intens.news
Mitra Informasi

Ketika Lagu Iwan Fals Jadi Kenyataan

0 33

Rahmat Wijaya saat itu merasa bahagia karena sudah menyelsaikan studi strata satunya di salah satu universitas di Kota Palembang. Didampingi kedua orang tuanya, Rahmat memakai toga kebanggannya. Singkatnya, ia menjadi seorang sarjana.

Namun sayangnya, sudah 3 tahun terkahir semenjak dinobatkan jadi sarjana, ia tak kunjung mendapat pekerjaannya. Didalam kamarnya itu, ia sering mendengar lagu Iwan Fals “Engkau sarjana muda resah mencari kerja, mengandalkan ijazah mu, empat tahun lamanya berkutat dengan buku, sia-sia semuanya,”.

Rahmat adalah satu dari sekian ribuan para sarjanawan intelek yang menganggur. Betapa tidak, di zaman now ini, lapangan pekerjaan begitu susah, sementara para pengangguran kian mengurita.

Berdasarkan data dari Bidang Statistik Sosial (BPS) Sumsel, jumlah pengangguran di Sumsel meningkat sebanyak 0,25 persen atau kira-kira melonjak menjadi 185.000 orang.

Jumlah tersebut, sebelumnya ada sekitar 4,23 persen dan meningkat menjadi 4,48 persen. Data itu merupakan data terakhir dari BPS Sumsel pada bulan Agustus 2019 lalu.

Dalam periode Agustus 2018 – Agustus 2019, pengangguran di Sumsel naik 0,25 persen. Walaupun pengangguran di Sumsel meningkat, tetapi masih di bawah pengangguran terbuka nasional yakni 5,28 persen.

Rata-rata penyumbang pengangguran di Sumsel ini merupakan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). BPS mencatat, terhitung tingkat pengangguran lulusan SMK saat ini sebanyak 1,75 persen, meningkat dari tahun 2018, 9,94 persen menjadi 11,69 persen.

Jadi 11,69 persen itu kalkulasinya ada sekitar 37.000 lulusan SMK yang saat ini masih menganggur. Lulusan SMK lebih tinggi daripada SMA yang hanya 7,91 persen.

Jumlah pengangguran lulusan SMK itu, setiap tahunnya selalu meningkat. Pemerintah daerah harus mencari jalan keluar untuk menangani kasus ini, apa lagi setiap tahun ada hampir 35.000 lulusan SMK baru yang menganggur.

Sementara, Palembang sebagai ibu kota provinsi, menjadi penyumbang jumlah pengangguran terbanyak, yakni 7,94 persen dari total 185.000 orang yang menganggur. Sedangkan, Pagaralam menjadi kota paling rendah yang menyumbang jumlah pengangguran, yang hanya 2,45 persen.

Kota besar seperti Palembang dan Prabumulih itu penganggurannya masih tinggi. Sedangkan Pagaralam paling rendah, karena disana merupakan sentra pertanian sehingga perekonomian warga terbantu.

Disisi lain, kendati sulitnya mencari kerja, namun para pengagguran di Indonesia sedikit bisa menghela nafas, karena pemerintah pusat menggeluarkan program kartu pra kerja. Bayangkan, jutaan orang di Nusantara ini berbebut agar bisa masuk program yang digagas Jokowi itu. Logikanya, quota penerimaan tak sebanding para pendaftar. Kabar baiknya, ini sedikit menjadi solusi bagi para pengangguran.

Permasalahan demikian, hanya ada satu solusi bagi mereka yang hingga kini belum mendapat pekerjaan, tidak lain adalah membuat diri menjadi seorang entreprenuership. Iya, salah satu solusinya demikian, menjadi dan mencoba menjadi seorang pengusaha, usaha apa saja dari berbagai sektor asal bisa memberikan penghasilan.

Hanya saja, waktu memulai menjadi pengusaha, orang biasanya kesulitan, entah ia berfikir tidak ada modal atau pun skill ke arah sana. Jika demikian, banyak berselewiran literatur tentang  entreprenuership dan sejenisnya.

Terakhir, intinya, permasalahan pengangguran pemerintah setempat tidak hanya diam begitu saja, harus ada solusi jitu untuk menekan angka penganggurran terlebih dimasa pandemi COVID-19 ini, adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengetaskan nasib para pengangguran, jangan hanya berdiam diri saja. Semoga permasalah ini punya titik terang, sehingga Rahmat Wijaya dan ribuan orang  lainnya bisa menikmati pekerjaannya, singkat cerita, ijazahnya tidak sia-sia. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More