intens.news
Mitra Informasi

Senjata Api Yang Meresahkan

0 120

PEREDARAN senjata api ilegal di Provinsi Sumatera Selatan mulai mengkhawatirkan. Baru-baru ini polisi berhasil menangkap seorang warga asal Riau yang tertangkap memiliki senjata api rakitan jenis revolver. Selang beberapa hari kemudian warga Lorong Melati Jalan Abusamah Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang, di kejutkan dengan aksi percobaan pencurian yang mengancam korbannya dengan senjata api. Beruntung tidak ada yang terluka karena tembakan pelaku meleset, dan tidak mengenai warga yang mengejar pelaku.

Kondisi ini seharusnya menjadi catatan bagi kita semua, bagaimana senjata api ilegal semakin meresahkan. Entah dari mana orang-orang tersebut memperolehnya, apakah memesan kepada seseorang pandai besi? Atau memang ada oknum yang sengaja memproduksinya untuk mendapatkan keuntungan. Hampir setiap tahun Polda Sumsel melakukan pemusnahan senjata api ilegal. Sebut saja pada bulan Agustus 2020 lalu, sebanyak 336 unit senjata api yang terdiri dari 257 unit senpi laras panjang dan 79 unit senpi laras pendek, serta memusnahkan 107 butir amunisi.

Artinya, masih banyak masyarakat yang memiliki senjata api ilegal rakitan. Yang selama ini mereka gunakan untuk berburu di tengah hutan atau menjaga kebun dari serangan hama pengganggu. Sebut saja kecepek, senjata laras panjang tersebut sangat efektif untuk berburu babi hutan. Hanya dengan bubuk mesiu dan butiran besi yang di masukkan dalam senjata tersebut, maka peluru pecahan besi akan berhamburan saat ditembakkan. Demikian juga dengan senjata laras pendek, entah darimana mereka mendapat amunisi. Yang pasti, senpi rakitan laras pendek mampu menebakkan proyektil layaknya senjata api modern.

Beberapa wilayah di Sumsel seperti Ogan Komering Ilir (OKI) memang memiliki cukup banyak pandai besi. Bahkan pada tahun 2019, Polres OKI sempat menangkap seorang perakit senjata api di kawasan Dusun Penantian. Senpi yang di produksi jenis revolver dengan enam peluru, dan jika di lihat senpi tersebut sangat mirip dengan senjata api pabrik.

Kemampuan membuat senjata api tidak di miliki setiap orang. Apalagi jika seseorang tersebut belajar secara otodidak dan belajar dari video yang diakses lewat internet. Diantara kita mulai berasumsi, ini semua terjadi karena dampak negatif tekhnologi intenet hingga memberikan kesan buruk bagi pengetahuan. Sebenarnya, tidak ada yang perlu di persalahkan jika seseorang mampu membuat senjata api. Namun jika senjata api tersebut di perjual belikan secara bebas, kemudian di gunakan untuk kejahatan yang merugikan orang lain maka hal tersebut tidak dibenarkan baik secara hukum ataupun kemanusiaan.

Dampak buruk inilah yang harusnya kita semua sadari. Dan wajar saja jika pemerintah mengeluarkan Undang-undang darurat No.12 tahun 1951, yang mengancam kepemilikan senjata api ilegal dengan hukuman seumur hidup dan paling rendah 20 tahun penjara. Negara tidak main-main atas persoalan kepemilikan senjata api. Sebagai masyarakat kita harus bersikap preventif dengan meminimalisir kejahatan yang mungkin terjadi di kampung, desa, dan tempat tinggal kita.

Para polisi juga tidak pernah tinggal diam melakukan penertiban, melakukan razia senjata api ilegal, bahkan penggerebekan pelaku perakit senjata api. Kita sebagai warga hanya menginginkan kehidupan yang tenang, damai, dan tanpa konflik. Kita mendambakan kehidupan normal tanpa takut terhadap tindakan arogansi yang penuh konflik bahkan di warnai aksi tembakan senjata api. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More