intens.news
Mitra Informasi

Lewat Ekonomi Berbasis Pertanian, Angka Kemiskinan Pagar Alam Terendah di Sumsel 

0 28

intens.news, PAGARALAM – Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel menempati posisi ke-10 sebagai daerah termiskin di Indonesia. Meski begitu, khusus Kota Pagar Alam menjadi salah satu kota terendah tingkat angka kemiskinan dibanding Kabupaten/Kota lain di Provinsi Sumsel walaupun juga mengalami kenaikan dari 8,90 persen (2019) menjadi 9,07 persen (2020).

Merujuk pada laman BPS Kota Pagar Alam bahwa indikator kemiskinan Kota Pagar Alam 2018 – 2020 jumlah penduduk miskin (ribu orang) tahun 2018 (12,07), tahun 2019 (12,37) dan tahun 2020 (12,71), sedangkan persentase penduduk miskin (PO) (%) tahun 2018 ( 8,77) tahun 2019( 8,90) dan tahun 2020 (9,07).

Sedangkan pada tingkat Kabupaten/Kota di Sumsel sendiri, untuk jumlah penduduk miskin (Ribu Jiwa) di urutan pertama ada Kota Palembang, dengan jumlah penduduk miskin (Ribu Jiwa) di tahun 2018 179,32, tahun 2019 180,67 dan tahun 2020 182,61, kemudian disusul oleh Kabupaten Ogan Kemering Ilir (OKI) di tahun 2018 124,86, tahun 2019 124,14 dan tahun 2020 123,34, untuk peringkat ketiganya Kabupaten Musi Banyuasin di tahun 2018 105,15, tahun 2019 105,83 dan tahun 2020 105,38.

Kepala BPS Kota Pagar Alam Dedi Fahlevi membenarkan kenaikan angka kemiskinan tersebut, dan ini hampir terjadi di seluruh Kabupaten/Kota di Sumsel dan salah satu indikator atau penyebabnya adalah Covid-19.

Pasalnya, kata Dedi, sejak pandemi hampir seluruh kegiatan perekonomian bergerak lambat bahkan sampai berhenti yang menyebabkan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penurunan pendapatan masyarakat.

“Akan tetapi penurunan perekonomian di Pagar Alam relatif masih tergolong baik dibanding derah lain, karena basis perekonomian kita Pagar Alam adalah pertanian,”jelas Dedi.

Dedi mengungkapkan, tetapi perlu diperhatikan juga bahwa ekonomi masyarakat Pagar Alam rata-rata sedikit di atas garis kemiskinan, dan diselamatkan oleh harga komiditi pertanian yang relatif stabil di tahun 2019 dan 2020.

Contohnya, terang Dedi, kalau harga kopi turun, maka tentu akan berdampak pada kenaikan jumlah penduduk miskin di Pagar Alam.

“Dan satu hal yang membuat Pagar Alam relatif aman dari sisi ekonomi adalah karena pola konsumsi masyarakat yang beroreintasi pada jangka panjang,dan pendapatan yang didapat bersifat tahunan sehingga masyarakat berhati-hati dan  menahan konsumsinya,”ujarnya.

Menanggapi hal ini, Walikota Pagar Alam Alpian Maskoni menyebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Pagar Alam akan terus berupaya, dalam hal menurunkan angka kemiskinan di Kota Pagar Alam.

“Ini menjadi tantangan bagi kita  untuk senantiasa menjaga tetap di 1 digit. Dan kiat-kiat yang bisa kita lakukan, yakni memastikan hasil mereka bisa kita tingkatkan. Khususnya, pertanian dan pariwisata, dengan penyuluhan dan bantuan alat, juga selalu mengkampanyekan dan membantu stek kopi, serta pinjaman o%,” pungkasnya.

editor : Fadhil

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More