intens.news
Mitra Informasi

Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga Prihatin Suku Laut dan Nelayan Kerap Diganggu

0 197

Inten.news, PALEMBANG – Untuk mempertahankan adat Kesultanan di Provinsi Kepulauan Riau, Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga terus melakukan pemahaman kepada masyarakat serta tetap menjaga kelestarian cagar budaya.

Ubaidillah, Humas Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga mengatakan, saat ini pihaknya terus bersikukuh mempertahankan dan menjaga kelestarian alam serta cagar budaya yang ada disana.

“Kita menyampaikan terutama tentang turun temurun yang di daerah sini. Kita berikan pemahaman bahwa mereka mewarisi untuk menjaga dan melestarikan peninggalan nenek moyang kita. Dan kita semua bertanggung jawab,” ujar Ubaidillah saat diwawancari melalui telephone celuller, Kamis (25/11/2021).

Dikatakannya, saat ini banyak cagar budaya seperti makam para ulama jaman dahulu yang telah diratakan oleh oknum tak bertanggungjawab menggunakan alat berat. Padahal peninggalan-peninggalan seperti itu harus dijaga dan dilestarikan.

“Ada beberapa kasus di Bintan, Sungai Carang Kota Tanjung Pinang dan Batam ada enam makam habis di dozer dan belum ditanggapi pemerintah,” jelasnya.

Selain itu, baru-baru ini ada juga makam di kawasan Sungai Lekok yang akan digarap oknum untuk diratakan. Namun, pihaknya yang mengetahui itu langsung turun untuk melarang.

“Terakhir ada kondisi makam itu terhimpit perusahaan tapi sempat kita halangi karena kita mengetahui saat akan digarap. Selain itu juga bekas pabrik batu bara di Tanjung Uncang yang merupakan peninggalan kesultanan Riau Lingga juga sempat mau digarap tapi kita akan pertahankan,” tegasnya.

Selain itu, yang menjadi perhatian Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga saat ini banyaknya pengrusakan alam tejadi di Kepulauan Riau. Hal ini pun perlu mendapat dukungan dari pemerintah untuk menjaga kekayaan alam di Indonesia khususnya di Kepulauan tersebut.

“Kita melihat nasib suku laut dan nelayan termasuk nelayan yang di natuna sering diganggu nelayan dari negara asing itu sangat prihatin. Banyak yang belum paham dan sadar seperti bakau mereka digusur mereka ikut saja, terumbu karang banyak hancur. Mereka (Suku laut) yang menjadi korban. Bahkan saat ini mereka harus menjangkau 20 mil untuk mendapatkan ikan, untuk beli beras saja susah karena hasil tangkapan ikan yang menurun akibat lingkungan alam yang rusak,” jelasnya.

Sementara, Kantor Hukum H Yopie Bharata Asociates yang merupakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dari Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga mensuport penuh apa yang dilakukan Kesultanan Riau Lingga.

“Sebagai lebaga bantuan hukuk dari Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga, kita telah menyiapkan 15 orang pengacara yang siap mendukung program Kesultanan ini. Karena apa yang dilakukan oleh mereka merupakan niatan baik yakni memikirkan generasi penerus kita nanti dengan melestarikan cagar budaya dan memperhatikan Sumber Daya Alam (SDA),” kata Yopie.

Benar saja, hal ini pun tertuang dalam UU No 11 Tahun 2010 yang menyebutkan bahwa, Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaanberupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More