intens.news
Mitra Informasi

Menghargai Waktu

0 37

PEPATAH “Waktu laksana pedang” menyadarkan kita betapa pentingnya menghargai waktu. Karena pada dasarnya, kita hidup benar-benar hidup di kejar dan mengejar waktu karena waktu tidak bisa di ulang.

Sedemikian pentingnya waktu, sederet orang bijak menyelaraskannya dengan pepatah lain yang berhubungan dengan waktu, seperti “Time Is Money”, atau waktu adalah uang. Karena bagi pebisnis yang berkecimpung dalam dunia pemasaran atau marketing, pencapaian tersebut harus di buktikan dengan hasil yakni uang atau materi.

Baiklah, tidak ada yang perlu di ributkan antara objek pedang dan uang. Yang pasti, pepatah di atas subjeknya adalah waktu. Namun, memahami waktu secara makro akan lebih panjang pembahasannya, karena akan melibatkan ilmu-ilmu astronomi, fisika, antropologi, hingga agama atas keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan pun bersumpah dalam Alquran Surat Al Ashr, yang kemudian menjadi karya bertumpuk-tumpuk buku tebal oleh para ahli tafsir, ulama Fiqh, dan  cendekiawan muslim. Kata “Demi Masa” kemudian menjadi inspirasi para ilmuan hingga menghasilkan berbagai karya ilmiah, dan bahkan tekhnologi yang berguna bagi umat manusia.

Namun saat memahami waktu secara mikro yang berhubungan dengan personal atau diri sendiri, justru memberi kesadaran dan refleksi atas apa yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan dalam rangka memanfaatkan waktu tersebut. Meski sejenak, namun cukup mengingatkan akan pentingnya waktu yang terus berjalan seiring tubuh kita yang semakin meninggi dan berotot, atau sebaliknya waktu terus berjalan seiring otot kita terus mengendur dan menua.

Sama halnya dengan negeri kita Indonesia. Usia 75 tahun bagi manusia adalah usia sepuh, sebaliknya bagi negeri NKRI, 75 tahun adalah usia yang baru meranjak remaja. Jati diri bangsa yang di gariskan oleh para pendiri bangsa harusnya merasuk dan tertanam tidak sekedar slogan dan kata. Tapi sudah menjadi bagian perilaku dan tata krama yang menghiasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila merupakan falsafah yang aplikasinya terwujud dalam nilai-nilai kehidupan dan kemasyarakatan yang berperadaban. Falsafah Pancasila menanamkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, persamaan hak, dan menolak berbagai tindakan yang menzolimi dan merugikan warga bangsanya bahkan bagi bangsa lain.

Tanggal 1 Oktober 2020 yang sedang kita jelang, mungkin sebagian dari kita menganggapnya bukan hal penting. Meski akan ada seremonial berupa upacara bendera dengan sejenak mengheningkan cipta, atau di beberapa rumah akan menegakkan bendera merah putih setengah tiang tanda negara sedang berkabung. Mungkin bagi sebagian kita menganggapnya hal tersebut kuno, telalu melankolis, atau yang lebih ekstrem lagi tindakan tersebut adalah bid’ah.

Tapi, bagi para mantan mahasiswa-mahasiswi yang aktif dan turut berjuang dalam proses revolusi tahun 1965. Maka tanggal 1 Oktober amat penting dan berarti dan memberi warna yang tidak pernah terlupakan dalam hidupnya. Aksi demonstrasi besar-besaran yang pada akhirnya di tutup dengan drama G30s/PKI masih menyisakan sesaknya gurauan asmara meski kini mereka sudah berumur lebih dari 60 tahun.

Kita yang tidak pernah menyaksikan peristiwa tersebut, hanya membayangkan buah kengerian dari peristiwa yang penuh kesumat lewat pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bagi generasi yang lahir tahun 2000 keatas, kisah kuno ini nyaris hanya menjadi mitos dalam kerenyitan kening mereka yang bertanya atas kebenaran informasi tersebut.

Sumber referensi internet yang hoax, dan argumen dari para penyandang gelar akademis dengan interpretasi serta argumentasi yang terbarukan, justru memberikan keraguan bagi para generasi pada pentingnya Pancasila yang menjadi falsafah bangsa Indonesia. Atau sudah saatnya para penerus bangsa membuat drama baru, namun dengan kisah yang lebih romantis tanpa darah dan air mata?

Teori siklus Ibnu Khaldun dalam kitab Al Mukaddimah menyebutkan, siklus peradaban akan terjadi dalam beberapa tahapan yakni: Pertama, tahapan kesuksesan suatu negeri dimana negara didukung oleh masyarakat yang berhasil menggulingkan kedaulatan sebelumnya. Kedua, tahapan tirani, tahap dimana penguasa berbuat sekehendaknya pada rakyat. Ketiga, tahap sejahtera yakni ketika kedaulatan telah dinikmati oleh seluruh rakyat. Keempat, tahap hidup boros dan berlebihan. Dan di tahap ini, penguasa menjadi perusak warisan pendahulunya, pemuas hawa nafsu dan kesenangan. Menurut Ibnu Khaldun, di tahap ini negara tinggal menunggu kehancurannya.

Dalam Tahap-tahap tersebut, jelas Ibnu Khaldun, akan memunculkan tiga generasi, yaitu: Generasi Pembangun, yang dengan segala kesederhanaan dan solidaritas yang tulus tunduk dibawah otoritas kekuasaan yang didukungnya. Generasi Penikmat, yakni mereka yang karena diuntungkan secara ekonomi dan politik dalam sistem kekuasaan, menjadi tidak peka lagi terhadap kepentingan bangsa dan negara. Generasi Tidak Perduli, yakni generasi yang tidak lagi memiliki hubungan emosionil dengan negara. Mereka dapat melakukan apa saja yang mereka sukai tanpa memedulikan nasib negara. Jika suatu bangsa sudah sampai pada generasi ketiga ini, maka keruntuhan negara sebagai sunnatullah sudah di ambang pintu.

Teori tetaplah hanya teori, sebab masa depan bangsa saat ini di tangan kita, di tangan rakyat Indonesia. Pancasila berkali-kali di uji dan Indonesia tetap jaya. Selamat hari kesaktian Pancasila 1 Oktober 2020. Semoga kemenangan mensejahterakan bangsa. Wallahu’lam. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More