intens.news
Mitra Informasi

Sumsel Transisi Perubahan Iklim, Agustus – September Puncak Kemarau

0 5

Intens.news, PALEMBANG – Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), tahun 2021 ini masih dalam masa transisi dari kemarau ke musim hujan, hal itu membuat api masih mudah dipadamkan. Untuk puncak kemarau akan terjadi pada bulan Agustus-September.  

Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengatakan, pada masa perubahan iklim, pihaknya menilai perlu Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) agar pencegahan karhutla dapat maksimal. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel telah mengajukan rencana itu melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Status Sumsel juga telah dinaikkan ke Siaga Darurat Karhutla. TMC diharapkan segera dilakukan saat awal musim kemarau, karena kalau sudah masuk kemarau akan sulit dilakukan,” ujar Ansori, Jumat (28/5/2021).

Pada tahun ini, BPBD Sumsel telah memetakan delapan daerah rawan karhutla, menurun dari tahun 2019 sebanyak 10 daerah. Berdasarkan letak geografis, wilayah yang rawan tersebut adalah Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Muara Enim.

Kelimanya dianggap rawan karena memiliki lahan gambut yang luas. Sedangkan tiga daerah lain seperti Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), dan Ogan Komering Ulu (OKU), dianggap memiliki catatan sejarah kebakaran besar pada 2015.

“Sejauh ini sudah ada helikopter patroli milik BNPB yang standby memantau karhutla di Sumsel. Sedangkan untuk water bombing (WB) belum ada dan masih menunggu,” ujarnya.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Desindra Deddy Kurniawan, membenarkan pernyataan BPBD soal masa transisi dari kemarau ke hujan. Menurutnya, cuaca ekstrem akan kerap terjadi di Sumsel secara merata.

“Di masa transisi ini justru ada potensi cuaca ekstrem terjadi, potensi puting beliung dan hujan lebat. Barulah pertengahan Juni akan masuk musim kemarau. Diprediksi tahun ini akan terjadi kemarau normal,” jelas dia.

Sejauh ini beberapa kawasan di Sumsel sudah memasuki musim kemarau dengan berkurangnya intensitas curah hujan, antara 0 milimeter (mm) hingga 50 mm. Sedangkan beberapa wilayah lainnya juga masih memiliki curah hujan dengan intensitas menengah, sekitar 100 mm hingga 150 mm.

“Sampai saat ini hujan masih akan terus terjadi, barulah pada Juni Dasarian pertama 70 persen wilayah Sumsel memasuki kemarau,” terangnya.

Diketahui, sejauh ini telah terjadi dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar di Sumsel. Kebakaran pertama terjadi di pada Februari 2021 lalu, menghanguskan sembilan hektare (Ha) lahan gambut di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Kejadian kedua menghanguskan dua ha lahan mineral di Desa Talang Pangeran Ilir, Kecamatan Pemulutan Barat, Ogan Ilir. Kedua lokasi karhutla sejauh ini menjadi wilayah yang rawan setiap tahunnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More