intens.news
Mitra Informasi

Pekerja Harus Profesional, Lapangan Pekerjaan Kian Surut

0 21

ADA yang menarik dari pernyataan presiden Joko Widodo saat menyampaikan sambutan secara virtual pada acara puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-48 KSPSI di Hotel Aston Priority, Jakarta Senin Pagi. Presiden meminta agar para pekerja di Indonesia menyiapkan diri sebaik-baiknya, untuk meningkatkan pengetahuan dan keahliannya. Hal ini diperlukan agar disaat situasi membaik, maka para pekerja dapat  mampu bersaing serta menjadi pemenang dalam persaingan global yang semakin kompetitif.

Pernyataan tersebut tidak ada yang kontroversial, dan harus menjadi motivasi bagi para pekerja di Indonesia. Mengingat, skill atau kemampuan adalah salah satu syarat dan nilai tawar yang dibutuhkan perusahaan bagi para pekerjanya.

Pemerintah juga menyadari, saat ini wabah pandemi covid-19 telah menjadi penyebab turunnya perekonomian masyarakat secara luas. Pembatasan interaksi massal, menyebabkan turunnya daya beli. Selain itu, banyak sektor-sektor industri yang harus tutup sementara waktu karena dampak dari larangan berkerumun. Seperti hotel, tempat hiburan, restoran, dan lainnya.

Jika ingin protes, pastilah organisasi-organisasi buruh sudah turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi jika hal tersebut berkaitan dengan kebijakan yang kurang berpihak pada para buruh. Namun semua orang menyadari, wabah covid-19 benar-benar telah memberi dampak negatif di seluruh sektor industri yang menggoncang perekonomian masyarakat secara keseluruhan.

Turunnya daya beli juga terjadi di pasar-pasar tradisional. Warga memilih untuk mencukupi kebutuhan dasar saja, akibat terbatasnya kemampuan mencukupi kebutuhan. Kita tidak pernah menghitung berapa jumlah hotel yang mengurangi karyawan-karyawannya? Berapa banyak perusahaan garment yang memproduksi pakaian jadi mengurangi karyawannya? Berapa banyak jumlah pengangguran baru yang dirumahkan tanpa kejelasan apakah mereka akan kembali bekerja jika situasi sudah normal? Kita juga tidak memahaminya.

Namun jika kita jeli, ada beberapa usaha tempat hiburan yang benar-benar tutup dan dinyatakan pailit. Seperti tempat karaoke, yang dulunya ramai di kunjungi masyarakat sudah hampir satu tahun terakhir terkunci. Tempat usaha karaoke tersebut, sedikitnya menampung belasan orang pekerja yang dari hasil usaha tersebut, mereka menghidupi keluarganya. Jika di Palembang terdapat 10 saja usaha karaoke yang tutup, artinya 100 orang lebih pengangguran baru tercatat di Disnaker.

Buruh yang memiliki keahlian khusus seperti karyawan perhotelan, misalkan juru masak, staf administrasi, dan tekhnisi listrik mungkin juga sebagian sudah di rumahkan. Karena omzet hotel yang turun signifikan selama pandemi.

Lapangan pekerjaan yang semakin surut ini, tentunya harus di cermati oleh pemerintah dan stekholder di negeri kita. Pemerintah daerah juga harus lebih bijaksana dalam mengambil tindakan kepada para pedagang kecil, yang mungkin mereka sedikit melanggar aturan karena berjualan di pinggir jalan.

Ketertiban umum memang menjadi prioritas pemerintah dalam rangka menjaga kota tetap bersih, aman, dan rapi. Namun setidaknya, ditengah kondisi terhimpitnya ekonomi masyarakat juga harus di pertimbangkan sebelum melakukan tindakan penertiban. Bukan hanya usaha kecil yang bakal bangkrut, para pekerja di tingkat pedagang kecil juga akan menganggur. Jika pengangguran semakin meningkat dan angka kemiskinan bertambah, maka kejahatan juga akan meningkat. Semoga kita semua lebih arif dan bijakasana saat mengambil keputusan, agar bumi Palembang dan Sumsel terjaga. Sambil mencari solusi yang terbaik, hingga dunia kembali normal dan bebas dari bencana Covid-19. Wallahu ‘alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More