intens.news
Mitra Informasi

Palembang Kembali Diselimuti Asap Tebal, Kapankah Akan Berakhir?

0 306

Beberapa bulan terakhir ini bencana kabut asap telah menjadi perbincangan yang kembali menghangat setelah menyebabkan berbagai masalah kesehatan di beberapa daerah di Indonesia terutama di Pulau Sumatera dan Kalimatan. Dengan kenaikan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) dan penurunan jarak pandang hingga dibawah 1 km, bencana kabut asap menimbulkan banyak masalah diberbagai sektor termasuk sektor kesehatan dan transportasi. Peningkatanjumlah titik panasserta kenaikan suhu maksimum yang mencapai kondisi esktermnya yaitu diatas 35° Celcius diikuti dengan meningkatnya kadar polutan di udara itu seakan berhasil melewati garis resistance-nya.

Tahun 2019 ini merupakan tahun dengan kejadian kabut asap yang cukup parah selama periode 10 tahun terakhir. Kondisi yang cukup parah juga terjadi pada tahun 2015 yang merupakan tahun kerjadian perisitiwa El-Nino kuat yang berhasil mengakibatkan defisit curah hujan dibeberapa wilayah di Indonesia terutama wilayah yang memiliki luasan gambut yang cukup besar seperti di Palembang, Jambi, Riau, dan beberapa wilayah di Provinsi Sumatera Selatan.

Sifat lahan gambut yang dapat menyimpan api hingga ke lapisan bawah tanah mengakibatkan lahan tersebut sangat rentan terbakar. Hasil residu dari kebakaran lahan tersebut berupa asap selanjutnya terbawa oleh angin yang menjadi hantu putih yang sangat membahayakan kesehatan. Kenaikan titik panas dinilai sangat selaras dengan tren kejadian kabut asap.

Bahkan, pada bulan Oktober hingga tanggal 10 Oktober 2019, Provinsi Sumatera Selatan menduduki peringkat pertama dengan jumlah titik panas terbanyak di wilayah Indonesia dengan jumlah 1458 titik yang antara lain terdeteksi berada di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Bayuasin, dan Musi Banyuasin yang notabene sebagian besarnya adalah wilayah lahan gambut.

Walapun beberapa hari yang lalu pada tanggal 24 September 2019 sempat terjadi hujan dengan intensitas yang sedang dibeberapa wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, ternyata kondisi tersebut belum dapat menghapuskan bencana kabut asap.

 Terbukti, pada tanggal 14 Oktober 2019 di pagi hari, kualitas udara yang terukur oleh alat PM10 di BMKG Stasiun Klimatologi Palembang nilai indeksnya berada diatas angka 765 mikrogram/m³ yang mengindikasikan bahwa kualitas udara di Kota Palembang berada pada tingkat yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Berdasarkan analisa diketahui bahwa kejadian hujan tersebut tersebut dipicu oleh adanya sirkulasi siklonik di Samudera Pasifik timur Filipina pada ketinggian 925 / 859 mb yang menyebabkan terdapatnya belokan angin yang membawa uap air yang cukup untuk terjadinya hujan di beberapa Provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Sumatera Selatan.

Alhasil, walapun dalam beberapa hari setelah kejadian hujan tersebut, asap mulai berkurang akan tetapi belum cukup untuk melunturkan bencana kabut asap yang terjadi. Bahkan, hingga tanggal 10 Oktober 2019 di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang merupakan salah satu wilayah lawan karhutla sudah tidak terjadi hujan setidaknya dalam 11 – 20 hari.

Kabut Asap pada umumnya terjadi pada pagi hingga malam hari. Kondisi tersebut dipicu karena pada pagi dan malam hari tekanan udara cenderung mengalami penurunan yang berimbas kepada partikel-partikel udara yang berukuran sangat kecil yaitu dibawah 10 mikron (PM10) turun ke permukaan.

Secara teoritis, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan memiliki pola hujan monsoonal. Pola hujan tersebut berarti bahwa surplus dan defisit curah hujan di wilayah ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan angin monsoon.

Pada saat terjadinya angin monsoon barat wilayah ini akan memiliki banyak sekali uap air yang terbawa dari wilayah Benua Asia yang mengakibatkan peningkatan proses kondensasi awan-awan konvektif yang dapat mengakibatkan terjadinya hujan. Sedangkan pada saat berbaliknya pola tersebut yaitu pada saat tejadinya angin monsoon timur wilayah ini akan mengalami defisit curah hujan karena angin yang terbawa ke wilayah ini berasal dari benua Australia yang cenderung lebih kering dan membawa sedikit uap air.

Dengan alur seperi ini, pada Bulan Juli hingga Oktober sangat rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan karena curah hujan berkurang drastis akibat dari pembalikan pola monsoon tersebut. Pada kenyataannya, selama beberapa tahun terakhir ini pada bulan tersebut sangat banyak sekali terdeteksi titik panas yang mengakibatkan kabut asap dengan bulan Oktober sebagi puncak kejadiannya.

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan masyrakat, Kapankah kondisi ini akan berakhir? Hasil analisis dar BMKG Stasiun Klimatologi Palembang menunjukkan, bahwa kenaikan curah hujan yang intens secara terus menerus dapat meluruhkan titik api dan juga asap. Hujan terus menerus merupakan kejadian musim hujan, berdasarkan hasil analisis yang dilakukan musim hujan di sebagian besar wilayah di Provinsi Sumatera Selatan akan terjadi pada akhir bulan Oktober hingga awal bulan November 2019. Sehingga dengan masuknya musim hujan permasalah kabut asap yang sedang dihadapi dapat segera dapat teratasi.

Penulis : Rezfiko Agdialta, (Staff Observasi BMKG Stasiun Klimatologi Palembang)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More