intens.news
Mitra Informasi

Tiongkok Jadi Pasar Terbesar Ekspor Kelapa Sumsel

0 27

Intens.news, PALEMBANG – Selama pandemi COVID-19, ekspor buah kelapa utuh Sumsel tetap mengalami peningkatan. Pasalnya beberapa negara membutuhkan pasokan buah kelapa akibat diserang badai La Nina. Tiongkok menjadi negara ekspor terbesar produk kelapa Sumsel setelah sebelumnya Thailand sempat menolak produk kelapa yang ada.

“Saat ini tidak mengalami hambatan, justru permintaan semakin meningkat dari Tiongkok dan Vietnam, dengan persyaratan lebih lunak dibandingkan ekspor ke Thailand,” kata

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel, Rudi Arpian, Sabtu (21/11/2020).

Rudi menambahkan, Bumi Sriwijaya menjadi salah satu wilayah pengekspor buah kelapa yang cukup besar. Hanya saja selama ini hasil produk buah kelapa selalu dijual utuh lantaran hilirisasi yang kurang berkembang.

“Kendalanya pengusaha masih kesulitan untuk mendapatkan pasar yang menerima produk tersebut. Sehingga, sangat sedikit yang mau berinvestasi,” ungkapnya.

Total luasan lahan perkebunan kelapa di Sumsel mencapai 65.242 hektare (ha), dengan potensi produksi 57.570 ton kopra atau setara 230.280.000 butir/tahun. Untuk tahun 2018 tercatat nilai ekspor kelapa utuh Rp2,76 triliun dengan volume mencapai 128,21 juta kilogram serta frekuensi pengiriman sebanyak 886 kali.

Sedangkan di tahun 2019 meningkat tiga kali lipat mencapai Rp8,37 triliun dengan volume mencapai 233,76 juta kilogram di mana frekuensi pengiriman sebanyak 1.016 kali.

“Selama ini petani hanya berorientasi untuk mendapatkan uang dalam jumlah cepat. Sehingga pemanfaatan produknya hanya sebatas kelapa bulat saja,” jelas dia.

Padahal, dari kelapa banyak produk ekspor yang dapat menghasilkan nilai lebih, seperti sabut kelapa yang bisa diolah menjadi sabut kelapa, tali tambang, dan lain sebagainya.

Lalu, air kelapa yang bisa diolah menjadi produk nata de coco. Produk-produk ini jika diolah dan dijual sangat laku di pasaran internasional.

“Sayangnya, pabrik yang mengolah produk-produk itu masih sedikit di Sumsel. Baru ada sekitar satu pabrik yang mengolah sabut kelapa menjadi sabut kelapa,” jelas dia.

Menurut Rudi, pabrik olahan limbah kelapa ada di Kecamatan Teluk Payau, Kabupaten Banyuasin. Pabrik tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Perindustrian. Hanya saja, saat ini masih belum berproduksi lantaran tidak memiliki pasar yang jelas.

“Beberapa waktu lalu, sudah ada perusahaan di Sumsel yang bekerja sama dengan pabrik yang ada di Provinsi Lampung. Nantinya, mereka akan membangun pabrik sabut kelapa di Sumsel. Hanya saja, hasil produksinya masih harus dikirim ke sana Lampung untuk dijual,” tuturnya.

Pihaknya berharap hilirisasi produk kelapa dapat berkembang dan menemukan pasarnya, sehingga usaha industri kelapa meningkat. Usaha hilirisasi akan membantu petani dalam mendapatkan nilai ekonomi dari sabut ataupun air kelapanya serta produk turunan lainnya.

“Ya, kita berharap upaya hilirisasi industri ini bisa berjalan lancar dan memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan petani,” jelasnya.

Editor : Ridiansyah

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More