intens.news
Mitra Informasi

Muara Enim Ditetapkan Wilayah Siaga Banjir dan Longsor

0 27

Intens.news, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat dalam dua pekan terakhir di bulan Oktober telah terjadi dua kali kasus banjir di dua wilayah. Yakni Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan dan Muara Enim. Namun baru Muara Enim yang telah menetapkan siaga bencana banjir serta longsor.

“Untuk wilayah OKU Selatan kemarin, banjir tidak mengancam warga namun banyak perkebunan yang terendam akibat banjir,” ujar¬†Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori, Senin (2/11/2020).

Ansori menjelaskan, intensitas hujan yang tinggi di wilayah Sumsel belakangan, mengakibatkan permukaan air di sungai meluap. Beberapa daerah telah dinyatakan mengalami banjir, akibat air kiriman dari wilayah dataran tinggi serta hujan yang turun di wilayah tersebut. Perubahan cuaca dari kemarau ke musim hujan tersebut juga dipengaruhi La Nina.

“BMKG telah mengingatkan perubahan cuaca dan mengantisipasi bencana hidrometeorologi, yakni longsor dan banjir akibat peningkatan intensitas hujan yang tinggi terutama di wilayah Barat Sumsel,” jelasnya.

Ansori mencatat, kasus terakhir bencana alam terjadi di wilayah Sumsel terjadi di Desa Ujan Mas Baru, Kabupaten Muara Enim, Jumat (30/10/2020) lalu. Bencana itu disebabkan hujan yang terus mengguyur sekitar empat jam. Banjir bandang menerjang permukiman warga.

“Banjir bandang itu terjadi karena luapan anak Sungai Mampur akibat debit air meningkat lantaran hujan,” ungkapnya.

Sebanyak 102 warga terdampak banjir harus mengungsi. Selain itu, banjir juga mengakibatkan jalan raya mengalami perbaikan lebih dulu karena rusak.

“Selain jalan, ada lima rumah juga yang mengalami kerusakan akibat banjir bandang. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian, dapur umum pun sempat didirikan,” katanya.

Kepala Seksi Data Dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas I Palembang, Nandang Pangaribowo, membenarkan perubahan cuaca akan berdampak ke masyarakat. Pihaknya memprediksi musim hujan akan mengalami puncak dalam beberapa bulan ke depan hingga Maret 2021. Warga harus tetap waspada karena bencana dapat terjadi suatu saat.

“Sejumlah bencana bisa saja mengintai. Dataran tinggi ada banjir bandang dan longsor, serta di dataran rendah ada angin kencang, dan banjir dalam jangka waktu lebih lama,” jelasnya.

Nandang menuturkan, data dasarian II Oktober 2020 menunjukan hujan sudah merata mengguyur wilayah Sumsel. Rata-rata intensitas hujan sedang dan lebat mencapai 150 milimeter-300 milimeter (mm) per bulan. Namun untuk wilayah dataran tinggi di Sumsel, intensitas hujan mengalami intensitas yang tinggi hingga 400 mm per bulan.

“Fenomena ini terjadi lantaran adanya belokan masa udara akibat pertemuan antara monsun Asia dan Monsun Australia dan tekanan rendah di laut Cina Selatan. Belokan masa udara ini ini berdampak pada meningkatnya curah hujan. Bagian barat Sumsel harus waspada karena miliki tingkat intensitas hujan tinggi,” terangnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More