intens.news
Mitra Informasi

Inilah Alasan Penyebab Kanapa Spesimen Berkurang di Laboratorium 

0 18

Intens.news, PALEMBANG – Alasan penyebab pemeriksaan spesimen berkurang di laboratorium dikarenakan orang yang positif tanpa gejala yang sempat kontak dengan pasien positif baru di sarankan cukup melakukan isolasi secara mandiri.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kasi Surveillans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel, Yusri, Jumat (18/9/2020). “Seseorang yang memiliki gejala dan sempat kontak dengan pasien positif baru bisa menjalani swab test. Kondisi itulah yang menyebabkan spesimen pemeriksaan berkurang. Sedangkan seseorang yang positif tanpa gejala, cukup melakukan isolasi secara mandiri,” ungkap Yusri.

Yusri menilai, penanganan tracing yang dilakukan belum terlalu masif. Hal itu sejak berlakunya pedoman, pencegahan, dan pengendalian COVID-19, terkait pemeriksaan pasien haruslah bergejala saja atau petugas kesehatan.

Hal inilah yang berdampak pada penurunan pemeriksaan spesimen. Pemeriksaan sampel yang masuk ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang hanya 200 hingga 300 sampel per hari.

Namun sebelum pedoman baru diterapkan, pemeriksaan sampel di Sumsel bisa mencapai 800 sampel per hari. “Padahal fasilitas laboratorium PCR di Sumsel sudah bisa mencapai 1.000 spesimen per hari,” katanya.

Yusri mengatakan, salah satu penyebab kian meningkatnya penularan angka kasus COVID-19 di Bumi Sriwijaya dikarenakan masyarakat tak patuh protokol kesehatan.

Dirinya meminta semua pihak harus mengantisipasi perkembangan virus Corona Virus Desease itu. Apa lagi saat memasuki masa normal baru yang mendorong pedoman terkini tentang penanganan COVID-19.

“Kasus COVID-19 sendiri terus bertambah, kecenderungan ke depan bisa saja lebih banyak kalau masyarakat tidak menerapkan disiplin kesehatan, ditambah aktivitas yang saat ini meningkat,” kata Yusri.

Yusri mengakui, sejauh ini data yang dilaporkan Sumsel ke Satgas Pusat tidak memiliki perbedaan, baik kasus penambahan positif, sembuh, dan kematian. Kasus kematian yang dilaporkan Sumsel saat ini tercatat ada 313 orang, atau secara persentase 6,05 persen lebih besar ketimbang data nasional.

Dalam tiga hari terakhir, jumlah korban yang meninggal bertambah 13 orang. Sedangkan pasien yang sembuh, pihaknya juga mencatat angka yang tinggi hingga 3.853 orang atau 74,45 persen.

“Kebanyakan yang meninggal adalah pasien berusia 40 tahun ke atas. Mereka meninggal karena penyakit penyerta, tetapi ada juga yang meninggal tanpa penyakit penyerta karena datang berobat saat kondisi sakit berat,” jelas dia.

Perkembangan COVID-19 di Sumsel terus bergerak secara fluktuatif. Terhitung ada 24.627 sampel yang telah diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang, dengan 5.175 terkonfirmasi kasus positif dan 14.133 lagi negatif.

Dinkes Sumsel mencatat, pasien positif tanpa gejala yang tidak memerlukan perawatan lebih banyak dari yang memiliki gejala. Dari 1.009 pasien positif yang aktif menunjukkan 608 orang diisolasi mandiri, dan 401 orang dirawat di Rumah Sakit (RS), baik rujukan utama ataupun rumah sakit tambahan.

“Tempat tidur ada sekitar 1.129 kamar, artinya cukup untuk mengantisipasi jika tiba-tiba ada kenaikan jumlah pasien, Sejauh ini kita tetap mengantisipasi jika ada kenaikan pasien positif,” ujarnya.

“Selama ini banyak masyarakat yang dirujuk ke Palembang, karena sarana pendukungnya lebih lengkap, dan memang memerlukan pertolongan karena kondisi sakit sedang dan berat,” terang Yusri.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More