intens.news
Mitra Informasi

Palembang Kembali Zona Merah, Ahli Mikrobiologi Ungkap Ini

0 23

Intens.news, PALEMBANG – Kota Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) kembali masuk zona merah dengan penyebaran Covid-19, hal itu lantaran dalam beberapa Minggu terakhir kasus konfirmasi Covid-19 kian bertambah. 

Ahli Mikrobiologi Sumsel, Yuwono M Biomed, mengatakan, banyak faktor yang membuat kasus konfirmasi di Palembang selalu tinggi, sedangkan kasus sembuh cenderung tidak bertambah banyak. Hal tersebut harus diperbaiki dari sisi pendataan kasus konfirmasi, sembuh dan meninggal secara real time, sehingga tidak menimbulkan kecemasan ditengah masyarakat.

“Saya hanya minta perbaiki pendataan, apalagi mereka yang isolasi mandiri, sangat tinggi kasusnya tidak turun-turun,” ujarnya, Rabu (20/1/2021).

Direktur RS Pusri ini juga melihat bahwa adanya kesalah pahaman dari pemerintah dan masyarakat, yang menganggap vaksin adalah senjata terakhir yang dapat membuat Indonesia terbebas dari Covid-19. Sehingga banyak orang yang sudah abai dengan protokol kesehatan 3M, dan merasa bahwa sebentar lagi akan segera divaksin.

“Ini salah paham atau bisa dibilang gagal paham, sudah ada vaksin dengan efikasi 65,3 persen, maka negara bebas dari Covid-19, ya tidak mungkin,” katanya.

Padahal, vaksin yang memiliki efikasi 65,3 persen tersebut hanya bagian kecil penanganan dan belum dapat menjamin tidak akan ada lagi penularan Covid-19.

“Penambahan kasus juga disebabkan dengan abainya masyarakat dengan protokol kesehatan, dan merasa akan segera divaksin,” jelasnya.

Tidak hanya itu, faktor lainnya adalah kemungkinan karena adanya varian baru Covid-19, yang menyebabkan virus cepat menyebar. Namun hal tersebut memang perlu dibuktikan secara ilmiah dan studinya.

“Secara kemungkinan iya, tapi secara ilmiah harus ada studinya dulu, diduga iya, karena bukan hanya varian inggris tau dari mana pun, tapi bisa jadi disini ada varian baru,” ujarnya.

Dari sisi ilmiahnya, ini juga disebabkan karena pembentukan antibodinya tidak terlalu kuat, selain karena secara teknis pemeriksaan bertambah banyak. Oleh karena itu, jika protokol kesehatan masih banyak yang abai, terpenting adalah imunitas. Tapi sayangnya penjagaannya juga kurang ketat, masih banyak anak muda yang begadang dan nongkrong di cafe sampai malam, padahal ini bisa menyebabkan turunnya imunitas.

Sedangkan dari sisi teknis, penambahan kasus konfirmasi yang tinggi bisa disebabkan karena pemeriksaan Swab atau PCR yang banyak dilakukan baik oleh BBLK maupun rumah sakit yang ada di Palembang.

Faktor lainnya adalah tidak ada usaha dari pemerintah dan masyarakat untuk memutus mata rantai, dengan cara tidak keluar masuk wilayah yang memiliki resiko tinggi.

Hal ini juga berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan ketat, meskipun berada di kantor, sehingga menciptakan klaster penularan Covid-19 perkantoran dan keluarga.

“Saya sudah katakan dari awal, harusnya memutus mata rantainya itu dengan cara tidak keluar masuk wilayah Sumsel,” ujarnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More