intens.news
Mitra Informasi

Sekolah Belum Mendidik Siswa Menjadi Pengusaha

0 39

Intensnews,PALEMBANG-Kementrian Pendidikan Nasional kini terus menggalakkan pembangunan pendidikan kewirausahaan kepada para pelajar. Selain memaksimalkan kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis kewirausahaan, pemerintah berupaya mengembangkan hal tersebut di seluruh sekolah sejak dini.

Meski kebijakan pembangunan kewirausahaan sudah dikeluarkan pemerintah sejak orde baru, namun hal itu belum berdampak signifikan. Buktinya, masih banyak para lulusan SMK dan SMA yang memiliki skill dan kemampuan khusus, tetapi belum bisa mengembangkannya menjadi bentuk usaha mandiri.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, DR. Yulia Trisamiha menilai, sebenarnya Kementrian Pendidikan telah melakukan berbagai terobosan dalam rangka membangun pendidikan berbasis kewirausahaan. Namun, program tersebut belum berjalan maksimal hingga produk SDM yang dihasilkan hanya para pekerja, dan bukan pengusaha.

“Kebanyakan sekolah bukan melahirkan pengusaha, tapi banyak melahirkan para pekerja atau pegawai saja. Ini kesalahan yang harus segera di benahi,” tegas Yulia.

Pengamat Pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, DR. Yulia Trisamiha

Dia mengungkapkan, dari hasil pengamatan di beberapa sekolah SMK, pendidikan kewirausahaan lebih dominan di ajarkan tentang bagaimana memproduksi suatu produk, kemudian menjualnya kepada masyarakat.

“Ini sudah benar dilakukan dari segi skill pemasaran produk. Namun, untuk bisa mencapai level pengusaha harus didukung para guru yang berpengalaman, atau para pengusaha yang sukses menjalankan bisnisnya,” kata Yulia.

Yulia menjelaskan, seharusnya untuk sampai pada tingkatan kewirausahaan maka sekolah tidak hanya mengajarkan peserta didik untuk memproduksi dan menjual produk itu saja, tetapi dapat mengembangkannya menjadi usaha yang memiliki brand dan berkelas.

“Ditingkatan ini tidak di ajarkan pada para siswa. Dan sekolah yang harus berinovasi, dengan membangun kerjasama dengan perusahaan, BUMD atau BUMN, dan para pengusaha sukses dengan brand mereka,” kata Yulia.

Sederhananya, sekolah tidak hanya merubah mainset para pelajar untuk berwirausaha, tapi juga mengubah mainset guru dan pengajar hingga mampu membangun para siswanya menjadi pengusaha dan bukan pekerja.

Senada pengamat pendidikan Palembang, Prof. Abdullah Idi. Menurut dia, selain sekolah maka lingkungan rumah juga menjadi pemacu lainnya para siswa untuk membangun jiwa kewirausahaannya.

“Lingkungan rumah tangga juga menjadi salah satu pemicu para siswa memiliki jiwa kewirausahaan. Seperti lingkungan keluarga Tionghoa yang sebagian besar adalah pedagang, karakter itu sudah terbentuk sejak dini,” kata Abdullah idi.

Sebab, untuk membangun jiwa kewirausahaan tidak sekedar teori saja tetapi di butuhkan praktek yang dilakukan secara terus-menerus.

“Makanya, para anak-anak pengusaha sukses mereka sejak kecil diajarkan untuk mandiri. Ini harusnya menjadi contoh pola pendidikan berbasis kewirausahaan,” tegas dia.

Karena itu, Abdullah Idi menilai, para pelajar selain mendapat pendidikan dan pengetahuan di sekolah, mereka juga harus mendapatkan praktek yang mendalam. Hingga terwujud para pelajar yang cerdas, berkarakter, dan mampu membangun kemandirian.

Guru Berwawasan Kewirausahaan

Wirausahawan di defenisikan sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan melihat, dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis; mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih sukses/meningkatkan pendapatan. Untuk mencapai tingkatan tersebut, maka para pendidik harus mampu membangun peserta didiknya hingga mencapai SDM yang berwawasan kewirausahaan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan.

Foto(Hasan): Kadisdik Sumsel Reza Fahlevi saat melihat berbagai produk kreatif buatan pelajar SMK

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan melalui Kasi Kurikulum, Awalludin mengungkapkan, Disdik Provinsi Sumsel terus berupaya mendorong peserta didik di tingkat SMK mendapat pengajaran kewirausahaan sejak diri, hingga terwujud generasi emas yang mandiri, berjiwa sosial, dan solutif. Disdik Sumsel juga mendorong para pengajar dan guru memiliki kompetensi kewirausahaan, hingga dapat mengajar para siswanya secara spesifik dan tidak sekedar teori.

“Untuk melahirkan seorang entrepreneur diperlukan juga sosok entrepreneur, yaitu para guru, para pendidik yang memastikan proses belajar-mengajar di sekolah kejuruan itu sudah memasukan konsep teacherpreneurship,” kata Awalludin kepada intensnews, Selasa (23/02/2021).

Teacherpreneurship ini adalah konsep di mana para guru mampu memberikan materi-materi terbaik dan berkualitas. Namun, juga memiliki waktu luang untuk bisa menginkubasi ide dari peserta didik.

“Guru harus mendorong jiwa kepemimpinan dalam setiap materi yang diberikan kepada peserta didik, karena anak-anak kita ini akan menjadi generasi yang membawa Indonesia ke arah lebih baik lagi. Kita harus pastikan lapangan kerja yang berkualitas diisi oleh putra dan putri bangsa, bukan untuk tenaga kerja asing,” ucap Awalludin

Senada dikatakan Kepala bidang SMA Disdik Sumsel, Masherdata Musa’i. Disdik mendorong  pelajar tingkat SMA/SMK untuk menjadi pengusaha mandiri yang memiliki produk yang berinovasi.  Caranya, kata dia, saat ini pihaknya hanya mendorong sekolah memanfaatkan lahan lingkungan sekolahnya hingga mampu menciptakan produk yang bermanfaat. Menurut dia, meski hal tersebut dalam tahap produksi produk dan belum pada tahapan mencapai proses kewirausahaan seperti dapat melakukan tata kelola usaha dan pemasaran.

Editor: Muhammad Uzair

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More