intens.news
Mitra Informasi

Ekspor di Sumsel Melambat Sejak Pertengahan 2020

0 12

Intens.news, PALEMBANG – Selama masa pandemi, tidak sedikit negara yang melakukan lockdown mengingat penyebaran Corona Virus Deseas 2019 (Covid-19). Hal inilah membuat ekspor jadi lambat bergerak.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, Ahmad Rizali, saat ditemui mengatakan, ekspor di Sumsel mulai melambat sejak pertengahan 2020. Hal ini dipicu banyaknya negara yang melakukan lockdown.

“Melambat karena banyaknya negara yang lockdown, sehingga tidak menerima dan memberi,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (23/2/2021).

Menurut Rizali, biasanya barang ekspor yang tinggi yakni karet, pupuk, kertas, batubara, dan Crude Palm Oil (CPO).

“Diperkirakan impor dan ekspor akan normal pasca program vaksinasi atau sekitar awal 2022 nanti,” katanya.

Ketika disinggung terkait peran Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan saat pandemi ini, Rizali mengatatakan, yang pertama memperbaiki kualitas bahan ekspor.

“Yang pertama dimasa ini memerbaiki kualitas mutu karet. Karena kita terima karet itu dan tidak bisa karet asalan, sehingga harganya juga meningkat. Kemarin Saya ke daerah OKU dan saat ini mutu karetnya sudah lumayan bagus. Saat ini harga di petani Rp10 Ribu/kilogram itu sudah lumayan bagus artinya sudah 50 persen lebih kadar karet keringnya,” katanya.

Rizali berharap, mudah-mudahan dengan kesadaran masyarakat yang terus dikembangkan oleh Unit Pengelolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) dapat menjadikan harga karet yang diekspor dari Sumsel menjadi lebih mahal. “Mudah-mudahan dengan dikembangkannya UPPB menjadikan harga karet menjadi lebih tinggi,” tukasnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More