intens.news
Mitra Informasi

Hari Ini Mantan Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar Dipanggil Kejati Sumsel

0 72

Intens.news, PALEMBANG- Mantan Bupati Muara Enim, Muzakir Sai Sohar beberapa minggu lalu ditetapkan sebagai tersangka lantaran diduga telah menerima suap lahan hutan produksi Kabupaten Muara Enim pada tahun 2014 lalu.  

Untuk itu setelah ditetapkan sebagai tersangka, kini Muzakir dipanggil Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel untuk menjalankan pemeriksaan siang ini, Senin (23/11/2020).

Muzakir hadir ke gedung Kejati Sumsel didampingi beberapa kuasa hukumnya pada pukul 13.00 WIB siang tadi. Informasi yang dihimpun, Muzakir diperiksa di ruang penyidik pidsus kejati sumsel dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Hingga berita ini diturunkan, Muzakir masih menjalani pemeriksaan di gedung Kejati Sumsel. Belum ada perwakilan penyidik yang memberikan keterangan terkait pemeriksaan tersebut.

Beberapa awak media juga terlihat menunggu di depan gedung Kejati sumsel dan menunggu proses pemeriksaan ini. Intens.news akan terus mengabarkan kabar selanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel kembali mengamankan empat terdakwa  yang terlibat kasus suap dan gratifikasi alih fungsi lahan hutan produksi menjadi hutan tetap di kabupaten muara enim tahun 2014 yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 5,8 Miliar lebih. Jumat (13/11/2020).

Keempat tersangka tersebut ialah  Bupati Muara Enim periode 2014-2018 Muzakir Sai Sohar beserta tiga orang lainnya yakni HM Anjapri mantan Dirut PT. Mitra Ogan, Yan Satyananda yang merupakan mantan kabag akuntansi PT Perkebunan Mitra Ogan serta Abunawar Basyeban selaku konsultan.

“Dalam pemeriksaan tim pidsus Kejati Sumsel mendapati sejumlah kerugian negara, proyek tersebut merupakan proyek fiktif sehingga kami beranggapan ada total lost atau tidak ada kegiatan sama sekali,” ungkap Plt Kejati Sumsel Oktavianus

Selanjutnya dari hasil pemeriksaan itu, tim penyidik dari Kejati Sumsel mengambil kesimpulan dan melakukan penahanan terhadap 4 orang tersangka tersebut agar mempermudah proses penyidikan lebih lanjut, serta untuk menghindari yang bersangkutan melarikan diri atau menghilangkan barang bukti dan tindakan tidak koperatif.

“Untuk barang bukti ada uang sebesar Rp 200 juta didalam rekening, dan saat ini dari empat tersangka ini belum ada pengembalian kerugian negara,” ujarnya.

Akibat perbuatan tersebut keempatnya dikenakan pasal 2 ayat 1 uu no 20 tahun 2001 dan pasal 11 atau 12 B UU no 31 tahun 99 jo UU No 20 tahun 2001 dengan ancaman Maksimal 20 tahun penjara dan min 4 tahun penjara.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More