intens.news
Mitra Informasi

Terkait Dugaan Arogansi, Husni Candra : Sebagai Advokat, Mengutamakan Etika yang Benar

0 134

Intens.news, Palembang – Permasalahan lahan tanah yang ada di Perumahan Melapuri Bahagia, Kenten, Banyuasin, kian memanas. Dimana Husni Candra selaku Kuasa Hukum keluarga mengatakan bahwa tanah tersebut merupakan hibah yang diberikannya kepada warga untuk jalan dan mushollah.

Menurut Husni, dalam permasalahan ini, adanya pemaksaan kehendak dari saudari RR. Dimana RR dikatakan mengaku memiliki lahan milik istrinya.

“Mengaku memiliki tanah dilahan miliki istri kami dimana tanah yang sudah kami wakafkan berupa musola dan jalan. Tiba-tiba kami datang karena ada telpon ada warga bernama pandi. “Kak tanah kamu dipagar”. Kemudian kami bilang jangan, kemudian kami datanglah ke lokasi. Saat itu kita datang secara baik-baik masak saat kita datang malah dimaki-maki kami bilang baik-baik tapi tetap saja dimaki,” ujarnya.

Husni mengatakan, sebagai advokat dia mengutamakan bagaimana etika advokat yang benar.

“Saya advokat dan saya tahu persis bagaimana caranya. Saya tidak mengadopsi cara preman. Saya sebagai advokat, sudah berapa kali untuk diajak bertemu baik-baik atau cari pengacara biar bisa bicara. Tapi saya tidak perna ditegur dan somasi, harusnya dikonfirmasi terlebih dahulu, dan saya dalam hal ini tidak mengatakan mereka salah tidak,” katanya.

Berkaitan dengan adanya informasi bahwa istrinya yang telah dilaporkan ke Bid Propam Polda Sumsel, Husni mempersilahkan awak media untuk konfirmasi ke pihak kepolisian.

“Kita akan mengikuti bagaimana proses hukum yang berlaku. Untuk istri kami tentunya jalur melalui Polda setidaknya bid humas polda sumsel,” katanya.

Disisi lain, Fandi selaku warga setempat mengatakan bahwa apa yang telah diinformasikan kepada awak media adalah tidak benar.

“Selaku warga saya beca disetiap media ada premanismenya, Itu tidak benar, kami semua ada rt 41 rw 07 perumahan puribahagia kenten, saya ditunjuk warga untuk menerima wakaf tanah itu. Kami warga bukan preman,” katanya.

Pandi mengatakan, Saat itu dia sedang menggali sumur, tiba-tiba ada sejumlah orang yang hendak memagar.

“Terus saya bertanya siapa yang suruh, katanya buk roku, kemudian saya bilang tunggu pak husni saja. Saat itu saya telpon pak husni candra dan disuruh stop dulu. Terus ada yang bilang waktu itu, “kamu belum tahu siapa saya” itulah yang memancing keributan. Mereka datang bawa pedang, linggis, gelam dan linggis dan mereka menajami gelam untuk memagar,” jelasnya.

Dalam permasalahan ini, sebelumnya diketahui, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Advokat / Pengacara Indonesia Sumatera Selatan (HAPI Sumsel), Saharudin, bersama tim mendatangi Polda Sumsel. Kedatangan mereka mempertanyakan terkait laporan kliennya yang menjadi korban dugaan penyerobotan lahan.

Ketika diwawancarai di Mapolda Sumsel, Kamis (21/10/2021), Saharudin mengatakan, pihaknya mendatangi Polda Sumsel untuk mempertanyakan sejauhmana proses laporan kliennya berjalan.

“Kami mengecek di unit mana yang menangani, karena smpai saat ini klien kami belum mendapat informasi. Hal ini sangat kami sayangkan, orang-orang paham hukum tentunya mengambil jalur hukum. Karena kita tidak mengadopsi azas premanisme,” ujar Sahar.

Sahar berharap, perkara ini dapat diproses secara objektif dan professional karena yang terlapor dalam perkara ini diduga merupakan oknum Pamen yang ada di Polda Sumsel dan oknum pengacara.

“Kami berharap ditangani secara objektif dan profesional. Karena setiap orang yang menyaksikan kejadian itu menyebut Allah Hu Akbar. Artinya ini butuh keseriusan,” ujarnya.

Diketahui, dalam laporannya RR melaporkan oknum tersebut seperti dalam UU nomor 1 tahun 1946  tentang KUHP Pasal 363 KHUP dan atau pasal 170 dan atau pasal 336 KUHP. Selain itu juga melapor ke Bid Propam yang tertuang dalam surat nomor STTLP/130/YAN25/x/2021/Yanduan.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More