intens.news
Mitra Informasi

Mutmainah, Mencapai Keseimbangan Jiwa dan Raga

0 447

SERING kita mendengar kata Mutmainnah. Kata ini kerap terucap saat mendoakan orang yang kita kasihi, yang sudah terlebih dahulu menghadap sang Pencipta. Kata ini adalah serapan dari bahasa Alquran, seperti yang tertulis dalam surat Alfajr ayat 27.

Potongan kalam ilahi tersebut, di maknai sebagai “jiwa yang tenang”.  Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nafsu mutmainah di artikan sebagai dorongan batin untuk mempertahankan diri dari segala kejahatan karena selalu ingat kepada Allah Swt.

Apa yang dimaknai sebagai Mutmainah oleh sebagaian kita, lebih condong pada bersihnya tubuh dan jiwa hingga mampu menerima cahaya dari Tuhan. Dan jiwa-jiwa tersebut akan di masukkan kedalam Syurga, sesuai dengan amal dan ibadahnya.

Namun, Nafsu Mutmainah pada dasarnya bisa di capai saat seseorang itu sedang menjalani kehidupan. Di tengah dorongan nafsu yang sedang berkobar, di tengah banyaknya rencana yang di susun di masa depan, maka nafsu Mutmainah akan menuntun orang untuk tetap bersyukur, bertauhid, rendah hati, dan hidup dalam tuntunan agama.

Di masa hidupnya, Direktur Utama PT MBSN, Bapak Iwan Setiawan sering kali mengajak kami berdiskusi mengenai kata Mutmainah. Menurut beliau, orang yang memiliki jiwa yang tenang itu adalah mereka yang tidak terpengaruh atas segala permainan dunia. Hidup dalam derajat keilmuan, patuh dan taat pada perintah, mengabdi sepenuhnya pada Tuhan, dan berusaha menjadi insan yang sempurna. Karena pencapaian tertinggi derajat manusia adalah menjadi manusia seutuhnya.

Harta dan tahta hanyalah benda dan perhiasan dunia. Benda-benda hanyalah fasilitas yang harus tunduk pada kita. Manusia hidup dalam alam yang sama, dan sudah menjadi tugas sesama manusia untuk memanusiakan manusia. Karena itu, setiap saat apa yang kita kerjakan, kita lakukan, kita usahakan sepenuhnya dalam niatan ibadah untuk tunduk pada Tuhan. Seperti halnya Tuhan yang tidak pernah putus memberikan Rahmat dan kasihnya pada manusia.

Kata-kata diatas mungkin terlalu sulit kami pahami. Para wartawan bukanlah ilmuan, akademisi, atau filusuf meski rata-rata wartawan adalah sarjana. Meski wartawan memang sebagian besar memiliki kepandaian mengamati, menulis, dan menganalisa dan kemudian menyampaikannya kepada masyarakat luas.

Apa yang beliau sampaikan saat itu, cukup memberi kami motivasi yang tinggi untuk terus bersatu, bersama-sama membangun keilmuan, membangun pengetahuan, dan membangun keyakinan. Karena bekerja adalah jalan untuk mencapai rezeki, meski cara tersebut bukan satu-satunya jalan mengingat maha besarnya Kuasa Tuhan.

Beliau berulang kali mengingatkan, bahwa harta dan jabatan yang kita miliki bukanlah sebuah pencapaian hakiki. Karena apa yang kita miliki jika tidak pandai dan bijaksana mengaturnya, akan menjadi berhala-berhala sesembahan. Nafsu itu harus tunduk pada akal, dan akal harus tunduk pada pada cahaya keilmuan, dan keilmuan akan tunduk pada kebenaran. Dan Allah SWT adalah yang maha benar.

Terima kasih bapak Iwan Setiawan, amanah mu, cita-cita mu, ilmu dan pemahaman yang kami terima semoga menjadi amal ibadah, yang pahalanya akan selalu mengalir sepanjang hayat kami. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More