intens.news
Mitra Informasi

Menunggu Kebangkitan Wisata Pagaralam Pasca Teror Harimau dan Corona

0 103

SEKTOR pariwisata Kota Pagaralam sempat terpuruk dan mengalami kelesuan. Padahal sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak perekonomian masyarakat di Pagaralam yang dikenal banyak memiliki objek wisata, baik itu yang dikelola swasta maupun yang dikelola pemerintah.

Sebutan sebagai salah satu kota destinasi wisata yang melekat pada kota dengan sebutan Besemah ini pun sempat meredup, dengan hebohnya kemunculan isu harimau sumatera pada pertengahan November 2019 lalu, dan itu dibuktikan dengan adanya warga luar kota Pagar Alam yang diserang sosok harimau saat bermalam (camping) di kawasan objek wisata Gunung Dempo.

Belum hilang rasa takut masyarakat dan kepastian prihal kemunculan harimau tersebut,masyarakat kembali dihebohkan dengan meninggalnya warga Tanjung Sakti Kabupaten lahat yang menurut keterangan saksi juga akibat serangan harimau saat beraktivitas di perkebunan.

Di awal Desember 2019, kejadian menggenaskan yang diduga akibat serangan harimau sumatera kembali menghebohkan warga Pagaralam dan sekitarnya, dengan ditemukanya sosok mayat yang tinggal tulang dan potongan kaki di areal perkebunan Desa tebat benawah Kelurahan Penjalang Kecamatan Dempo Selatan,diketahui mayat tersebukan merupakan warga Kabupaten Lahat yang menggarap perkebunan di Pagaralam.

Dan peristiwa ini pun viral,tidak hanya di Pagar Alam dan Kabupaten Lahat, namun juga di Sumatera Selatan bahkan di tingkat nasional,ditambah dengan banyaknya temuan jejak kaki oleh sebagai masyarakat yang secara bentuknya diduga kaki harimau terlepas itu hoak atau benar namun kata takut untuk ke Pagar Alam pun mulai terasa, bahkan masyarakat yang berprofesi sebagai petani pun secara perlahan malas beraktivitas karena takut.

Dengan beberapa kejadian tersebutlah, Pemerintah Kota Pagaralam mengeluarkan himbauan agar masyarakat menjauhi aktivitas di perkebunan terutama yang berbatasan dengan kawasan hutan lindung,bahkan masyarakat yang bermalam di perkebunan di minta untuk pulang kerumah mereka dan secara otomatis objek wisata di Pagaralam pun ditutup salah satunya yakni objek wisata Tugu Rimau yang merupakan perbatasan kebun teh milik PTPN VII dengan Hutan Lindung Gunung Dempo,meskipun aparat kepolisian rutin menggelar patroli di sejumlah kawasan objek wisata namun tetap saja sepi pengunjung.

Ketakutan wisatawan untuk datang ke Pagar Alam pun menjadi-jadi,Pasalnya di Penghujung tahun 2019,Kecelakaan maut  dialami Bus Sriwijaya rute Bengkulu-Palembang yang terjun bebas di Liku Lematang Indah dan menewaskan puluhan penumpang di dalamnya.

Akhirnya, momen libur panjang seperti Natal dan Tahun baru 2020  menjadi duka bagi sektor wisata dan para pelaku usaha  Pagar Alam,hampir seluruh pelaku usaha seperti penginapan hotel, villa dan homestay gigit jari,karena boking atau pemesanan yang dilakukan dari jauh hari pun di cancel (batal),begitu juga dengan pelaku wisata swasta,sarana rekreasi yang mereka kembangkan tidak sesuai dengan apa yang diharapakan.

Photo: Delta Handoko

Pertengahan Januari 2020, Pemerintah Kota Pagar Alam pun harus memutar otak untuk kembali menggalakan sektor pariwisata,berbagai upaya untuk mengkampanyekan a bahwa Pagar Alam aman untuk dikunjungi atau #Jangan Ragu Ke Pagar Alam terus disuarakan untuk mepromosikan wisata Pagaralam.

Bahkan di awal Februari,orang nomor satu di Sumatera Selatan yakni Gubernur Herman Deru datang langsung untuk membantu mempromosikan sektor pariwisata Pagar Alam dengan tajuk Camping Bersama Gubernur Herman Deru,yang dalam kegiatan tersebut Herman Deru menyampaikan bahwa masyarakat baik itu wisatawan lokal maupun luar tidak perlu takut karena harimau sumatera yang selama ini membuat resah sudah berhasil ditangkap di Kabupaten Muara Enim dan sudah dibawah ke kebun binatang.

Alhasil, rasa was-was yang selama ini meghantui masyarakat pun berangsur hilang, dan secara perlahan sektor pariwisata Pagar Alam pun mulai beranjak bangkit,pelaku usaha pun mulai bisa bernafas lega, namun untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat tentag isu harimau sumatera sudah selesai Pemerintah pun masih harus rutin melakukan promosi termasuk dengan menggelar iven-iven nasional untuk menarik wisatawan.

Akan tetapi, di tengah semangatnya menggalakkan sektor pariwisata yang kurang lebih tiga bulan melesu, Sektor Pariwista Pagar Alam kembali mendapat ujian dengan WHO menetapkan Pandemi covid-19 (corona), dan Pagar Alampun tertanggal 24 April 2020 melalui SK Walikota Pagar Alam ditetapkan status siaga bencan Covid-19,terlebih dengan adanya maklumat Kapolri tentang pembatasan kegiatan sosial termasuk yang bersifat berkumpulnya orang dalam jumlah banyak secara otomatis walaupun tidak ada imbauan penutupan terhadap pariwistaa Pagar Alam,namun banyak pelaku usaha termasuk usaha penginapan yang menutup diri masing-masing,dan ini lagi-lagi menjadi duka bagi mereka karena secara ekonomi mereka kembali dirugikan.

Dan pemerintah pun mengeluarkan kebijakan untuk memberikan stimulus berupa penghapusan dan pengurangan pajak daerah kepada pelaku usaha termasuk usaha hotel dan penginapan selama tiga bulan yakni April-Mei dan Juni dan retribusi objek wisata pun di tutup oleh Dinas Pariwista Pagaralam.

Awal Juni 2020, Pagaralam menjadi salah satu Kota yang berikan kewenangan oleh Pemerintah pusat untuk menerapakan new normal atau tatanan baru, hal ini dinilai karena Kota Pagar Alam berstatus zona hijau atau zero covid-19 dan berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pun hanya 1 warga Pagar Alam yang terkonfirmasi positif namum secara wilayah bukan terpapar di Pagaralam (Palembang).

Kewenanagan Pemerintah pusat tersebut pun sambut baik oleh Pemerintah Kota Pagaralam. Bahkan sebelum kewenangan itu pun diberlakukan Pagar Alam sudah mulai membuka dan melonggarkan sejumlah tempat ibdah untuk dibuka kembali yang sebelumnya dihimbau untuk ditiadakan sementara waktu sampai pandemi berakhir.

Salah satu program new normal yang dimasukkan oleh Pemerintah Kota Pagar Alam adalah dibukanya sektor pariwisata termasuk usaha perhotelan,dengan catatan tetap melaksanakan protokol kesehatan seperti menjaga jarak,pakai masker dan menyediakan tempat cuci tangan di tempat objek wisata dan penginapan.

Dan terbukti,dengan diterapkanya new normal ini pariwisata Pagar Alam mulai kembali bergairah,di beberpa momen liburan pun wisatawan pun mulai berdatangan bahkan dari luar Kota Pagar Alam,begitu juga dengan penginapan-penginapan,setelah hampir tiga bulan tak ada satupun tamu yang datang kini sudah mulai didatangi,bahkan meskipun Dinas Pariwisata Pagar Alam belum bisa menghitung secara rill kunjungan wisatawan berdasarkan jumlah hunian dan retiribusi di masa new normal ini,namun diakui kalau wisata Pagar  Alam berangsung normal.

Namun kabar tak mengenakkan,kembali harus di dengar oleh masyarakat Kota Pagar Alam yang saat ini tengah menerapkan new normal,pasalnya zona hijau dan zero covid-19 yang selama ini melekat Pada Kota Pagar Alam harus hilang dengan kemunculan adanya warga yang dinyatakan positif Covid-19.

Apakah ini karena new normal? Walikota Pagar Alam Alpian Maskoni menilai bahwa munculnya kasus positif di Pagar Alam belum ada hubungan dengan new normal,dan ini bisa jadi karena kelalaian dan kurang disipilin dalam protokol kesehatan,bahkan Walikota mengatakan dengan adanya kasus positif ini bahwa corona di Pagar Alam baru mau mulai dan kemungkinan besar bertambah jika tidak disipilin.

Pertanyaanya, dengan munculnya kasus postif ini akan kembali mempengaruhi sektor pariwisata Pagaralam??

Editor: Sadam

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More