intens.news
Mitra Informasi

Gelandangan dan Pengemis Menjamur, Salah Siapa?

0 48

INDONESIA negara yang sejahtera dan merdeka. Negeri yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, tanah yang subur, dan manusianya yang berbudaya. Beruntunglah kita hidup di Indonesia yang kini telah bebas dari penjajahan. Republik Indonesia kini berwibawa di mata dunia, hingga wajar saja banyak negeri lain yang iri hati.

Kutipan diatas, sangat lumrah kita baca di berbagai buku anak sekolahan. Gambaran tersebut benar adanya, meski terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi yang terlihat oleh mata biasa. Para pelajar dan anak-anak akan tersanjung saat bercengkrama dengan para rekannya dari negara lain, saat berjumpa di dunia online. “Indonesia sangat indah, kapan saya bisa kesana?” dan “Indonesia negeri yang aman, tidak seperti kami di sini sedang di landa perang”.

Para orang tua kini tidak bisa lagi membatasi pergaulan dunia online yang semakin dekat. Para anak-anak nyaris bebas bergaul dengan teman mereka yang beda bahasa. Tidak salah kalau kini kemampuan bahasa inggris anak-anak era internet lebih baik, dan lebih keren dengan bahasa-bahasa prokem yang hanya mereka saja yang mengerti. Dunia maya kini tetap menjadi dunia mimpi para anak-anak kita yang sedang libur panjang, akibat sebaran virus Corona yang belum juga tertahankan. Pemerintah kita tidak ingin mengambil resiko kehilangan satu generasi, dan terpaksa memperpanjang lock down bagi para pelajar.

Diluar sana, banyak anak-anak yang tidak beruntung. Hampir di seluruh perempatan lampu merah terdapat para anak-anak berusia 12-14 tahun yang menggendong bayi. Mereka mengadahkan tangan sambil mengetuk pintu mobil, dengan wajah meringis menahan teriknya matahari. Banyak yang tidak tega lalu memberi uang seadanya.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam, hal tersebut telah diatur dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang menyatakan bahwa “Fakir Miskin dan anak – anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Jadi Fakir miskin dapat dikatakan orang yang harus kita bantu kehidupannya dan pemerintahlah yang seharusnya peka akan keberadaan mereka.

Sayangnya, saat beberapa warga rela hati membagi uang. Di pojokan lampu merah ada seseorang yang mengawasi sejak subuh. Oknum-oknum inilah yang diduga dengan sengaja memanfaatkan para gelandangan dan pengemis bekerja di jalanan setiap hari. Meski aparat tidak memiliki bukti yang jelas  namun hal ini sudah menjadi rahasia umum.

Wajar saja kalau pemerintah kota Palembang melalui dinas sosial membentuk tim khusus yang akan menangkap para koordinator pengemis. Entah, apakah hal ini hanya wacana atau memang upaya serius pemerintah mengurangi keberadaan para gelandangan dan pengemis di Kota Palembang.

Opsinya, kalau memang ingin mengungani jumlah pengemis, gelandangan, dan anak-anak terlantar seharusnya yang di selamatkan adalah objeknya. Para anak-anak terlantar yang “dipekerjakan” sebagai pengemis harus di bawa ke dinas sosial, mereka di tampung di tempat penampungan anak-anak, di beri makan, dan di sekolahkan sesuai hak mereka. Para orang tua yang dengan sengaja membiarkan anak mereka menjadi pengemis, harus mendapatkan sanksi. Dan jika orang tua mereka juga adalah orang fakir miskin selayaknya di pelihara oleh negara.

Bagaimana dengan koordinator Gepeng ? Jelas saja oknum-oknum ini adalah orang yang memiliki kemampuan melihat peluang usaha yang dapat menghasilkan uang.  Secara hukum mereka telah mengekploitasi anak-anak, dan dapat dikenakan undang-undang pelindungan anak. Atau dengan sengaja mempekerjakan pengemis-pengemis, jelas saja mereka telah melakukan “Perbudakan” dan melanggar Hak Azazi Manusia. Yang kesemuanya adalah pelanggaran hukum yang jelas, dan dapat dikenakan pidana.

Bukan hendak berasumsi terlalu jauh, langkah-langkah Pemkot bakal dinilai tidak populer dan tindakan menangkap koordinator pengemis sudah berada di luar kewenangan Pemkot Palembang. Alangkah baiknya Pemkot berkerjasama dengan kepolisian. Dan pemkot kemudian melaporkan para koordinator sebagai pelaku kriminal dengan disertai bukti-bukti, hingga dapat menjerat mereka secara hukum. Wallahu ‘alam.(***)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More