intens.news
Mitra Informasi

Sel Penuh, jadi Landasan Terdakwa Penggelapan Uang Tidak Ditahan

0 93

Intens.news, PALEMBANG – Debi Miranda karyawan administrasi di penerbit buku PT Duta yang ditetapkan sebagai terdakwa lantaran menggelapkan dana kantor sebesar Rp 16.5 juta hari ini didatangkan ke ruang sidang Pengadilan Negeri dengan agenda pembacaan nota keberatan atas dakwaan (eksepsi) oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Arif Budiman, Kamis (22/10/2020).

Dalam persidangan yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Toch Simanjuntak, terdakwa dilakukan penangguhan penahanan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan alasan Tahanan di Polrestabes Palembang tidak menerima karena kuota penuh.

Sehingga penangguhan tahanan terhadap terdakwa dilakukan dirumahnya yang diawasi oleh Ayahnya sendiri.

“Iya jadi kita awalnya sudah meminta untuk melakukan penahanan tapi pihak polres tidak menerima karena kuota sel penuh. Jadi yang menjadi walinya itu ayahnya sendiri,” ucapnya.

Ia juga menyatakan, pada sidang pembacaan jawaban eksepsi tadi, menurutnya hakim ketua Toch menunda dua minggu kedepan atas putusan eksepsi yang dibacakan JPU.

“Belum banyak yang bisa kita jelaskan karena masih nunggu putusan eksepsi dan hakim juga belum mengambil sikap atas penahanan terhadap terdakwa apa harus ke lapas polres atau tetap dikediamannya,” ucapnya.

Sementara saat persidangan berlangsung, Hakim Toch menyampaikan, kepada terdakwa bahwa pihaknya masih akan merundingkan penahanan terdakwa. Apabila belum ada pihaknya yang menghubungi untuk masa penahanan, hakim menayatakan terdakwa akan tetap menjadi tahanan kota yang diawasi oleh Ayahnya sendiri.

“Baiklah terdakwa saudara tinggal menunggu kabar kami ya pastinya tanggal 12 November terdakwa harus kembali ke ruang persidangan,” ucapnya.

Dengan demikan, sidang pun ditunda dua minggu kedepan dengan agenda putusan eksepsi dari majelis hakim.

Sementara saat dikonfirmasi kuasa hukum terdakwa Andri, belum dapat memberi tanggapan atas persidangan kliennya.

“Belum bisa kami tanggapi ya mbak karena ini masih baru nanti kalau udah masuk saksi baru kami tanggapi,” terangnya singkat.

Dalam dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ursula Dewi menyatakan bahwa uang tersebut seharusnya digunakan untuk pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan karywan PT Duta,  akan tetapi setelah menerima uang tersebut terdakwa tidak membayarkan uangnya ke BPJS Ketenagakerjaan melainkan dipakainya untuk kepentingan pribadi.

Bukan hanya itu dalam dakwaan Ursula juga menyebutkan bahwa terdakwa telah melakukan penggelapan selama 3 tahun berturut-turut. Yangmana kejadian bermula pada tahun 2018 dengan total keuangan yang digelapkan terdakwa dalam uang BPJS Ketenagakerjaan  Rp 4.626 ribu. Lalu pada tahun 2019 sebesar Rp 9.599 ribu. Dan pada bulan Februari 2020 lalu 2.343 ribu. Sehingga dari tiga tahun berturut-turut kerugian PT Duta tersebut ditotalkan menjadi Rp juta.

Selain menggelapkan dana BPJS Ketenagakerjaan, terdakwa juga diduga menggelapkan uang tagihan sekolah dari marketing PT Duta.  Kejadian ini bermula pada bulan Maret 2020, yang mana setiap uang tagihan yang diberi sekolah ke peneribit harus dibuatkan tanda terima bayaran antara marketing dan pelanggan.

Selanjutnya uang setoran tagihan marketing tersebut diserahkan kepada terdakwa yang saat itu menjabat sebagai staf administrasi untuk membuat surat tanda terima kasir dan bukti setor kas.setelah proses tersebut barulah uang tersebut disetorkan ke PT Duta Pusat di Bandung. Namun sejak tahun 2019 terdakwa tidak pernah menyetorkan uang tersebut sepenuhnya.

Dengan demikian atas perbuatannya terdakwa dikenakan pasal 372 KUHP Tentang Penggelapan dengan hukuman maksimal 7 Tahun penjara. Usai  pembacaan dakwaan tersebut, majelis hakim pun menunda persidangan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi.

Untuk diketahui terdakwa ditangkap pada bulan Februari 2020 di Jalan Kancil Putih Demang Lebar Daun oleh pihak Polrestabes Kota Palembang untuk diperiksa lebih lanjut atas perbuatannya tersebut.

Mengenai penuhnya kuota sel tahanan Polrestabes Palembang  wartawan intens masih menunggu jawaban dan konfirmasi pihak kepolisian.

Editor : Rian

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More