sudah sangat sulit jangan membuat beban dengan materi siswa yang banyak dan sulit,” tegas dia.

Diakui Zulinto, kondisi belajar secara virtual memang membuat siswa harus kehilangan pergaulan dan kebersamaan. Mereka harus berhadapan dengan daring setiap hari memang berat dan sudah pasti siswa adanya yang menangis.

“Cucu saya juga sering menangis mengerjakan soal secara daring, karena sering kena marah sama orang tuanya. Jadi kita sama-sama memahami saja,” terangnya.

Editor: Sadam

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More