intens.news
Mitra Informasi

Simalakama

0 68

MULAI besok, sebagian dari kita segera mendapat menyuntikkan vaksinasi Covid-19. Bahkan Presiden Joko Widodo serta seluruh pejabat telah di suntik vaksin tersebut pagi tadi. Kini kita masih menunggu bagaimana reaksi vaksin tersebut, apakah akan memberi dampak positif atau negatif pada tubuh kita. 

Penyuntikan vaksin tahap pertama di Sumsel sendiri akan berlangsung besok, kamis (14/1/2021). Vaksi itu sendiri, rencananya akan menyasar 30.063 dosis yang disebar ke tujuh kabupaten dan kota seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Prabumulih dan Palembang. Dengan total 412 lokasi penyuntikan vaksin, di 341 puskesmas dan klinik, serta sebanyak 71 rumah sakit.

Kita seharusnya mengapresiasi langkah bijaksana dari Pemerintah untuk menanggulangi penyebaran covid-19 yang kian tidak terkendali. Buktinya, Covid-19 di Sumsel kini mencapai 12.280 kasus, dengan pasien aktif mencapai 1.567 orang. Jumlah warga yang sembuh mencapai 10.087 orang, sedangkan meninggal dunia ada 626 orang. Sedikitnya, 14 wilayah dinyatakan zona oranye atau penyebaran virus sedang, dan tiga wilayah zona kuning atau dengan status sebaran virus rendah.

Namun, suara-suara negatif masih tetap bermunculan di media sosial. Betapa tidak, cukup banyak sebaran berita miring bagi mereka yang terdampak setelah di suntik vaksin tersebut. Bahkan ada yang meninggal dunia setelah disuntik, pada sebelumnya orang tersebut sehat dan negatif dari virus mematikan itu.

Perbincangan di warung kopi, banyak yang menyatakan diri akan menolak jika di suntik vaksin asal dari negeri China tersebut. Entahlah, apakah karena produk buatan negara tersebut selama ini di anggap meragukan? padahal tidak ada kaitannya dengan obat vaksin yang di produksi oleh Sinovac Biotech yang merupakan perusahaan Intenasional yang selama ini memiliki dedikasi dalam dunia medis.

Pernyataan penolakan secara pribadi oleh warga sah-sah saja dilakukan. Karena setiap orang berhak untuk memutuskan atas hak diri mereka sendiri. Dan tentunya, apapun resiko yang dihadapi juga atas tanggungjawab sendiri.

Namun untuk diketahui, hal ini berbeda kasusnya jika wabah tersebut berdampak langsung pada manusia ke manusia lain. Bisa saja seseorang menolak untuk di vaksin, tetapi orang tersebut sangat beresiko tertular dan atau menularkan penyakit pada orang lainnya lagi. Dengan kata lain, gara-gara satu orang justru akan membahayakan orang lainnya.

Pemerintah Provinsi Sumsel, mungkin tidak akan mengeluarkan aturan sanksi berupa Perda bagi mereka yang menolak untuk di vaksin anti covid-19. Namun, tidak dengan Undang-undang yang berlaku. Pemerintah RI telah menetapkan undang-undang No.4 Tahun 1984 Tentang wabah penyakit menular, yang jika melanggar bisa dikenakan denda Rp1Juta dan atau kurungan 1 Tahun Penjara. Hal yang sama juga diatur dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dalam aturannya, bagi yang melanggar akan dikenakan penjara 1 tahun  dan atau denda Rp100Juta.

Sebaiknya kita semua tidak perlu khawatir dan tetap berfikir positif atas apa yang akan terjadi. Upaya yang dilakukan pemeritah adalah upaya maksimal untuk mempertahankan kesehatan masyarakat secara luas. Pemerintah juga telah mempertimbangkan sisi positif dan negatifnya, bahkan jika hal tersebut mungkin akan memberikan kerugikan bagi kesehatan masyarakat secara luas. Tinggal bagaimana sikap kita sebagai warga. Jika tetap menolak, tentu akan ada sanksi baik berupa hukuman atau denda. Semoga seluruh masyarakat Indonesia selalu sehat dan wabah virus Covid-19 ini segera berlalu dari negeri kita. Aamiiinn.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More