intens.news
Mitra Informasi

Miskin Baru Adalah Sebuah Kenyataan

0 76

TIDAK TERASA, dampak virus Corona sudah berbulan-bulan di rasakan oleh seluruh masyarakat dunia, tidak terkecuali di Sumatera Selatan. Jumlah penderita Covid-19 bahkan sudah tembus hingga 1000 orang lebih. Tidak ada yang bisa memprediksi, berapa lama lagi epidemi ini akan berlangsung, atau wabah ini akan lenyap dari bumi Indonesia.

Kenyataanya, perekonomian masyarakat turun drastis meski tampak perdagangan di pasar tradisional masih tetap ramai dan mal di Palembang pengunjungnya sangat sepi. Bukan karena ketatnya pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas, tetapi karena masyarakat tidak memiliki uang untuk berbelanja.  Artinya, telah terjadi kemerosotan pendapatan masyarakat secara luas, akibat dampak covid-19 yang bukan hanya membuat panik dan ketakutan, tetapi juga memberi dampak sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, miskin di artikan tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Dan jika di defenisikan,  Kemiskinan adalah keadaan saat ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan bisa juga disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Pemerintah memiliki kriteria mengenai status miskin. Seperti 14 kriteria miskin versi badan pusat statistik atau BPS, diantaranya Tidak memiliki fasilitas buang air besar, atau bersama-sama dengan rumah tangga lain. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu, Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun, hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari, tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik, pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan, dan pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD.

Namun, baru-baru ini juga Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat garis kemiskinan Indonesia pada September 2019  menjadi sebesar Rp440.538 per kapita per bulan. jika rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4 hingga 5 anggota keluarga, maka jika dikalikan dengan Rp440.538, hasilnya garis kemiskikanan rata-rata secara nasional menjadi sebesar Rp2.017.664 per rumah tangga. Jadi, pendapatan masyarakat sebesar Rp2juta perbulan, sudah bisa di katakan miskin. Meski hal tersebut berbeda-beda antara satu provinsi dengan provinsi lainnya, atau kabupaten/kota.

Warga miskin di kota Palembang juga bertambah signifikan. Sebelum terjadi Covid-19 terdapat sebanyak 115 ribu orang warga miskin. Namun, akibat yang ditimbulkan oleh wabah tersebut, jumlah orang miskin baru mencapai 63 ribu orang. Dan bukan tidak mungkin hal itu akan terus bertambah, seiring dengan turunnya perekonomian masyarakat, dan robohnya industri-industri swasta di kota Palembang.

Mari berfikir realistis. Dari sektor transportasi saja, akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Palembang telah terjadi penurunan jumlah penumpang ojek online. Karena para ojol sangat rentan tertular, hingga sempat di lakukan pembatasan bagi pengguna ojek online, baik menggunakan sepeda motor ataupun mobil. Akibat pembatasan tersebut, penghasilan ojol menurun sangat drastis.

Jumlah pengagguran juga meningkat tajam. Palembang cukup banyak memiliki cafe dan tempat hiburan yang tersebar. Karena harus menjaga jarak, dan warga tidak lagi di perkenankan berkumpul, maka sebagian besar cafe di Palembang harus tutup.

Bagaimana dengan pekerja hotel? Mungkin juga sudah terjadi pengurangan karyawan besar-besaran, lantaran sepinya pengunjung hotel akibat tutupnya sektor pariwisata dan pengunjung yang masuk-keluar ke wilayah Palembang. Kerugian yang teramat besar di sektor ekonomi masyarakat, yang wajar saja jika imbasnya adalah munculnya warga orang miskin baru, yang kini mengalami kesulitan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.

Covid-19 benar-benar “membunuh” masyarakat, bukan saja bagi orang yang terinfeksi dan harus dirawat secara intensif dengan kemungkinan sembuh 50:50. Namun, dampak yang ditimbulkannya ternyata lebih menakutkan lagi.

Namun kita tidak perlu khawatir, tetapi harus tetap waspada dalam menghadapi kenyataan bahwa orang miskin baru semakin bertambah, ditengah kehancuran perekonomian dan pembatasan sosial. Waspada dalam artian berusaha semaksimal mungkin mencukupi kebutuhan hidup, dengan upaya tetap sehat dan tidak terinfeksi covid-19.

Pemerintah RI, provinsi, dan kabupaten/kota juga mengeluarkan dana yang cukup besar untuk memberi bantuan kepada masyarakat yang terdampak dari covid-19 ini. Meski upaya tersebut mungkin bagi sebagian kita sangat tidak efektif, namun cukuplah dengan empati bahwa “ada” upaya untuk membantu.

Mungkin solusinya adalah new normal.  Kita bekerja dan berusaha mencukupi kebutuhan hidup, hingga perekonomian kota/kabupaten kembali normal. Yang pada akhirnya membuat seluruh sektor kehidupan berjalan dengan maksimal, perekonomian masyarakat kembali meningkat, meski harus tetap mengikuti SOP kesehatan. Dengan tetap memahami bahwa keadaan tersebut tetap beresiko terpapar dan terinfeksi virus Corona. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More