intens.news
Mitra Informasi

Merekrut Sarjana Masuk Pedalaman

0 156

Menurut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang dirilis serentak pada Desember 2019 yang lalu, peringkat PISA Indonesia turun dari urutan ke-72 menjadi ke-77. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), selaku lembaga resmi yang mengeluarkan hasil ini mencatat jika China menduduki posisi puncak. Sementara itu, peringkat Malaysia dan Brunei Darussalam berada di atas Indonesia.

Jika kita berkaca dari hasil di atas, maka ini bukan sekadar ancaman, tetapi sebagai barometer yang baik bagi kemajuan kualitas pendidikan di Indonesia ke depan. Sejatinya, kunci keberhasilan dalam belajar adalah terus membenahi kelemahan dan ketidaksadaran yang kita miliki, lalu mengubahnya menjadi sebuah kekuatan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Anwar Makarim menyampaikan beberapa hal saat rilis Hasil Studi PISA Indonesia Tahun 2018 pada Desember 2019 yang lalu. Salah satunya, suami dari Franka Franklin ini menyoroti tentang kesenjangan berkumpulnya sumber daya, khususnya guru-guru yang berkompeten di sekolah tertentu. Muridnya pun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang baik.

Sebaliknya, sekolah yang kualitasnya kurang bagus akan bertambah buruk. Sudah tenaga pengajarnya pas-pasan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, siswa-siswanya juga kemungkinan besar akan minim menerima ilmu. Imbasnya, anak-anak tidak memperoleh mutu pendidikan sebagaimana mestinya meski telah berada di dalam kelas.

Tidak cukup sampai disitu saja. Perbedaan sarana dan fasilitas dari sekolah satu dengan sekolah lainnya menambah deret panjang masalah kesenjangan di sektor pendidikan. Tidak mengherankan, jika perbedaaan ini kemudian menimbulkan kecemburuan sosial. Dampak negatifnya, kemauan dan rasa percaya diri untuk belajar siswa menjadi berkurang.

Potret pendidikan di negeri pun semakin rumit jika kita meneropong jauh ke sebagian daerah pedalaman. Saya pernah beberapa kali terjun langsung masuk ke sebuah pedalaman di negeri ini. Di sana, masih ditemukan banyak anak-anak kesulitan mengakses pendidikan. Selain jarak sekolah dengan rumah yang terbilang jauh, minimnya infrastuktur, dan tenaga pengajar yang kurang berkompeten, budaya disiplin pula masih jauh dari kata baik. Akibatnya banyak anak putus sekolah karena tidak memperoleh pendidikan secara baik. Parahnya, diantara anak-anak putus sekolah tersebut ada yang memilih untuk menikah muda. Ada pula yang bekerja serabutan saat tumbuh remaja.

Maka, persepsi yang maju semakin maju dan yang miskin semakin terpinggirkan kian mendarah daging di masyarakat. Persepsi semacam ini wajib dipatahkan. Jangan terus berkembang di Indonesia. Ketika persepsi ini bisa dipatahkan walaupun perlahan, maka akan mendorong lahirnya peningkatan mutu pendidikan di negeri ini. Namun, diperlukan upaya kerjasama dan keinginan kuat untuk mengubahnya. Bukan saja upaya dari pemerintah, tetapi dibutuhkan usaha dari berbagai lapisan masyarakat.

Sarjana Masuk Pedalaman

Untuk membangun peradaban yang lebih baik di tiap pelosok negeri, salah satunya  diperlukan pendidikan yang berkualitas. Untuk itu, program sarjana masuk pedalaman wajib dilakukan tiap tahunnya. Lantaran sarjana yang baru lulus kebanyakan anak muda. Sementara, anak muda kini diyakini memiliki banyak gagasan jitu. Inovasinya patut diacung jempol. Maka hal ini sejalan dengan Program Merdeka Belajar yang digagas oleh Pak Menteri Nadiem Anwar Makarim.

Hadirnya Program Merdeka Belajar menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Tanah Air. Betapa tidak, tenaga pendidik diberi ruang inovasi seluas-luasnya untuk mengeksplor kemampuan yang dimiliki. Lalu pemerintah membantu memerdekakan tenaga pendidik agar leluasa mengembangkan idenya.

Pada akhirnya, akan terbentuk sebuah ekosistem pendidikan yang sejuk. Pasalnya anak muda akan menjadi penggerak perubahan. Di benaknya akan senantiasa tertanam kreativitas bagaimana memberikan ilmu kepada anak didiknya secara baik dan berbeda dari sebelumnya. Dengan kata lain, sarjana terbaik yang lolos seleksi akan mengutamakan anak-anak, metode pembelajaran, dan segala pelajarannya dibanding apapun.

Sarjana yang terpilih pun tidak langsung diterjunkan ke pedalaman. Namun, dibekali dengan keahlian dan kelas psikologi yang mumpuni oleh pihak terkait. Tiga sampai enam bulan adalah waktu yang tepat untuk menempa sarjana-sarjana yang terpilih. Tentunya, sarjana terbaik yang terpilih diberikan gaji yang memuaskan dengan fasilitas penunjang lainnya sehingga akan bertahan lama. Tapi syarat dan ketentuan wajib diberlakukan, semisal jangan meminta pindah tugas ke daerah sendiri lantaran jauh dari orangtua atau pacar.

Supaya tujuan program ini semakin mencerminkan nilai-nilai pancasila, maka penempatan sarjana menggunakan metode silang. Sarjana terpilih yang berdomisili di Pulau Jawa akan ditempatkan di Pulau Kalimantan, misalnya. Dengan demikian, antara sarjana terpilih dengan anak-anak pedalaman bisa saling mengenal kultur satu sama lain. Untuk menggelorakan budaya Indonesia, berikutnya penguatan seni dan budaya dimasukkan ke dalam mata pelajaran.

Disamping itu, sarjana yang terpilih jangan pernah mengabaikan fatwa seorang tokoh pendidikan Indonesia – KH Dewantara. Pasalnya fatwa-fatwa KH Dewantara pantas dipakai saat mengajar di pedalaman, salah satunya neng, ning, nung, nang. Fatwa ini mengajarkan tentang cara menghadapi masalah atau konflik dalam kehidupan.

Meneng (neng) sendiri berarti tenang, baik lahir maupun batin. Lalu wening (ning) maksudnya jernih pikiran dan hanung (nung) berarti kuat. Terakhir, menang (nang) bermakna memperoleh wewenang, berhak, dan kuasa atas usaha kita. Ketika seorang sarjana yang akan masuk ke pedalaman menerapkan fatwa ini dalam kegiatan belajar-mengajarnya, niscaya hasilnya akan baik. Jika pun gagal, kegagalan yang diterima tidak terlalu pahit.

Pada akhirnya, diharapkan Program Sarjana Masuk Pedalaman memiliki banyak manfaat. Pertama, dapat menekan angka pengangguran dari lulusan tingkat sarjana. Lalu, kedua menghapus persepsi yang telah mengakar di tengah kehidupan masyarakat – yang maju semakin maju dan yang miskin semakin terpinggirkan.

Jika sudah begitu, kesenjangan dari segi tenaga pengajar perlahan akan berkurang. Alhasil, tiap pedalaman di Tanah Air akan memiliki tenaga pengajar yang andal dan kompeten. Anak-anak pedalaman atau pelosok negeri akan merasa bahagia lantaran memiliki guru yang kompeten. Tidak kalah dengan tenaga pengajar di kota. Lebih jauh harapannya, program ini dapat meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan serta membangun peradaban baru yang lebih baik sesuai dengan budaya Indonesia.

Penulis : Ilham Buchori (Mahasiswa Universitas IBA Palembang).

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More