intens.news
Mitra Informasi

Seragam Sekolah dan Nilai Kebangsaan

0 12

SKB Tiga menteri mengenai seragam sekolah menjadi isu hangat beberapa hari terakhir. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga turut mengkritik aturan tersebut. Satu sisi, ada benarnya Mendiknas mengatur hal tersebut, agar pemerintah daerah mengawasi penggunaan atribut keagamaan di sekolah-sekolah negeri. Hingga tidak terjadi unsur paksaan kepada pelajar yang berbeda agama, untuk menggunakan atribut agama lain.

Disisi lain berpendapat, atribut keagamaan juga hal penting dalam rangka pendidikan dan pembentukan karakter siswa. Hingga lewat pakaian yang mereka kenakan, minimal dapat mengajak para siswa untuk menyadari pentingnya diri dalam rangka meningkatkan pemahaman keagamaan yang membimbing pada kebajikan.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dari pemahaman-pemahaman tersebut. Baik mereka yang pro ataupun kontra atas kebijakan SKB Tiga Menteri tersebut. Semuanya berujung pada pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan, untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Indonesia yang berazazkan Pancasila, menjunjung tinggi Ketuhan Yang Maha Esa. Ketuhanan menjadi sila pertama dan sangat penting, hingga pemerintahpun mengatur bahwa hanya enam agama resmi di Indonesia. Dan tidak bisa di pungkiri Islam adalah agama dengan jumlah penganut terbesar di nusantara.

Mungkin beberapa orang berasumsi ada kecenderungan keberpihakan atau tendensius terhadap kepercayaan tertentu. Atau juga ada yang berpendapat, pemerintah sedang mengupayakan agar agama tertentu tidak lagi mendominasi sistem pendidikan di bumi Nusantara. Padahal, masalah agama merupakan sesuatu yang sangat sensitif untuk bicarakan. Termasuk SKB Tiga Menteri yang terdapat tulisan “seragam keagamaan”.  Masyarakat akan mencerna bahwa aturan tersebut ditujukan pada satu agama tertentu.

Penggunaan diksi dan kata yang tidak tepat akan selalu menjadi persoalan dan isu yang luas di negeri kita. Mungkin akan berujung pada isu SARA yang konsekuensinya sangat menakutkan. Berapa banyak lagi keluarga yang berduka, gara-gara menjadi korban fitnah dan isu yang tidak jelas kebenarannya.

Seragam keagamaan di pahami oleh masyarakat sebagai simbol dari keyakinan tertentu. Meski tidak ada yang salah dengan seragam tersebut. Misalkan peci atau kopiah. Ini adalah simbol nasional Indonesia yang siapa saja boleh menggunakannya. Kain sarung selalu identik dengan santri atau anak pesantren. Padahal, sarung juga di gunakan oleh masyarakat hindu bali. Sarung juga menjadi pakaian tradisional negeri Thailand dan India.  Apalagi baju muslim yang mirip dengan baju koko yang berasal dari Tiongkok.

Mengenai seragam sekolah, pada dasarnya tidak ada keharusan bagi sekolah untuk menetapkan penggunaan seragam keagamaan bagi para siswanya. Hanya saja inisiatif tersebut di lakukan, mengingat beberapa program pendidikan karakter yang memuat unsur pendidikan keagamaan di berlakukan di sekolah-sekolah. Misalnya jam 0, para siswa wajib mengikuti jam tersebut agar mereka memahami pentingnya menerapkan nilai keagamaan dalam kehidupan. Namun, sekolah tidak juga memaksakan kepada siswanya yang beragama lain untuk mengikuti jadwal tersebut.

Belajar dari negara maju, seragam sekolah hanya menjadi tanda dan bukan pakaian yang harus dikenakan sehari-hari. Asalkan sopan, maka siapa saja boleh mengenakan pakaian apapun termasuk mungkin seragam simbol keagamaan. Mungkin saja nanti, suatu hari pemerintah akan mengeluarkan aturan penghapusan seragam sekolah. Dan kita pun sulit membedakan antara siswa SMP,SMA, atau mahasiswa.

Mari kita junjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa, sebab nilai ketauhidan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjunjung tegaknya persatuan dalam perdamaian. Bukankah agama mengajak pada kebaikan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More