intens.news
Mitra Informasi

Kembali Fitrah

0 20

RAMADAN adalah bulan spesial bagi umat Islam se-dunia. Karena di bulan ini, seluruh umat Islam menjalankan ibadah puasa mulai terbit fajar, hingga terbenam matahari. Sistem penanggalan Islam mengikuti rotasi bulan, dan ramadan berada di bulan ke-9 dari 12 bulan kalender Islam.

Ramadan berasal dari akar kata Arab ramidha atau arramadh yang berati panas terik matahari yang intens dan kering, terutama tanah. Dari akar yang sama ada ramdhaa artinya pasir terjemur. Dan dalam arti lainnya, ramadan identik dengan ibadah karena selama bulan itu juga, para umat Islam beribadah memohon ampunan pada Tuhan, dalam rangka menambah timbangan pahala dan mengurangi perbuatan yang mengarah pada dosa.

Umat Islam menjalankan ibadah puasa karena perintah Tuhan yang tercantum dalam Alquran surat Albaqarah ayat 183. Kewajiban untuk melakukan puasa secara khusus di perintahkan kepada orang-orang yang beriman. Dan terdapat Firman yang di sebutkan, “Sebagaimana di wajibkan pada orang-orang sebelum kamu”. Yang menurut para Mufassir, kewajiban berpuasa sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala.

Bagi umat Islam Indonesia, waktu Ramadan sangat identik dengan keramaian, meski pada siang hari jalanan akan terasa sepi. Keramaian tersebut mulai terjadi sejak sore, para warga biasa akan berkumpul di taman-taman sambil menanti waktu berbuka puasa. Bahkan pada malam harinya, sejak magrib orang sudah berada di masjid dan mushalla untuk melaksanakan shalat fardhu, hingga shalat tarawih berjamaah.

Suara azan, takbir, Iqamah, tahlil, dan lantunan ayat suci Alquran bergema seantero alam. Mengagungkan kebesaran Tuhan sang maha adil, dalam tunduknya hati para pecinta. Meski saat ini, pemerintah sudah memberlakukan pembatasan kegiatan berskala mikro, namun tidak akan bisa menghalangi umat muslim untuk beribadah.

Puasa pada intinya adalah latihan bagi manusia untuk mengendalikan diri. Mengendalikan hawa nafsu perut, dengan cara menahan lapar dan haus selama siang hari. Pengendalian itu sangat penting di lakukan, agar terwujud nilai-nilai kemanusiaan di tengah berkurangnya rasa keperdulian pada sesama.

Ritual berpuasa selalu identik dengan bangun sebelum subuh, masakan khas keluarga saat santap sahur bersama dan berbuka. Rasa lapar dan dahaga tersebut mungkin bagi kita yang hidupnya berkecukupan cukup membuat tersiksa. Apalagi godaan makanan dan minuman spesial yang di hidangkan saat berbuka, benar-benar mengundang selera. Meski pada hari-hari biasa, makanan tersebut terlihat tidak terlalu menarik karena sudah terbiasa menyantapnya.

Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa berpuasa maka keadaan menjadi berbeda saat ramadan. Tubuh dan jiwa yang sudah terbiasa menahan nafsu, justru membawa rahmat bagi sesama manusia. Akan banyak dermawan yang terjun langsung ke jalan-jalan membawakan makanan spesial, atau dermawan yang sengaja mengundang para fakir-miskin untuk berbuka puasa bersama. Nilai-nilai kebersamaan, kesetiakwanan sosial, dan nilai kemanusiaan meningkat saat ramadan berlangsung.

Mungkin Tuhan sengaja menjadikan ramadan sebagai pengingat pentingnya menjaga rasa kemanusiaan.  Karena pada dasarnya Tuhan tidak membutuhkan ibadah kita, puasa kita, tarawih kita. Karena manusia yang menyembah pada Tuhan. Ibadah ritual yang kita laksanakan adalah cara kita menunjukkan sikap tunduk dan patuh pada-Nya.

Selamat puasa ramadan 1442 Hijriyah, semoga kita kembali fitrah dan kembali suci dalam menjalankan kehidupan dengan menegakkan nilai sosial dan kebersamaan hingga kita menjadi manusia yang sempurna. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More