intens.news
Mitra Informasi

Saat Kita Bosan Dengan Corona

0 23

PERKEMBANGAN Covid-19 hingga kini belum juga reda, para penderita semakin banyak dan nyaris tidak bisa di tanggulangi secara signifikan. Pemerintah terus berupaya menekan angka penularan lewat kebijakan PSBB, mengubah gaya hidup masyarakat agar lebih bersih dengan program new normal, sampai pada pencarian vaksin anti Corona.

Tiga bulan lebih virus ini melanda seluruh dunia, laporan pemberitaan media massa tidak kunjung usai. Update berita Covid-19 tetap menjadi headline dari berbagai koran, media online, televisi, radio, dan media sosial.  Masyarakat sempat eforia dan ketakutan, namun seiring berjalan naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak bisa terbendung. Pasar tradisional dan mall yang dulunya sepi, mulai kembali ramai seriring meredanya kebijakan pemerintah yang melarang warga keluar rumah. Meski warga masih ramai menggunakan masker dan pelindung tubuh, namun “jaga jarak” mulai berkurang.

Imbasnya, kini sebagian masyarakat “tidak percaya” kebenaran penyakit corona yang dapat menggerogoti tubuh bahkan membunuh penderitanya. Hal ini terjadi karena banyaknya informasi hoax yang beredar. Pada awal kemunculan Corona, masyarakat dibuat terhenyak dan ketakutan. Namun kini, hal tersebut berubah total. Karena banyaknya asumsi yang berkembang tentang keberadaan vaksin Corona yang ternyata sudah ada dan sengaja tidak di sebar karena konspirasi elite global.

Akibat informasi hoax tersebut, masyarakat di buat sadar dan bertanya-tanya satu sama lain. Setelah tiga bulan lebih kemunculan Covid-19, dirinya masih tetap sehat wal afiat. Para pedagang di pasar tradisional yang setiap hari berjumpa, berkomunikasi dengan banyak orang, bersentuhan satu sama lain, bahkan tidak jarang ngobrol saling berdekatan dengan pembelinya tidak juga terkena penyakit Corona.

Satu hal yang kini berada di benak warga Palembang secara luas, yakni kalau sakit jangan kerumah sakit. Sebab, rumah sakit adalah sumber segala penyakit termasuk Covid-19 dan variannya. Kalau hanya sakit ringan, lebih baik di rumah saja dan berobat secara tradisional atau berobat dengan menggunakan obat warung.

Kebimbangan tersebut mungkin telah disadari oleh pemerintah daerah. Kondisi inilah yang mungkin menyebabkan pemerintah turut mengambil kebijakan untuk mengambil sikap preventif, agar penularan penyakit tersebut tidak membuat korban yang lebih banyak lagi. Alih-alih untuk memaksimalkan langkah preventif, kini pemerintah harus berurusan dengan anggaran Covid-19 yang sulit di cairkan. Entah, apakah dana tersebut memang belum di kucurkan atau sudah habis sebelum waktunya. Akibatnya bisa di lihat secara kasat mata, penanganan Covid-19 tidak bisa di lakukan secara maksimal.

Tidak ada maksud menyalahkan pemerintah, tapi kondisi ini seperti memberi pengaruh besar bagi kesehatan masyarakat secara luas.  Masyarakat yang bosan “takut” dengan virus Corona menjadi nekat dan tidak perduli lagi. Karena panggilan untuk pemenuhan kebutuhan hidup lebih besar daripada ancaman penyakit. Sedangkan pemerintah, terus bekerja keras untuk memutus mata rantai perkembangan penyakit tersebut.

Dilema sosial ini akan memberi dampak buruk dalam rangka meminimalisir penularan Covid-19, yang perkembangannya diprediksi akan terus berlangsung hingga akhir tahun 2020. Belum lagi dalam waktu dekat pemerintah mungkin akan melonggarkan sekolah dan kampus, untuk kembali memberlakukan sekolah secara normal. Jika Covid-19 belum juga ditemukan vaksinnya, mungkin sebaran virus itu akan semakin luas dan korban jiwa yang semakin besar tidak terhindarkan lagi.

Sayangnya, kini sebagian besar warga benar-benar telah bosan dan muak dengan informasi, berita, imbauan, bahkan malas menggunakan masker saat berjalan-jalan di tengah keramaian. Masyarakat sudah bosan menahan diri keluar rumah, Ibu rumah tangga lebih memilih belanja di pasar agar kebutuhan hidup keluarganya terpenuhi, para pekerja telah kembali ke rutinitasnya. Semua demi mencukupi kebutuhan dasar kehidupan manusia.

Bangkit dan melawan, mungkin sebuah pernyataan bodoh. Karena musuh utama adalah virus Corona tidak terlihat mata telanjang. Namun, bertahan dengan mengisolasi diri tanpa berbuat apapun, sama halnya dengan menanti kematian dalam kerugian. New Normal adalah solusi alternatif dalam bentuk slogan. Kenyataannya, new normal adalah kehidupan sehari-hari seperti tanpa ancaman penyakit Covid-19 yang bakal menulari atau tertular. Wallahu’alam. (***)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More