intens.news
Mitra Informasi

Menggugah Dunia Pendidikan Kita

0 52

PENDIDIKAN selalu identik dengan cara formal yakni melalui sekolah dan lembaga. Alur strata pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Namun sebenarnya, pendidikan itu tidak selalu harus di lewati dengan pendidikan formal, karena ilmu dan pengetahuan menjadi berguna jika fungsinya dapat membantu saat di terapkan.

Pemerintah saat ini terus mendorong pentingnya literasi, dan membudayakan membaca bagi seluruh masyarakat. Pemberantasan buta aksara salah satu agenda pemerintah, di kawasan-kawasan miskin kota dan juga wilayah yang jauh dari lembaga pendidikan. Meski saat ini dunia digital menjadi budaya kehidupan masyarakat kota, namun masih banyak warga yang buta aksara. Kemampuan membaca dan menulis yang sangat rendah, di perkirakan menjadi pemicu kesenjangan ekonomi dan strata sosial di masyarakat.

Meski hal itu dinilai nyata, tapi sebagian kita kemudian melihatnya dari perspektif berbeda ketika memandangnya dari sudut lain. Kenyataannya, banyak para petani-petani yang memilki hektaran lahan kebun dan sawah, justru lebih sejahtera. Meski mereka tidak pernah membaca, atau menikmati pelajaran teori-teori pertanian di bangku sekolah dan kuliah. Tanpa sadar, dengan kata yang angkuh terkadang terdengar ucapan, “Saya tidak pernah sekolah tapi saya punya uang,”, dan atau “Saya tidak pernah sekolah dan tidak bisa membaca. Saya sadar kalau saya bodoh, tapi saya lebih kaya,”.

Jangan salahkan mereka, atau mencoba berdebat dengan seseorang yang nyaris tidak memiliki pemahaman dasar-dasar keilmuan. Dalam ketidaktahuannya, mereka yang kurang beruntung tersebut mendapat keringanan dari Tuhan, dengan memudahkannya menjalani kehidupannya. Keadilan Tuhan tidak sebatas seberapa kaya dia dengan aset dan uang yang dimiliki. Ini adalah cerita sudut pandang, namun tidak selalu sama dengan kenyataan.

Kesadaran tersebut, menggugah sebagian kita yang beruntung menikmati alam keilmuan di bangku sekolah. Mungkin orang tua kita adalah para petani kaya yang tidak beruntung. Tapi pesan mereka pada anak-anaknya selalu sama, “Tolong jangan bodoh seperti kami,”. Mereka selalu memotivasi agar belajar dan terus belajar, karena para orang tua memahami bahwa ilmu akan membawa keselamatan dan tidak akan terpuruk dalam kenistaan.

Pertanyaannya, kenapa saat ini banyak sarjana-sarjana yang menganggur? Bekerja tidak sesuai dengan ilmu terapan yang mereka miliki dan gali di bangku kuliah? Keilmuan di bangku kuliah yang ditempuh hampir tidak berguna di kehidupan sehari-hari? Ataukah ada yang salah?

Inilah yang banyak mengganggu fikiran para guru-guru besar di perguruan tinggi, mengganggu fikiran para ilmuan sosial dan politik di negeri kita. Seakan terjadi dikotomi yang besar antara kebutuhan skill pasar tenaga kerja dengan kapitalisme pendidikan di Indonesia. Pendidikan kita saat ini nyaris belum mendukung kebutuhan pasar tenaga kerja secara makro dan mikro. Ilmu terapan yang di ajarkan, nyaris tidak bisa di gunakan oleh para siswa, saat mereka sedang belajar atau setelah di nyatakan lulus dari lembaga tersebut.  Contoh kecil, siswa SMU mendapat pelajaran ilmu komputer. Yang diajarkan adalah bagaimana menghidupan dan mematikan komputer. Pengenalan software dan hardware komputer. Serta sedikit pelajaran microsoft word, exel, dan grafis. Siswa kemudian lulus secara teori, tetapi tidak pernah sekalipun menggunakan komputer.

Akibatnya, meski telah mendapat sertifikat lulus ilmu dasar komputer, mereka tidak bisa menggunakannya. Tahu komputer tapi tidak dapat menerapkannya dalam kehidupan yang nyata. Saat di uji, secara teoritis mereka sangat memahami. Tapi saat di suruh menggunakan mereka menyerah dan menyatakan tidak bisa mengoperasikannya.

Bagaimana kalau pendidikan di masa depan dilakukan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Misalkan, di Sumsel terdapat banyak mining atau pertambangan seperti batubara, minyak, gas, dan geothermal. Alangkah lebih bijak, jika di wilayah yang terdapat industri tersebut lembaga pendidikan mengutamakan pembinaan skill calon-calon pekerjanya. Mulai dari ilmu managemen, marketing, tata kelola pertambangan, teknik pertambangan batubara, minyak, gas, dan panas bumi, tekhnik safety pertambangan, dan lainnya.

Atau kota Palembang sebagai kota Metropolitan dan perdagangan. Pemerintah pasti membutuhkan para usahawan dan pebisnis yang tangguh, agar roda perekonomian dapat berjalan dengan maksimal. Maka yang harus digalakkan adalah universitas yang membina calon-calon pengusaha, pebisnis, dengan ilmu terapan marketing yang handal. Di dukung pula dengan Ilmu perbankan, administrasi perkantoran,  managemen dan tata kelola perusahaan, serta komputerisasi.

Namun, dunia usaha yang belum maksimal saat ini belum dapat membuka peluang terciptanya lapangan kerja yang luas. Ada baiknya didirikan Universitas khusus pengelolaan Usaha Kecil Menengah, hingga sarjana tersebut kemudian mendirikan usaha-usaha baru dengan peluang-peluang yang besar.  Dana stimulan UMKM dari pemerintah dapat di salurkan kepada mereka yang memegang sarjana lulusan universitas UMKM.

Saya mengapresiasi lembaga pesantren. Karena lulusan pesantren di pastikan akan berguna di masyarakat. Para santri-santri tersebut berdakwah, mereka sudah biasa memimpin yasin dan tahlil, menjadi guru ngaji dan guru agama, menjadi imam, khatib, dan penceramah. Berjuang dari, oleh, dan untuk agama. Wallahu’lam. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More