intens.news
Mitra Informasi

PJJ dan Stress Para Siswa

0 65

SEJAK covid-19 melanda, hingga kini para siswa SD, SMP, SMU, dan perguruan tinggi sebagian besar belajar via daring. Ketentuan tersebut sangat beralasan, yakni dalam rangka memutus mata rantai covid-19. Belajar via daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) sudah berlangsung hampir enam bulan lebih, dan infeksi virus Corona masih mengancam,dan para pelajar kini mulai “terpaksa” menjalankan rutinitas mereka, dengan tugas-tugas yang semakin berat.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang, Ahmad Zulinto pernah menyatakan,agar para siswa tidak perlu mengerjakan tugas-tugas dari sekolah yang terbilang berat. Sebab, pembelajaran jarak jauh tidak harus memberatkan para siswa, namun cara belajar tersebut harusnya dapat di tempuh dengan lebih mudah dengan memaksimalkan waktu belajar yang singkat.

Mungkin, statemen dari Kepala Dinas Pendidikan tersebut sangat rasional dan diterima para pembaca di media massa dan media sosial. Para orang tua kemudian mendukung sikap tersebut, hingga berita-berita tersebut sangat populer. Kenyataannya, pernyataan tersebut tidak direalisasikan dalam bentuk administrasi yang berupa himbauan, perintah, ataupun aturan yang berlaku bagi kepala sekolah dalam menetapkan sistem belajar via daring tersebut. Sehingga, masih banyak sekolah-sekolah yang melaksanakan belajar-mengajar dengan ketentuan sesuai aturan dan kebijakan dari sang guru.

Contohnya, para guru dan sekolah bersepakat untuk mengajar dengan menggunakan aplikasi via zoom. Ada lagi yang menggunakan aplikasi via Whatsapp, bahkan sebagian guru lainnya menggunakan aplikasi google meet. Ada juga sekolah-sekolah yang menggunakan aplikasi microsot Kaizala, dan lainnya.  Semua aplikasi tersebut dapat di unggah dan dapat di pergunakan para pelajar yang sudah kenal akrab dengan smartphone atau ponsel pintar.

Pertanyaannya, sebelum Covid-19 berlangsung apakah sekolah-sekolah memperbolehkan siswanya membawa dan menggunakan ponsel di dalam sekolah? Ternyata hampir seluruh sekolah melarang siswa membawa ponsel kesekolahnya. Meski perangkat komunikasi yang terbilang murah dan terjangkau, hanya sebagian kecil saja para siswa memiliki perangkat yang memadai untuk digunakan berkomunikasi dan bermain game.

Kini saat belajar via daring berlangsung, para pelajar “Dipaksa” untuk memiliki dan mampu menggunakan ponsel pintar semaksimal mungkin. Akibatnya, para pelajar yang sebelumnya tidak memiliki ponsel harus “memaksa” orang tuanya untuk membeli perangkat tersebut agar bisa bersekolah. Dan ternyata, harga paket internet lebih mahal daripada harga smartphone tersebut. Mungkin hanya sedikit orang tua yang mengeluh, namun masih banyak para siswa yang tidak bisa mengumpulkan tugasnya tepat waktu lantaran kehabisan paket internet.

Pada prinsipnya, PJJ mengajarkan pentingnya kemandirian bagi para siswa, untuk mengembangkan minat, bakat dan keseriusannya dalam belajar. Kemudian PJJ dituntut keluwesan untuk belajar, dengan tidak terikat ruang dan waktu, kemudian lewat PJJ juga siswa dituntut memahami hal-hal baru dari informasi terbarukan yang berkembang, dan harus ada kesesuaian dalam kebutuhan pribadi dan tuntutan atas kurikulum sekolah serta kesesuain keilmuan dari para siswa.

Kenyataannya lagi, kini tugas-tugas yang diterima oleh para siswa yang belajar via daring semakin berat. Para guru yang melek tekhnologi, akan menyaksikan berbagi informasi terbarukan di dunia maya. Para guru kemudian memberikan tugas dalam bentuk analisa informasi, atau analisa keilmuan pada para siswanya. Hal ini tidak akan masalah saat para siswa yang berlatar belakang keluarga berkecukupan, dan memiliki akses internet di rumahnya serta fasilitas komputer yang memadai. Mereka akan berkembang cepat dan akurat, saat mencari solusi atau problem solving atas tugas yang diberi oleh para gurunya.

Sayangnya, hal ini berlaku terbalik bagi sebagian besar para siswa yang belatar belakang keluarga ekonomi menengah kebawah. Mereka akan kesulitan, karena paket internet mereka terbatas. Hingga saat melakukan eksplorasi tugas sekolah, para siswa merasa keberatan dan tidak sanggup mengumpulkan tugas tersebut sesuai waktu yang ditentukan.

Seharusnya sekolah harus lebih bijaksana saat menyaksikan ketimpangan sosial tersebut. Dengan cara memberi keringanan tugas bagi para siswa yang dianggap kurang memiliki fasilitas, dan memberi waktu bagi mereka untuk mengumpulkan tugas secara manual. Selain itu, tidak memaksakan kepada para siswa agar dapat menyelesaikan tugas tersebut hingga membebani para siswa.

Khususnya untuk Dinas Pendidikan Kota Palembang, berbagai kebijakan terkait PJJ harus juga mempertimbangkan kemampuan para siswa dan para guru yang mengajar. Mungkin kedepan, Diknas dapat mengeluarkan kebijakan kurikulum khusus PJJ hingga proses belajar-mengajar dapat lebih efektif dan efisien.

Yang pada akhirnya, para siswa dan guru tidak lagi merasa tertekan atas pola pembelajaran via daring, yang seharusnya menjadi sarana rekreasi dan sarana belajar-mengajar yang akurat selama pandemi Covid-19. Wallahu’lam. (****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More