intens.news
Mitra Informasi

Negeri Waspada Bencana

0 29

BENCANA di negeri kita menjadi pembuka tahun 2021. Ditengah wabah virus Corona hingga kini masih terus melanda dan masih di upayakan untuk di tanggulangi, masyarakat di kejutkan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 tanggal 9 Januari kemarin. Sebanyak 62 orang yang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru di nyatakan tewas, setelah jatuh di kawasan kepulauan Seribu.

Ditengah kesibukan mencari para korban kecelakaan pesawat, bumi Sulawesi Barat di guncang gempa 6,2 magnitudo pada hari Jumat tanggal 15 Januari sekitar pukul 01.28 WIB. Sedikitnya 81 orang dinyatakan tewas, dengan rincian 70 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan 11 orang di Kabupaten Majene. Sebanyak 1.150 unit rumah rusak dan 15 unit sekolah terdampak, kerugian mencapai ratusan miliar lebih.

Di hari yang sama, beberapa jam kemudian terjadi banjir bandang di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembarana, Bali sekitar pukul 07.00 Wita. Banjir tersebut menerjang perumahan warga. Meski tidak ada laporan korban jiwa, namun tidak sedikit rumah yang roboh dan ternak yang hanyut akibat derasnya banjir tersebut.

Negeri kita sepertinya tidak henti-hentinya dilanda bencana. Kesedihan dan kehilangan pada keluarga dan harta benda terasa mengiris-iris hati dan jiwa kita. Puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 masih berserakan di tengah laut kelauan seribu. Bagian-bagian tubuh korban yang tersisa, meninggalkan sejuta luka bagi para keluarga dan saudara-saudara kita sebangsa.

Sepatutnya tidak ada yang dapat di persalahkan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Kelalaian mungkin hanya sebuah teori hukum, yang diharapkan kedepan dapat memberikan efek positif bagi keadilan dan kemanusiaan. Tetapi, bencana alam adalah hukum alam yang manusia pun tidak akan dapat memprediksi atau meramalkannya.

Gempa bumi, angin puting beliung, banjir bandang, dan bencana alam lainnya terkadang adalah suatu bentuk hukuman bagi manusia. Karena kerusakan di bumi juga di sebabkan oleh manusia itu sendiri. Dan sudah menjadi hukum alam, jika sebuah pembangunan tidak dilakukan secara bijaksana maka yang terjadi adalah bencana. Atau mungkin ini cobaan, seberapa kuat hamba-hamba yang bijaksana menerima terpaan musibah?

Sebut saja air. Genangan air yang sering terjadi di kota-kota besar di sinyalir terjadi akibat kesalahan perencanaan. Perumahan warga yang tergenang air hingga setinggi satu meter, akibat timpangnya tata kelola lingkungan. Hilir sungai-sungai di timbun untuk membangun gedung-gedung, rawa-rawa tempat resapan air di timbun lebih tinggi dari daratan. Akibatnya, saat hujan aliran air terhalang bangunan hingga mengalir ke dataran lebih rendah yang tempat tersebut padat penduduknya.

Perbukitan yang gundul akan rentan terjadinya longsor. Bukankah akar-akar pepohonan menjadi penguat lereng perbukitan. Sampah yang memenuhi siring dan got di perkotaan menutupi aliran air, hingga menggenangi jalan-jalan utama Palembang. Dan perlu di ingat, di setiap bulan Januari-Maret biasanya curah hujan cukup tinggi. Dan kapasitas air sungai akan bertambah hingga terjadi banjir tahunan di beberapa daerah di Sumsel.

Mari kita menjaga lingkungan dan bumi tempat kita tinggal. Sedikit mengeluarkan tenaga untuk bergotong royong membersihkan saluran air dari sampah, mungkin menjadi solusi untuk mengurangi terjadinya banjir di komplek atau kampung tempat kita tinggal. Mari menjaga hutan-hutan kita agar tetap subur, disiplin membuang sampah, dan tidak mengotori sungai-sungai kita. Dan mari kita memohon ampunan dari Tuhan atas segala dosa dan kekhilafan kia semua. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More