intens.news
Mitra Informasi

Pandemi COVID-19, Disdag Sumsel Akui Harga Ayam Alami Fluktuasi

0 36

Intens.news, PALEMBANG – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Sumsel, Iwan Gunawan mengakui, penjualan harga ayam potong mengalami pasang surut selama pandemi. Harga pun selalu tidak menentu. Terkadang mengalami kenaikan dan juga terjadi penurunan harga.

“Selama pandemi ini harga ayam memang fluktuasi. Tetapi itu masih normal dan masih wajar,” ungkap Iwan, Selasa (17/11/2020).

Mantan Karo Protokol Pemprov Sumsel ini mengakui, pihaknya terus melakukan pemantauan ke pasar-pasar dan peternak untuk memastikan perubahan harga setiap hari. Dari pantauan harga di lima pasar yakni Pasar KM 5, Pasar Cinde, Pasar Lemabang, Pasar Soak Bato, dan Pasar Padang Selasa, harga ayam berada mulai Rp 33.000 hingga Rp 36.000.

“Beberapa pekan lalu daging ayam naik, nah ini turun sekarang. Kalau informasi dari peternak mereka mengurangi stok karena awal-awal pandemi tidak laku,” katanya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Sumsel, Ismaidi Chaniago, mencatat kenaikan harga ayam di beberapa pasaran di Sumsel terjadi selama sepekan terakhir, berkisar antara Rp 38.000 hingga Rp 40.000.

“Harga ayam di pasaran sempat mencapai harga tertinggi minggu lalu di pasar tradisional. Kalau di kandang, harga tertinggi Rp24.000,” ungkapnya.

Kenaikan harga ayam di pasar tradisional menurut Ismaidi terjadi setelah pemerintah pusat melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, melakukan pemangkasan hampir 40 persen jumlah peredaran ayam di pasar dalam dua bulan terakhir. Pemangkasan tersebut dilakukan untuk menjaga jumlah demand (permintaan) dan pasokan suplai tetap berimbang.

“Pembatasan ini tidak hanya di Sumsel tetapi seluruh Indonesia. Alasan pembatasan sebelumnya karena jumlah ayam di pasaran banjir. Jumlah tidak sesuai dengan permintaan,” ujar Ismaidi.

Dirinya menilai, kelangkaan membuat harga ayam boiler atau ayam potong merupakan hal biasa. Dengan kebijakan ini ke depan, diharapkan harga daging ayam akan kembali normal.

“Ini hanya insidental saja, jadi ayam yang masuk terbatas jumlahnya. Dimaksudkan agar pelan-pelan harga ayam terangkat, sehingga peternak kembali bergairah karena pandemi,” jelasnya.

Selama pandemi, Ismaidi mengaku sempat mengalami penurunan harga ayam Rp11.000 di kandang, dan Rp17.000 di pasar. Kondisi itu membuat peternak harus memutar otak menutupi kerugian pakan.

Banjirnya pasokan ayam pula tidak sebanding dengan permintaan di pasaran. Jika pemerintah tidak mengambil kebijakan pemangkasan, pihaknya sudah tidak tahu harus bagaimana.

“Pandemi membuat peternak alami kerugian dan terancam tutup. Jika peternak tutup, logikanya ayam tidak ada di pasaran. Bisa membuat harga tidak akan terjangkau,” jelasnya.

Dirinya menjelaskan, peternak ayam berbeda dengan peternak ayam petelur. Ia menyebut, peternak telur umumnya murni pengusaha yang memiliki modal. Sedangkan peternak ayam boiler adalah mitra yang hanya memproduksi 3.000 sampai 5.000 ekor ayam.

“Selama ini baru ada bantuan untuk peternak ayam petelur. Sedangkan ayam boiler belum. Kami harap nantinya ada bantuan dari pemerintah untuk mengatasinya,” ujarnya.

Dirinya pun meminta masyarakat bijak menghadapi kenaikan harga ayam. Begitu juga kepada Dinas Perdagangan dan Peternakan yang diminta membantu.

“Dalam sehari peternak di seluruh Sumsel menjual 250.000 ekor ayam. Kondisi ini selama pandemi membuat para peternak bisa rugi Rp2,5 miliar. Artinya untuk satu bulan kerugian bisa mencapai Rp75 miliar,” terangnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More