intens.news
Mitra Informasi

Oke Boomer

0 15

PERSOALAN pembangunan sumber daya manusia (SDM) di negeri kita tercinta semakin mendapat perhatian besar. Karena salah satu penyebab kemiskinan karena rendahnya kualitas SDM, hingga tidak mampu mengolah sumber daya alam Indonesia yang kaya ini.

Pernyataan di atas sedikit banyak menggugah kesadaran kita akan pentingnya membangun generasi yang cerdas, memiliki keahlian, dan mampu membangun masyarakat yang sejahtera. Sayangnya, saat ini tampaknya baru sebatas slogan yang tertera dalam berbagai visi dan misi para calon kepala daerah. Atau sekedar slogan tanpa makna, yang menjadi “bumbu” penyedap program jangka panjang dan jangka menengah di program kerja pemerintahan.

Kenyataanya, tidak satupun program tersebut menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Kegagalan pembangunan SDM harus dibayar lewat Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Program Keluarga Harapan yang intinya memberikan stimulan kepada masyarakat, agar nantinya keluarga miskin di Indonesia mampu lebih mandiri secara finansial.

Berbagai bantuan langsung tersebut di sambut dengan penuh suka cita oleh seluruh masyarakat miskin. Rakyat mengelukan pemimpin yang bijak dan memahami kebutuhan dasar masyarakat, yang bersegera mengirimkan makanan atau uang kepada mereka. Laksana super hero yang tepat waktu menyelamatkan kehidupan orang lain.

Namanya juga stimulan, artinya tidak akan selamanya hal itu di nikmati. Akibatnya, saat pemimpin baru berganti, dana stimulan di hentikan karena pemerintah menganggap rakyat sudah cukup di manja dan rakyat harus menghadapi kenyataan sebenarnya. Konsekuensinya, cercaan dan penghinaan bertebaran di media sosial hingga korbanpun tidak bisa di hindarkan. Lontaran kata protes tidak lagi di anggap sebagai dari kritik, tapi lebih pada penghinaan.

Ditengah kesulitan ekonomi yang melanda negeri, ditambah lagi pandemi covid-19 yang terus  memakan korban jiwa. Seharusnya  sudah muncul kesadaran terhadap pentingnya menjaga manusia Indonesia. Ditengah kesibukan pemerintah menjaga agar tidak terjadi kepanikan massal, kesibukan para TNI dan Polri menjaga aset bangsa dari bahaya internal dan eksternal.

Seharusnya kesadaran itu muncul dari setiap pribadi kita secara personal, kesadaran dalam setiap keluarga, dan kesadaran seluruh rakyat negeri. Bahwa manusia adalah harta terbesar bangsa Indonesia. Bukan aset berupa benda, atau uang, atau pula hutang yang jumlahnya kian menumpuk seakan menyengsarakan bangsa kita.

Manusia Indonesia yang harus di selamatkan untuk hari ini, besok, dan di masa depan. Manusia adalah aset yang tidak ternilai. Jumlah manusia Indonesia sangat banyak, dan harta inilah yang benar-benar tidak ternilai dibandingkan dengan benda berharga sekalipun. Sekarang, saatnya kita kembali untuk membangun sumber daya manusia ini untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas, lebih sehat, dan bermanfaat untuk kehidupan dunia. Rangkaian dari cita-cita kenabian, meski sekarang mainset tersebut berubah menjadi kesombongan atas harta yang didapatkan.

Bukan bermaksud merendahkan cita-cita mulia yang sudah tertulis dalam falsafah bangsa, tidak pula bermaksud mengkirik kebijakan yang telah berlaku. Namun, kita semua tengah di gugat oleh para generasi milinial yang kini sedang protes terhadap kehidupan negeri yang tidak sesuai dengan harapan mereka.

Coba perhatikan anak-anak kita yang sedang tumbuh menjadi seorang remaja, mereka seenaknya berkata “Ok boomer”, atau mereka berkata, “Itukan masa anda saat remaja,”. Dan kenyataannya Generasi masa depa ini yang sedang bersiap menjadi penerus, harus mempersiapkan diri menghadapi kenyataan yang lebih pahit dari generasi kita dulu.

Kenyataanya, anak-anak generasi sekarang harus hidup lebih keras dan harus berusaha dewasa menghadapi kenyataan. Fasilitas komunikasi yang murah, layanan internet yang mudah di akses, dan kemudahan mengakses media, merubah cara pandang dan fikiran mereka. Intinya, secara intelektual generasi saat ini lebih cerdas.

Sayangnya, generasi kita yang berusia 40 tahun saat ini yang di sebut “Boomer” belum sadar dan tergugah atas “derita” yang sudah di ketahui oleh generasi penerus. Keahlian yang mereka miliki selayaknya harus segera di manfaatkan saat ini juga, namun kenyataannya hal itu berbanding terbalik dengan realitas.

Saatnya kita menatap masa depan dengan cara membangun sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Membangun infrastruktur ekonomi yang sistematis, dengan mengedepankan SDM lokal yang dapat di manfaatkan secara menyeluruh. Meski ini baru cita-cita, namun kita semua selalu optimis hal ini akan terbangun. Hingga generasi bangsa tidak hanya sekedar berkata, “Dasar Boomer” namun akan menyahut dengan hormat “Terima Kasih Boomer”. Wallahu ‘Alam. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More