intens.news
Mitra Informasi

Mancing Mania di Sumsel, Sungsang Spot Para Angler

0 306

intens.news, PALEMBANG – Bagi penggemar memancing ikan di laut, atau disebut para Angler, wilayah laut Sungsang yang terletak di Muara Sungai Musi dan Muara Selat Bangka merupakan spot andalan. Berbagai macam jenis ikan laut seperti ikan Talang-talang, Blambangan , Simba, Kerapu,  Gerot, Sembilang  dan Kiper menjadi sasaran para Angler. Sejak lama, para Angler di Sumsel memanfaatkan areal laut itu menjadi tempat memancing ikan.

Pilihan untuk memancing ikan ini, bisa dilakukan di atas Bagan Tancap, tempat para nelayan Sungsang menjaring ikan teri dan ikan lainnya, atau tetap berada di perahu dan berkeliling mencari ikan di sekitar  bagan. Ada sekitar 50 bagan lebih berdiri di seputar laut Sungsang tersebut.

Banyak kelompok pemancing yang sering menyambangi wilayah Sungsang ini. Diantaranya Jurnalis Fishing Clup, Graha Pena Fhising Club dan lain-lainnya. Mereka memanfaatkan perahu spead boat atau kapal pompon milik nelayan untuk mencapai bagan laut. Setiap Sabtu Minggu, club-club mancing mania ini membanjiri Sungsang. Mereka bahkan tidak mengenal istilah bulan gelap atau bulan terang atau bulan-bulan yang diyakini banyak ikannya. Hobby kadang-kadang menyampingkan hal itu.

Istilah Bulan Gelap dan Bulan Terang itu, berkaitan dengan bulan purnama. Memang saat bulan purnama, wilayah laut pun seakan akan terang sehingga ikan-ikan tidak berkerumun di lampu petromak yang mengundang plankton datang. Bulan gelap menyebabkan plankton berkerumun di bawah lampu petromak yang dipasang di tengah jaring ikan. Karena banyak plankton, ikan-ikan pun menyerbu areal tersebut. Karena itulah, rezeki para pemancing lebih besar daripada ketika bulan terang.

Untuk mencapai Sungsang, sejak jaman Sumsel dipimpin Gubernur Syahrial Oesman, relative lebih mudah. Kendaraan roda empat pun cukup menempuh waktu sekitar dua atau tiga jam sudah sampai di wilayah Kota Sungsang yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banyuasin. Dulu, untuk mencapai wilayah ini masyarakat Sumsel harus naik spead dari wilayah Palembang. Perjalanan juga sekitar dua jam setengah atau tiga jam. Tetapi kini setelah jalur akses darat terbuka, perjalanan melalui spead boat diperpendek waktunya, cukup memerlukan waktu setengah jam sudah mencapai bagan laut jika dihitung dari dermaga Sungsang.

Ongkos spead boat pun kini sudah naik. Dulu ongkosnya hanya sekitar 500 ribu. Kini, biaya spead sudah mencapai antara Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. Para nelayan pemilik bagan pun sudah sangat pintar memanfaatkan hal ini. Jika para pemancing ingin menempati bagan mereka dibuatlah ketentuan harus menggunakan juga spead boat atau kapal pompon milik mereka. Biaya pompong dan spead boat pun dipatok sama.

Sebelum menuju bagan, para Angler mengisi dulu boks boks ikan mereka dengan es batu yang juga dijual di wilayah Sungsang. Satu balok besar dijual Rp 40 ribu. Setelah itu, para Angler membeli umpan udang dengan harga antara Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Setelah kedua hal itu dilakukan, para Angler pun segera menuju bagan dan memulai memancing ikan hingga kembali pulang sore esok hari. Mereka dijemput kembali menggunakan spead yang mengantar mereka kemarin.

Wilayah laut Sungsang ini memiliki karekter tersendiri. Di setiap bagan yang jaraknya berdekatan, cuma berjarak sekitar 300 hingga 400 meter, ikan yang berhasil di tangkap tidaklah sama. Walaupun bagan itu berdekatan, bisa saja terjadi di bagan yang satunya hasil pemancing nihil. Memilih bagan juga menentukan apakah hasil pancing akan memuaskan atau zonk. Tetapi jika sudah ketemu bagan yang banyak ikannya, bagan tersebut akan kembali dikunjungi para Angler. Ada istilah bagan surut, bagan pasang, bagan laut, dan bagan pinggir. Semua bagan-bagan ini menentukan berhasil tidaknya para pemancing mendapatkan ikan. Pengalaman dan kejelian termasuk informasi dari pemilik bagan menentukan hasil pemancing.

Menurut Yurdi, warga Sukabangun, salah seorang pemancing ikan dari Jurnalis Fishing Club, kegilaan dia memancing di laut Sungsang sudah dimulainya sejak 12 tahun lalu. Dulu, laut Sungsang banyak ikannya tetapi kini sudah mulai berkurang.

‘’Dulu untuk memenuhi isi boks pancing kita dak sesusah sekarang ini. Sebentar saja boks ikan kita penuh. Kini hasil pancing tidak sebanyak dulu. Mungkin karena cuaca yang tidak bagus atau semakin banyaknya kapal-kapal nelayan yang menjaring ikan menyebabkan ikan tangkapan para pemancing mulai sedikit,’’ katanya.

Walau demikian menurut Yurdi, dia dan kawan-kawannya tidak kapok. ‘’Kadang-kadang hasil pancingan kita lumayanlah. Memang kalau dihitung dengan biaya yang dikeluarkan tidaklah untung. Tetapi ini masalah hobby. Yang dicari ini ‘jujutan’ atau tarikan ikan di alat pancing kita. Kalau mau beli ikan bisa ke pasar tapi jujutan itu tidak ada di pasar,’’ katanya.

 Komar, pemacing ikan yang tinggal di sekitar Jalan Noerdin Pandji mengaku bahwa dia baru tiga bulan belakangan hobby memancing di wilayah Laut Sungsang.

‘’Dulu saya bersama teman-teman biasa memancing ikan Toman, Gabus tapi setelah diajak teman ke Laut Sungsang, saya sudah pernah lagi memancing di Sungai. Di laut Sungsang tantangannya lebih hebat. Tarikan ikan tidak terduga duga. Kekuatan snar pancing kita yang 50 libis saja (bisa menarik ikan sekitar 25 kg) saja bisa putus oleh ikan-ikan di bawah bagan. Tantangan memancing di Sungsang lebih mantap dan ikan-ikan yang berhasil kita tangkap lebih berkelas seperti ikan Kerapu, Gerot dan Simba,’’ katanya.

Yurdi dan Komar termasuk angler laut yang bisa disebut Gilo Mancing. Hampir tiap minggu mereka berangkat memancing di Sungsang. ‘’Kami tidak perduli bulan gelap atau bulan terang. Ikan kan tidak berdiam diri. Ikan-ikan itu berenang kemana saja dan rezeki sudah diatur Allah. Yang penting kalau sudah berada di atas bagan, kita berdoa dan berusaha,’’ ujar keduanya.

Ikan Blambangan hasil mancing di perairan Sungsang

Memang, kegilaan memancing bisa menghilangkan akal sehat. Walau ongkos memancing bisa mencapai sejuta rupiah, para Angler menyumbang bersama-sama. Kalau pergi berlima artinya sumbangan pemancing sekitar 200 ribuan. Ini baru ongkos spead. Ada tambahan biaya lainnya untuk membeli beras, mie, air minum, rokok dan lain-lainnya. Jadi setiap pemancing minimal menyumbang sekitar Rp 300 ribuan. Hasil ikan yang didapat mungkin tidak banyak ongkos yang dikeluarkan.

‘’Memang duit Rp 300 ribu kalau kita beli ikan di pasar banyak sekali. Tetapi yang kami cari ini tarikan ikan di alat pancing kita. Sensasi ini tidak didapat saat membeli ikan di pasar,’’ ujar Komar.

Ya begitulah dalih para Angler. Kini semenjak pandemic Corona menerjang, para pemancing ikan di wilayah Sungsang semakin banyak. ‘’Daripada di rumah saja lebih baik kami memancing ikan. Kita bisa berjemur di atas bagan agar imun tubuh bertambah dan lebih baik pergi memancing daripada pergi ke café nongkrong-nongkrong beramai-ramai. Bisa bisa kena Corona. Lebih baik memancing ikan. Badan sehat, hobby pun tersalurkan,’’ ujarnya.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More