intens.news
Mitra Informasi

Membedakan Ular Berbisa dan tidak Berbisa, Begini Caranya

0 382

Intens.news, PALEMBANG – Pembahasan tentang cara membedakan ular berbisa dan tidak berbisa, cukup sering dilakukan, baik itu di dalam sebuah forum terbatas, blog, media, maupun sosial media lainnya.

Namun sayangnya, tidak sedikit yang masih keliru dalam menyampaikan tentang pendapat ular berbisa dan tidak berbisa. Keliru disini bukan salah, tetapi hanya kurang tetap. Seperti tentang pendapat bahwa ular berbisa kepala-nya segitiga. Asumsi ini tidak salah, namun tidak juga sepenuhnya benar.

Memang, sebagian ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga, terutama dari keluarga Viper, seperti ular tanah atau Calloselasma Rhodostoma, maupun Trimeresurus Albolabris atau ular hijau ekor merah.

Begitu pun dengan warna. Warna yang terang dan cerah, disebut cenderung berbisa. Ya, memang benar. Sebagian memang seperti itu. Layaknya Albolabris, Trimeresurus Insularis, hingga Wagler.

“Namun perlu diketahui, King Kobra sama sekali berbeda dengan penjelasan tersebut. Secara visual, King Kobra berwarna hitam gelap, bentuk kepalanya pun oval. Walaupun tidak sama seperti penjelasan tersebut, namun faktanya, King Kobra justru jenis ular berbisa tinggi dan mematikan,” ungkap seorang Reptiler, Sadam Maulana.

Menurut Sadam, Ular tanah sama saja, kepalanya berbentuk segitiga, tetapi warnanya justru gelap. Hal ini untuk memudahkannya berkamuflase dengan daun kering di perkebunan yang menjadi habibatnya.

“Untuk jenis ular yang tidak berbisa, juga ada berwarna cerah. Contoh paling mudah dilihat ialah Morelia Viridis atau Sanca Hijau dari Papua. Warnanya begitu cerah dan indah, tetapi justru tidak berbisa,” jelasnya.

Lantas, bagaimana sebenarnya untuk membedakan ular berbisa atau tidak?

Sadam menerangkan, kalau ada lebih dari 2.000 spesies ular yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Namun hanya ada sekitar 200 spesies lebih ular yang berbisa atau hanya sekitar 15 persen. Dari 15 persen ini kembali digolongkan menjadi tiga bagian, berbisa rendah, menengah dan tinggi.

Beberapa jenis ular berbisa yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, yaitu ular cobra, ular hijau ekor merah, ular welang, weling, cincin emas atau boiga dendrophila, dan beberapa jenis ular lainnya.

Ular tanah sendiri untuk di Sumatera tidak ada, karena hanya ada di Pulau Jawa dan Kalimantan. Sementara yang tidak berbisa umum ditemukan ialah Ular Sanca atau Python, Lanang Sapi, Ular Kepala Dua, Tali Picis, Ular Jali, Ular Bajing, dan beberapa jenis ular lainnya.

“Untuk beberapa nama yang sama sebutkan tadi, sebagian dari kalian mungkin sudah mengetahui, seperti Cobra dan Sanca. Dari bentuk fisik dan karakter, dua ular ini sangat mudah dibedakan,” terangnya.

Namun bagi yang tidak tahu spesies lain, lanjutnya, tentu akan sulit mengidentifikasi apakah ular yang ditemui berbisa atau tidak. Karena seperti yang dijelaskan, sulit dan tidak ada ciri khusus yang spesifik untuk membedakan Ular berbisa dan tidak, jika hanya dilihat secara visual.

“Namun jangan khawatir. Walaupun secara visual cukup sulit, namun ada cara yang bisa membuat kalian paham apakah Ular tersebut berbisa atau tidak,” ujarnya.

Berbisa dan tidaknya ular, kata Sadam, secara garis besar bisa dilihat dari bagaimana cara Ular menghindari manusia. Ketika bertemu manusia, Ular berbisa biasanya cenderung agak pelan dalam upaya melarikan diri.

Ular berbisa dapat disebut punya ‘kepercayaan diri’ yang tinggi karena punya ‘senjata’ mematikan. Mereka cenderung lebih tenang jika terlibat konflik dengan manusia. Karakter berbeda ditunjukkan ular yang tidak berbisa. Biasanya, saat melarikan diri pergerakannya lebih gesit.

“Ingat, ini hanya identifikasi secara garis besar. Cara ampuh bedakan ular berbisa atau tidak berbisa, hanya dapat dilakukan dengan mengecek secara langsung bagian mulut ular. Cara yang memang cukup ekstrem bagi orang awan,” tuturnya.

Namun sayangnya, menurut Sadam hanya cara ingin yang dapat menjamin 100 persen identifikasi akurat. Karena melihat bentuk fisik, nyaris tidak ada ciri khusus yang spesifik, antara Ular berbisa dan tidak berbisa.

Sebagai gambaran, Sadam menjelasan tentang jenis gigi Ular. Gigi ular sendiri tergolong dalam empat jenis. Gigi Aglypha, Opisthoglypha, Proteroglypha, dan Solenoglypha.

Dari keempat jenis ini, hanya satu jenis gigi yang tidak memiliki taring bisa, yaitu gigi Aglypha. Gigi Aglypha yaitu bentuk atau tipe gigi ular yang semuanya rata dan berbentuk besar.

Biasanya ular dengan gigi seperti ini terdapat pada kelompok Keluarga Pythonidae, Boidae, dan beberapa pada Keluarga Colubridae. Contohnya Ular Sanca, Mono Pohon, dan Ular Gadung.

Kedua Opisthoglypha. Tipe gigi ular ini terdapat taring bisa yang letaknya di bagian belakang rahang atas. Karena ada dibagian belakang, ular ini harus terlebih dulu menggigit mangsanya hingga ke bagian belakang atau dikunyah untuk menginjek bisanya.

Jika hanya tergigit selintas dan langsung terlepas, maka tidak akan terinjeksi bisa, hanya mengalami luka bekas gigitan. Jenis gigi ini biasanya dimiliki sebagian kelompok Keluarga Colubridae, seperti halnya Ular Cincin Emas dan Ular Picung.

Selanjutnya Proteroglypha. Jenis ular ini memiliki tipe gigi taring bisa yang berada di bagian depan rahang. Jenis taring ini memiliki bisa yang mematikan. Dan ketika terkena gigitan, bisa ular dapat langsung masuk ke dalam tubuh. Ular yang punya taring bisa ini merupakan ular dari keluarga Elapidae, seperti Cobra, King Cobra, Welang dan Weling.

Terakhir ialah Solenoglypha. Tipe gigi taring bisa yang dapat dikatakan paling panjang serta dapat dilipat ke arah belakang yang letaknya di bagian depan rahang atas. Kelompok ular yang memiliki taring bisa ini yaitu kelompok Keluarga Viperidae, seperti ular tanah dan ular hijau ekor merah.

Dengan memahami jenis bisa ini, terang Sadam, setidaknya dapat mengetahui, ketika ada yang terkena gigitan ular secara tidak sengaja, dapat mengidentifikasi apakah ular tersebut berbisa atau tidak.

Karena ketika ular berbisa mematuk, ada dua bekas gigitan taring bisa yang nampak jelas, dengan beberapa gigitan gigi biasanya melukai secara acak. Jika ini terjadi, segera lakukan imobilisasi atau membidai bagian tubuh yang terkena gigitan, di gif seperti orang patah tulang.

Bagian tubuh yang terkena gigitan sebisa mungkin jangan digerakan, untuk menghambat laju bisa menjalar ke dalam tubuh. Dan selanjutnya segera dilarikan ke rumah sakit.

Sedangkan gigi yang tidak punya taring, tidak ada bekas dua gigitan taring yang nampak jelas, hanya luka secara acak. Meski demikian, tetap saja gigi Aglypha berbahaya. Karena jika yang menggigit seperti Ular Python, dapat mengakibatkan luka robek karena gigi-giginya yang besar.

Editor: Sadam

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More