intens.news
Mitra Informasi

Reog Ponogoro: Kesenian Mistis Olah Kanuragan Nan Eksotik

0 231

SORE itu, hujan gerimis membasahi sebagian tanah bumi Sriwijaya. Awan mendung nan menghitam di barat langit, teriris lantunan suara serompet bercampur ketukan gendang menambah kesuraman suasana. Singo barong, tiba-tiba menggeram dan masuk ke dalam panggung. Topeng Kepala harimau berhiaskan bulu merak seberat 50 kilogram, dengan panjang sekitar 2,25 meter dan lebar sekitar 2,30 meter,  menari-hari menampakkan keangkeran si raja tega.

Singo barong atau disebut juga dadak merak, adalah karakter unggulan Reog Ponorogo. Perlambang kekuatan kanuragan dan mistis terlihat dari tariannya yang tanpa kesulitan mengangkat dan menggengam topeng singo barong hanya dengan gigi si penari. Tak jarang, Singo barong sengaja menjatuhkan diri sambil berguling-gulingan di lantai, dan kemudian Singo berdiri kembali tanpa kesulitan. Meski penonton mengetahui beratnya kepala singa yang digunakan oleh sang penari. Beberapa orang penonton sedikit bergidik dan mundur beberapa langkah, saat Singo barong mendekat, sangat terasa aura mistis menutupi tempat tersebut. Beberapa orang pemain lainnya, tampak kejang-kejang dan tak sadarkan diri.

Demikian suasana latihan kesenian Reog Ponorogo di sanggar seni Diajeng Kartika Sari (DKS) yang beralamat di Jalan Jepang Kelurahan Sako Kecamatan Sako Palembang. Meski Reog Ponorogo adalah kesenian dari Jawa Timur, namun peminatnya sangat banyak seperti halnya di Palembang.

Ketua Umum Paguyuban olah spiritual dan kebatinan Kusuma Sejati, Diajeng Kartika mengungkapkan, keberadaan kesenian reog ponorogo di Palembang tetap eksis, dan cukup banyak peminatnya.

“Kami sering mengisi berbagai acara di seluruh Kabupaten/kota di Sumsel,” kata Diajeng.

Menurut dia, masyarakat Sumsel khususnya keturunan jawa pasti mengetahui kesenian Reog Ponorogo. Dan jika mereka beraksi, biasanya warga lokal sangat tertarik untuk menonton pertunjukan tradisional asli Indonesia tersebut.

“Kami sering di tanggap atau di sewa oleh pemerintah. Namun yang paling banyak itu, kalau ada acara-acara sunatan, ulang tahun, dan pernikahan,” ujar dia.

Kesurupan

Suara serumpet belum juga reda, ritme gendang kian selaras dengan kempul dan kethuk, sesekali terdengar suara gong. Amarah Singo Barong belum juga reda, muncul para penari-penari cantik Jatilan yang menari gemulai dengan menunggangi kuda lumping. Singo Barong seakan tergoda dan mengikuti langkah tarian para jatilan kian menghangatkan suasana.

Suara tawa mulai membahana, saat lelaki berperawakan kurus dengan menggunakan topeng bujang Ganong turut menggoda para jatilan. Konflik tak terhindarkan, dengan marah Singo Barong menyerang bujang Ganong. Ternyata tidak semudah itu, bujang Ganong yang sakti, mempermainkan Singo Barong dan sesekali menggoda jatilan dengan gerakan lincah dan energiknya.

Foto(Kiki Nandance): Suasana latihan reog Ponorogo Palembang

Bau kemenyan semakin menggidikkan suasana. Muncul dua lelaki berpakaian hitam, berkumis dan jenggot tebal. Karakter Warok adalah lelaki sejati yang menguasai ilmu beladiri, kedigjayaan, dan memiliki ilmu kebatinan yang sangat tinggi.

Peragaan debus, aksi ilmu kebal, tahan api, hingga atraksi ekstrem lainnya membuat penonton ngeri dan menutup matanya.

Penonton yang cukup lemah, tiba-tiba saja kesurupan. Diikuti oleh beberapa pemain lainnya yang turut kerasukan, hingga membuat suasana akan riuh beraroma mistis. Pertolonganpun di lakukan, beberapa orang kemudian menyadarkan para pemain, dan penonton yang turut kesurupan.

“Hal ini biasa terjadi, dan sebenarnya tidak ada efek yang negatif. Karena pada dasarnya manusia terdiri dari tubuh dan ruh,” ungkap Diajeng.

Sejarah Kesenian Reog Ponorogo

Dalam beberapa literatur di sebutkan, kesenian Reog Ponorogo sangat berhubungan dengan pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Kerthabumi era kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-15 Masehi.

Kala itu, Ki Ageng Kutu marah karena pengaruh yang kuat dari pihak istri raja kerajaan Majapahit yang berasal dari Tionghoa.Ki Agng Kutu juga murka kepada rajanya sendiri yang dalam menjalankan pemerintahannya yang kurang arif serta banyak terjadi korupsi. Ia dapat memastikan bahwa kekuasaan dari kekuasaan kerajaan Majapahit akan segera berakhir.

Ki Ageng Kutu kemudian memutuskan untuk meninggalkan sang raja,  lalu mendirikan perguruan bela diri. Dia mengajarkan ilmu kekebalan diri, seni bela diri, dan ilmu kesempurnaan hidup. Dia juga bercita-cita membangun generasi penerus yang akan membangkitkan  kerajaan Majapahit yang mulai runtuh.

Foto(Kiki Nandance): Para penari Reog Ponorogo

Gerakan Ki Ageng Kutu bukan dengan cara melakukan pemberontakan berdarah, namun lebih pada aksi protes melalui ajang pertunjukan seni Reog Ponorogo, sebagai bentuk perlawanan lokal pada kekuasaan saat itu.

Dalam pertunjukan Reog di tampilkan Singo Barong kepala singa yang merupakan simbol dari Kertabumi. Yang pada bagian atasnya terdapat bulu merak menyerupai kipas yang raksasa perlambang pengaruh kuat kekuasaan Tionghoa pada masa itu.

Jatilan yang menunggangi kuda, merupakan simbol kekuatan dari pasukan Kerajaan Majapahit. Dan Warok adalah seorang pendekar yang memiliki kedigjayaan perlambang kekuatan utuh dari seorang manusia sejati. Sedangkan lelaki bertopeng bujang ganong, menyimbolkan diri Ki Ageng Kutu seorang terpelajar, kuat, dan cerdik.

Akibat kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu, Kerajaan Kertabumi menyerang perguruan Ki Ageng Kutu. Namun aksi tersebut dengan cepat di leraikan oleh para warok, akibatnya perguruan dilarang melanjutkan pengajarannya tentang warok. Namun, murid-murid Ki Ageng kutu tetap juga melanjutkan ajaran ini dengan sembunyi-sembunyi. Meskipun begitu, kesenian Reog tersebut dengan sendirinya masih diperbolehkan untuk acara pementasan, karena kesenian ini telah menjadi pertunjukan yang populer hingga saat ini.

Editor: Muhammad Uzair

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More