intens.news
Mitra Informasi

Kasus Pembunuhan Calon Pengantin di Macan Lindungan, Dua Kakak Beradik Ini Akui Menusuk Korban Karena Kesal Orangtuanya Dihina

0 93

Intens.news, PALEMBANG-  Dua kakak beradik  yang terlibat pada kasus pembunuhan  calon pengantin di Macan lindungan pada bulan Juli 2020 lalu kembali menjalani sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa sekaligus saksi meringankan di ruang sidang Pengadilan Negeri Klas 1 A Khusus, Jumat (20/112020).

Identitas dua terdakwa tersebut ialah Oka Candra Dinata ( 28) bersama adiknya Rizki Ananda alias Jack (22)  yang diduga  melakukan pembunuhan terhadap tetangganya sendiri yakni Rio Pambudi (korban Alm).

Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua Efrata Tarigan ini kedua terdakwa pun menceritakan kronologi kejadian sebelum pembunuhan terjadi.

Sebelumnya hakim ketua menanyakan maksud terdakwa bawa pisau itu sendiri  tujuannya untuk apa. “Saya tanya apa maksud terdakwa bawa pisau. Dalam video yang merekam kejadian itu, kamu bawa pisau. Maksudnya untuk apa itu,” ujar Ketua Majelis Hakim, Efrata Tarigan SH MH saat bertanya kepada terdakwa Okta.

Sempat terdiam saat dicecar berbagai pertanyaan oleh majelis hakim terkait penikaman yang dilakukannya terhadap korban. Okta lagi-lagi hanya bisa diam mendengar pertanyaan itu.

Namun karena kedua terdakwa tidak menjawab, Majelis hakim kembali  melanjutkan pertanyaannya.

“Bagaimana perasaan kamu setelah menusuk korban,” ujar hakim yang kembali bertanya.

Mendengar hal itu, kembali terdakwa Okta terdiam sesaat. Kemudian dengan suara terbata-bata, ia lalu menjawab pertanyaan hakim.

“Saya ketakutan pak hakim, saya cemas (setelah menusuk korban),” ujarnya.

Namun pernyataan tersebut kemudian dipatahkan oleh pernyataan hakim yang mengkaitkannya dengan bukti rekaman video detik-detik peristiwa berdarah berujung tewasnya korban.

Dalam rekaman video, terlihat jelas bahwa terdakwa Okta sambil marah-marah, masih sempat mendatangi Melisa (28) kakak korban yang saat itu merekam kronologi keributan berujung penikaman tersebut. Padahal saat itu terdakwa baru saja menusuk korban.

Hakim kemudian menegur terdakwa Okta karena dianggap memberikan keterangan yang bertentangan dengan bukti perkara tersebut.

Terdakwa kemudian kembali ditanya terkait bagian mana di tubuh korban yang telah ia tusuk sehingga menyebabkan calon pengantin itu tewas. “Satu kali saya tusuk korban. Saya khilaf tusuk dadanya pak,” ujar terdakwa seraya tertunduk.

Okta selanjutnya melanjutkan keterangan mengenai kronologi keributan yang berujung penikaman terhadap korban.

Ia mengatakan, kejadian itu bermula dari saling tatap antara korban dengan dirinya yang mengakibatkan rasa  tersinggung dan berujung cek-cok. “Korban juga menghina orang tua saya,” ujarnya.

Merasa tak terima, keributan fisik antara keduanya makin tak terhindarkan. Ia tak membantah bahwa hubungan keluarganya dan keluarga korban yang saling bertetangga memang sudah tidak baik.

“Awalnya saya mau main ke rumah orang tua saya dan lewat persis di depan rumah korban karena kami bertetangga. Saat itu orban juga keluar rumahnya untuk motor. Kemudian kami saling tatap dan tidak senang, sama-sama tersinggung,” ujarnya.

Okta menyebut, korban adalah orang yang pertama kali mengajak berkelahi. Sedangkan, korban yang saat itu dikeroyok tidak memiliki senjata apapun di tangannya.

“Korban nantang duluan, jadinya saya maju. Terus korban menghina orang tua saya. Disitu saya terpancing emosi. Terjadi dorong-dorongan dan saya terjatuh. Kemudian adik saya (terdakwa Rizki ananda) datang dan ikut ribut dengan korban. Saat itu dia (terdakwa Rizki) sudah bawa pisau dari rumah orang tua kami. Kemudian saya pulang ke rumah saya sendiri dan juga ambil pisau.Dan terjadilah peristiwa itu (penusukan terhadap korban),” ujar Okta.

Hakim lantas kembali bertanya guna menegaskan siapa orang yang sudah penusukan sehingga mengakibatkan tewasnya Rio Pambudi.

“Saya yang tusuk pak,” ujar Okta.

Sementara itu, terdakwa Rizki Ananda yang juga adik kandung terdakwa Okta mengatakan, dirinya terlibat pengeroyokan terhadap korban dikarenakan ingin membela sang kakak.

Rizki tak menampik bahwa ketika mendengar keributan yang terjadi, ia berjalan keluar sembari membawa pisau dari dalam rumah. Namun ia mengaku tindakan itu hanya dilakukannya untuk melerai perkelahian yang terjadi. “Karena tujuan pertama saya hanya ingin membantu melerai,” ucapnya.

Dikatakan Rizki, dirinya saat itu merasa tersinggung dengan ucapan korban yang dirasa sudah begitu menghina orang tuanya. Dengan emosi yang memuncak, kemudian terjadilah aksi saling dorong dengan korban.

Dalam keterangannya, ia juga mengaku sempat mengejar dan menendang kepala korban yang saat itu sudah tak berdaya usai mengalami luka tusukan akibat perbuatan terdakwa Okta. Pertama mengaku hanya satu kali, terdakwa Rizki kemudian berujar bahwa ia menendang kepala korban sebanyak dua kali.

“Iya pak hakim, dua kali saya tendang,” ujarnya setelah majelis hakim kembali mengulang pertanyaan terkait berapa kali menendang korban.

Setelah mendengar keterangan terdakwa, maka sidang pun ditutup oleh ketua majelis hakim Efrata Tarigan dan akan melanjutkan sidang minggu depan dengan agenda pembacaan tuntutan.

Seperti diketahui, pembunuhan ini sempat menghebohkan masyarakat lantaran terjadi tepat di depan mata kakak perempuan dan ibu kandung korban, Minggu (19/7/2020) lalu.

Tepatnya persis di depan kediaman korban di Perumahan Griya Macan Lindungan Kelurahan Bukit Baru Kecamatan Ilir Barat I Palembang.

Rio dikeroyok lalu kemudian ditusuk oleh dua kakak beradik, tetangganya sendiri yakni Oka Candra Dinata (28) dan Rizki Ananda alias Jack (22) hanya beberapa jam sebelum calon pengantin itu melakukan foto prewedding pernikahannya.

Usai membunuh, kedua terdakwa kemudian melarikan diri. Aparat polsek Ilir barat 1 Palembang yang melakukan pengejaran, berhasil menangkap kedua terdakwa di kawasan Sembawa Kabupaten Banyuasin Sumsel.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More