intens.news
Mitra Informasi

Virus Corona dan Propaganda

0 813

Virus, Corona, dan Propaganda adalah tiga kata yang berbeda dan memiliki pemahaman makna yang berbeda pula. Virus berasal dari bahasa latin yang berarti racun atau cairan yang mematikan. Dalam istilah ilmu biologi, maka virus di defenisikan sebagai parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.

Corona berasal dari Bahasa latin yakni corona dan dalam bahasa Yunani di sebut korone yang bermakna mahkota atau lingkaran cahaya. Sedangkan Coronavirus, diperkenalkan oleh sejumlah ahli virologi dalam sebuah artikel berjudul “Coronaviruses” pada jurnal News and Views pada 1968. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa virus berbentuk bulat itu banyak ditemukan pada unggas dan tikus.

Sedangkan Propaganda adalah kata populer yang di pahami sebagai upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku.

Saat ini dunia tengah di hebohkan dengan kemunculan virus corona. Ratusan orang meninggal dunia, dan ribuan orang lainnya menderita sakit parah. Flu berat, demam panas yang tinggi, bahkan menghilangkan kesadaran penderitanya, membuat warga dunia merasa terancam.

Meski peristiwa ini terjadi di Wuhan Cina, yang jarak dan waktunya sangat jauh dari berbagai negeri, namun tidak menutup kemungkinan virus ini dapat menyebar ke seluruh dunia. Berbagai ahli medis dunia berkumpul untuk mencari serum yang dapat membantu para penderita. Saat ini, Virus Corona telak menjadi ancaman bagi “kehidupan” manusia.

Mungkin bagi sebagian masih merasa aman dan nyaman beraktifitas, karena kita yakin bahwa tempat kita tetap aman dan terlindung dari ancaman tersebut. Hal ini juga di perkuat upaya pemerintah menjaga berbagai pintu kedatangan warga asing ke Indonesia. Bahkan pemerintah juga tidak segan untuk mengevakuasi dan mengkarantina warga Indonesia yang pulang dari Wuhan.

Tiba-tiba saja, muncul berbagai video, gambar, dan pernyataan di media sosial (Medsos) yang menyatakan bahwa virus yang berbahaya ini telah menyerang warga Malaysia. Aparat medis dan Polisi setempat tidak tinggal diam, melakukan penyelidikan mengenai kabar yang beredar tersebut. Dan ternyata, hingga kini belum terbukti siaran yang tidak bertanggungjawab tersebut. Akhirnya, polisi menangkap empat pelaku penyebar berita hoax tersebut.

Tidak ketinggalan warga Indonesia. Seakan berlomba untuk mencari popularitas di dunia maya, sebaran hoax tentang corona menarik perhatian nitizen. Ada berita hoax yang menyatakan virus tersebut dapat menular melalui jaringan wifi, bahkan ada yang mengatakan, virus tersebut menular dari ponsel Cina. Luar biasa. Gara-gara hal tersebut, polisi kemudian menangkap warga Kalimantan karena turut menyebarkan berita bohong.

Mungkin, sebagian dari kita berasumsi virus ini adalah bentuk teguran Tuhan karena Maha kasih-Nya pada hamba-hambanya. Ada juga yang berasumsi bahwa virus Corona merupakan bentuk konspirasi dunia untuk mengurangi jumlah warga dunia. Ada pula yang beranggapan, Corona adalah bagian dari propaganda untuk memberi ketakutan pada dunia, di tengah panasnya politik yang sedang melanda Kawasan Asia, Timur Tengah, dan Amerika.

Sah saja kita berasumsi, namun sadar atau tidak kita pun telah terjangkit wabah “ketakutan” yang berlebihan atas peristiwa virus Corona tersebut. Propaganda yang mungkin secara teoritis kita memahami secara defenisi dan maknakini meracuni diri dan pikiran kita. Wabah yang sedang terjadi pada kita bukan di sebabkan oleh virus corona, tapi efek negatifnya yang mendominasi.

Sadar atau tidak, “Ketakutan” tanpa alasan yang timbul tersebut dapat meresahkan masyarakat secara luas. Ketakutan tanpa alasan tersebut, dapat menimbulkan dampak sosial dan politik yang berujung pada kemelut suasana sosial. Dampak negatif inilah yang jika tidak segera di antisipasi, dapat menimbulkan kekacauan sosial, yang mungkin “Disengaja” oleh oknum tertentu untuk memanfaatkan situasi.

Tidak bermaksud berfikiran negatif, tapi upaya preventif lebih utama daripada mengatasi sesuatu yang yang sedang terjadi. Bertindak dengan melakukan pencegahan, lebih baik daripada mengobati penyakit yang menggerogoti. Dan berdiam diri bukan jawaban atas berbagai ancaman yang tengah melanda.

Kita sebagai masyarakat tidak perlu takut dan saling menakuti atas bencana virus Corona. Jika bukan ahlinya, tidak perlu berkomentar atau menshare berbagai opini yang tidak jelas ujung dan pangkalnya di media sosial. Apalagi menyebarkan gosip yang tidak jelas siapa dan orang mana yang mengirim berbagai pernyataan dan berita hoax. Mari kita memahami berbagai upaya “propaganda” yang sedang berkembang, hingga tidak menjadi korban kesalahan orang lain.(****)

Anda mungkin juga berminat

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More