intens.news
Mitra Informasi
intens hari raya

Turut Menjaga Bumi

0 13

BEBERAPA terakhir bumi sepertinya semakin tidak bersahabat dengan manusia. Bencana tanah longsor terjadi di Desa Nelelamadike, Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (8/4/2021). Sedikitnya 84 orang dinyatakan tewas.

Sebenarnya Nusantara kita sangat sering terjadi bencana. Mulai dari gempa bumi, banjir bandang, kebakaran, angin, dan tanah longsor. Bahkan, berdasarkan dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sepanjang tahun 2021, terhitung sejak tanggal 1 Januari hingga 15 April, terdapat 1.125 bencana alam yang terjadi di Tanah Air.

Di Provinsi Sumatera Selatan, meski relatif aman dan tidak terjadi bencana yang mengancam jiwa manusia dengan jumlah banyak. Tapi beberapa bencana juga sering terjadi terjadi seperti longsor, dan karhutbunla. Dan wajar saja, jika menjelang musim kemarau pemerintah daerah akan beramai-ramai melaksanakan apel siaga bencana.

Sebenarnya, kita tidak seharusnya terlalu khawatir terhadap kebakaran hutan yang terjadi setiap tahunnya. Sebab, ada tradisi sebagian warga agar tanah yang akan ditanami tersebut lebih subur, syaratnya dibakar dahulu.  Dan hal itu terjadi bertahun-tahun, bahkan membakar lahan juga turut dilakukan perkebunan tebu saat panen.

Seiring berkembangnya industri perkebunan dan kehutanan, kegiatan bakar-membakar lahan yang selama ini dilakukan warga secara tradisional semakin bias. Sepetak lahan yang biasa di gunakan untuk menanam cabe dan sayur-mayur diperkirakan menjadi penyebab terbakarnya lahan hutan tanaman industri, yang lokasinya tidak berjauhan. Atau terbakarnya hutan lindung yang menjadi hutan adat, dan tidak boleh di ganggu oleh warga manapun.

Tragedi yang terjadi menjadi semakin bias. Kondisi ini menyebabkan kita mulai saling menyalahkan antara yang berkuasa dengan penguasa, warga dengan pendatang, bahkan dipicu oleh agama dan keyakinan. Pecahnya kekisruhan dan kerusuhan yang kemudian berujung pada konflik peperangan antar suku. Korban jiwa bisa saja melebihi bencana tanah longsor, atau bencana gempa bumi. Ketakutan yang ditimbulkan juga akan puluhan kali lipat dari bencana angin puting beliung.

Perang SARA ini masih terjadi di beberapa titik di wilayah kita yang berkonflik. Hampir tidak ada yang bisa kita lakukan, selain berdoa dan memohon kepada yang kuasa. Agar para saudara-saudara kita, tetap aman dan selamat dari konflik.

Bumi yang kita tempati ini mungkin akan menjadi ancaman di setiap jengkalnya, jika kita berjalan dengan angkuh dan sombong. Tanah mungkin merasa risih saat tapak kaki kita menginjak bongkahan, yang membuat kita terpeleset tanpa alasan yang jelas. Bahkan, terik matahari yang menghangatkan dan menumbuhkan kehidupan, membakar dan menimbulkan kanker.

Sebenarnya, jika menyadari keberadaan manusia di bumi sebagai khalifah, kita tidak lebih dari mahluk yang memiliki fikiran dan berusaha mengatur keseimbangan. Ekplorasi yang berlebihan terhadap batubara, emas, bahkan polusi yang ditimbulkan dari kendaraan kita menimbulkan konsekuensi. Akal yang menjadi anugerah harusnya tetap di utamakan, agar bumi kita tetap ramah untuk kita tempati. Wallahu’alam.

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More